Wirausaha

Karena Selalu Ada Teknik Quilt Terbaru

Ahad, 23 October 2016 05:00 WIB Penulis: Her/M-1

MI/ADAM DWI

DI dunia quilt Tanah Air, nama Nisa Hariadi, 47, sudah dikenal luas. Perempuan yang mempelajari seni tersebut sejak 1997 itu mulai memasarkan karyanya sendiri 2005 silam.

Seni quilt yang menggabung-gabungkan kain dengan ukuran dan potongan tertentu untuk membentuk motif unik tidaklah sederhana. Apalagi di sentuhan akhirnya, quilt itu hanya bisa diselesaikan dengan jahit jelujur menggunakan tangan. Biasanya satu potong quilt untuk hiasan dinding atau selimut baru selesai dikerjakan dalam sebulan. Karena itu, tak mengherankan jika selembar karya quilt yang ukurannya di bawah 2,5 meter biasa dihargai Rp6 juta. Semakin besar, tentu makin mahal harganya.

Tiga tahun setelah usahanya berjalan, Nisa akhirnya membuka kelas quilting di rumahnya sendiri di Jalan Cipete Raya, Jakarta. "Soalnya banyak sekali permintaan untuk buka kelas," ungkapnya ketika ditemui Media Indonesia, Selasa (23/8).
Selasa pagi itu, sedang ada Irma dan Sri Handayani, dua ibu yang setia menjadi muridnya beberapa tahun belakangan. "Saya ikut kelas ini karena hobi. Ada kepuasan tiap melihat hasil karya sendiri di rumah," ujar Sri.

Demikian pula dengan Irma yang sebelumnya menekuni bisnis jahit pakaian. Kebosanan mendorongnya mencoba hal baru dan karena ingin belajar quilting, dia sampai menelepon Kedutaan Besar Jepang untuk mencari kursus seni tersebut.

Teknik baru

Kini dia tak bosan mengikuti kelas quilting di Nisa the Art of Quilting. "Kreativitas Ibu Nisa ini tanpa batas, selalu ada aja hal baru yang dia buat. Jadi, tidak bosan," aku perempuan yang juga mempelajari pembuatan tas dengan teknik quilting dan mulai memasarkan karyanya. Meski bisnis quilt lumayan menghasilkan, Nisa mengaku tidak menyesal telah membuka kursus untuk membagikan keahliannya tersebut. Kelas-kelas tersebut membuatnya mengenal orang dari berbagai kalangan dan membuka peluangnya untuk mempelajari hal baru juga.

Belakangan, dia juga turut membentuk komunitas quilting sehingga para pelaku usaha dan murid berjejaring di komunitas tersebut. "Ini jadi menopang bisnis saya juga, orang makin kenal dengan usaha saya dan tak jarang jadi banyak pesanan karena pertemanan dari kursus dan komunitas," ujar Nisa.

Dia melanjutkan, "Kalau pesanan barang, itu kan tidak selalu ada. Seringnya musiman juga seperti sajadah quilt yang jelang Lebaran baru banyak pesanan. Tapi kalau kelas, selalu ada saja murid yang mau belajar," sebutnya menjelaskan prospek usaha jasa mengajar keterampilan.

Hingga kini, tak kurang dari 450 orang pernah mengikuti kelas quilting di tempat Nisa. Banyak dari mereka kembali mengikuti kursus ketika kelasnya menawarkan teknik atau motif baru. Seperti Irma dan Sri yang kali itu datang demi belajar quilting motif ayam. "Kami sudah minta diajari bikin ayam dari lama, baru dia buka kelas sekarang," ungkap Sri.

Tiga tingkat kelas

Ada tiga tingkatan kelas yang dibuka Nisa, yakni dasar, intermediate, dan advance. Untuk kelas dasar sebanyak 7 kali pertemuan, peserta harus membayar Rp1,9 juta. Mereka akan dikenalkan dengan teknik pembuatan patchwork dan applique dengan motif sederhana.

Untuk kelas intermediate, tekniknya sedikit lebih rumit, diajarkan dalam delapan kali pertemuan. Biayanya kursus tingkat itu Rp2,1 juta. Baik kelas dasar maupun intermediate bersifat paket, peserta akan diberi quilting kit dengan sejumlah perlengkapan dasar dan bahan. Kelas advance berbeda, peserta membawa bahan masing-masing seperti cutter, mat, dan ruler. Satu materi diajarkan dalam 3-4 kali pertemuan. Setiap pertemuannya dihargai Rp300 ribu. Biasanya peserta kelas advance tertarik pada motif atau teknik yang hendak diajarkan.

Besar keuntungan dari membuka kursus belajar quilt, menurut Nisa, bisa 50% dari usaha menjual quilt jadi. "Tapi lebih banyak keuntungan yang tidak bisa dihitung, seperti jaringan dan reputasi," tegasnya.

Bisnis memacu belajar

Baginya, usaha membuat kursus juga mendorongnya untuk mempelajari hal baru. Nisa yang dulu belajar quilt di Amerika sering mendatangi festival quilt di berbagai negara. Dengan berbekal pengetahuan dan teknik baru, dia bisa berkreasi dan menambah variasi di kelasnya.

Dengan begitu, dia pun tidak pernah kehilangan ide dan tidak merasa tersaingi dengan tempat kursus quilt yang belakangan mulai makin menjamur. "Saya tidak merasa tersaingi karena moto saya bukan semata bisnis, melainkan juga mencerdaskan ibu-ibu agar bisa mendapat tambahan rumah tangga. Prinsipnya berbagi ilmu," katanya. Ia menambahkan, kalau membuka kursus, baiknya orang jangan hanya berorientasi bisnis.

Ia meyakini kunci sukses berwirausaha terletak pada ketekunan. "Kalau sudah menemukan hobi yang benar-benar cocok dengan kita dan ingin dijadikan bisnis, usahakan terus diikuti dan jangan berhenti di tengah jalan. Lalu cari teman dan perkumpulan untuk terus terangsang menggali ilmu baru," sarannya.

Komentar