Wirausaha

Kursus Menghias Kue Premium

Ahad, 23 October 2016 04:45 WIB Penulis: Hera Khaerani

MI/ADAM DWI

Rona semringah terpancar di wajah murid-murid Sugar World Academy, Jakarta Selatan. Sabtu (6/8) sore itu, mereka baru merampungkan kelas mendekor kue. Dengan penuh kebanggaan, mereka mengangkut kue masing-masing dengan dua tangan dan membawa itu pulang.

Ketika Media Indonesia datang ke sana dua pekan berikutnya (20/8), materi dekorasi kuenya sudah berbeda. Hari itu diajarkan teknik melukis di atas kue. Dengan menekuni kue masing-masing, murid yang memilih ikut kelas itu pun larut melukis kue masing-masing. Sesekali chef Dina yang mengajar kelas itu berkeliling membenarkan kekeliruan muridnya.

Meski ada banyak kursus membuat kue, tidak semua menawarkan pengalaman dipandu intensif seperti itu. Kebanyakan malah hanya menampilkan demo membuat kue, sementara peserta hanya menyaksikan cara pembuatannya. "Kita inginnya memastikan mereka saat pulang nanti bakal bisa membuatnya sendiri," kata Dewi Santri Hasan, 50, pemilik Sugar World Academy.

Sejak kecil, dapur memang selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi Dewi. Saking sukanya ke dapur, sang ibu malah justru merasa terganggu. Alhasil, sejak usia 12 tahun kalau putrinya itu libur sekolah, ibunya akan mengguntingkan iklan kursus memasak, memberinya uang Rp5.000, lalu menyuruhnya pergi mengikuti kursus tersebut. "Sengaja biar tidak ganggu dia di dapur," kenangnya sambil tertawa. Ia menambahkan, kebanyakan teman sekelasnya dalam kursus dulu biasanya tante-tante.

Hobi itu tidak pernah bisa dihilangkannya sekalipun ketika dewasa, ia mulai disibukkan pekerjaan di perhotelan. Demikian pula ketika ia terpaksa berhenti bekerja dan banting setir meneruskan usaha baja milik ayahnya yang saat itu sedang sakit. Berbagai kursus membuat kue diikutinya baik kue modern maupun tradisional Indonesia. Tak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri.

Berjumpa sang guru

Dalam salah satu pencarian ilmu itulah Dewi bertemu dengan Handi Mulyana, pakar dekor kue asal Indonesia yang terkenal di Australia dan berbagai belahan dunia karena kemampuannya membuat kue berstruktur. Dari ruang kelas, pertemanan mereka berlanjut. Bahkan Handi yang memberi Dewi inspirasi untuk membuat tempat kursus membuat kue. Saat ini chef satu itu pun menjadi pengajar langganan di Sugar World Academy, setidaknya setahun dua kali.

Sugar World Academy yang berdiri sejak 2014rutin mendatangkan guru dari negara-negara lain. Selain itu, ada guru lokal yang secara rutin mengajar. Dewi punya perhatian khusus terhadap kue tradisional lantaran ingin melestarikannya. Karena itu, ia buka juga kelas kue jenis itu seperti kue lapis premium, lapis surabaya, dan kue kering. Meski diniatkan untuk menjadi tempat orang Indonesia mendalami dunia kue, kelas pertamanya justru didominasi orang asing. Banyak ekspatriat memilih belajar membuat kue di sana karena untuk ke Indonesia ongkosnya murah, pun halnya biaya kursus dan biaya hidupnya.

Premium

Dua tahun berjalan, tak kurang 1.200 murid pernah belajar di sana. Diakui Dewi, belajar di tempat mereka lebih mahal ketimbang tempat lain, yakni Rp2 juta ke atas per orang/sesi. Untuk kelas guru tamu orang asing, biaya bisa dua kali lipatnya karena mereka harus menyediakan tiket dan akomodasi. Padahal, di tempat lain mungkin bisa Rp500 ribu saja. Itu disebabkan murid yang datang dengan tangan kosong ke Sugar World Academy diberi semua bahannya, diajari dari nol, lalu pulang dengan membawa kue hasil kreasi mereka sendiri.

Konsep yang ditawarkan di Sugar World Academy itu didasari pengalamannya sendiri bolak-balik mengikuti berbagai kursus yang tak semuanya berkenan di hatinya. Bagi Dewi, dia mendirikan tempat itu sebagai rencana pensiunnya, sesuatu yang memang sesuai dengan nurani dan kecintaannya. Dalam menjalankan bisnis yang menawarkan jasa mengajar keahlian begitu, dia tak sekadar mencari keuntungan material. Meski demikian, dia mengakui bisnis itu lumayan menguntungkan.

Padahal, lantaran keseriusannya, Dewi sering juga mengirim guru-guru tetapnya untuk mengikuti kursus baik di dalam maupun luar negeri. "Kami biayai biar mereka bisa upgrade pengetahuan," jelasnya.

Selektif memilih guru

Ibu beranak satu yang terbilang perfeksionis itu juga sangat selektif. Tidak sembarang chef asing bakal diundangnya mengajar di tempatnya. Dia mencari yang bagus membuat kue dan bisa mengajar dengan baik karena tidak semua chef mampu mengajar.

Agar lebih yakin, sering Dewi sampai harus terbang ke luar negeri dan mengikuti kelas chef terkait sebelum memutuskan mengundang untuk mengajar. "Saya cukup selektif," akunya.

Ketika membuka rahasia dalam kemampuannya mengundang chef asing tanpa membuat peserta kelas keberatan dalam membayar, Dewi mengaku dia berkolaborasi dengan sekolah kue lain di regional Asia-Pasifik. Jadi, andai ada satu chef yang akan diundang, kehadiran itu bisa ditawarkan ke sekolah lainnya dan nantinya ongkos tiket pesawat bisa dibagi tiga karena sekalian.

Jaringan itu takkan bisa terbuka untuknya andai dia sendiri bukan penyuka kue yang gemar ikut kursus di berbagai negara. Dari kelas-kelas itulah jaringannya terbuka.

Saat ini, Dewi masih menjalani one man show di Sugar World Academy. Mulai akomodasi pengajar, penerimaan pendaftaran, cek pembayaran, daftar peserta, cetak sertifikat, pesan bahan kue, hingga pitching guru. Hal itu menjadi kendala ketika banyak tawaran dari kota dan negara lain untuk membuka waralaba. "Saya tidak yakin mereka bisa lakukan dengan standar kualitas yang sama, nantinya malah bisa merusak reputasi Sugar World Academy," ujarnya.

Baginya, kesuksesan menjalani bisnis yang menawarkan jasa mengajar keahlian bisa diraih kalau betul-betul dijiwai. "Kalau betul-betul mencintai, harus bersedia kerja keras sampai sukses," simpulnya. (M-1)

Komentar