PIGURA

Invisible Hands

Ahad, 23 October 2016 00:45 WIB Penulis: Ono Sarwono

AYEM mendengar pernyataan adem tim sukses tiga pasangan calon gubernur/wakil gubernur dalam pilkada DKI Jakarta. Dalam acara Mata Najwa di Metro TV, pekan lalu, mereka tegas menyatakan tidak akan melakukan black campaign (kampanye hitam). Tidak akan pula menggunakan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) untuk menyerang (menjatuhkan) jago lawan demi memenangkan gacoannya.

Dalam berbagai kesempatan lain, mereka juga bersemangat menggelorakan komitmen simpatik tersebut. Inilah sikap kedewasaan berpolitik. Bagaimanapun, persaingan dengan cara-cara miring, selain tidak elok, juga akan melukai jati diri kita sendiri. Apalagi, hal itu bisa mengancam persatuan dan keutuhan bangsa. Akan tetapi, janji-janji tersebut harus dibuktikan. Mesti diejawantahkan dalam segala tataran sehingga tidak hanya berkelana pada jagat omongan. Konteks dengan ini semua wajib waspada. Jangan sampai muncul invisible hands (tangan-tangan siluman) bergentayangan yang mengaduk-aduk kerukunan serta mengadu domba di antara kita.

Fitrah kita sebagai bangsa majemuk jangan diratapi sebagai titik-titik keringkihan, tetapi itu justru merupakan karunia yang mesti dibangunkan sebagai simpul kekuatan guna meneguhkan sekaligus membumikan semboyan luhur Bhinneka Tunggal Ika.

Kerukunan runtuh

Contoh tidak adanya kewaspadaan terhadap invisible hands yang mengakibatkan kefatalan terjadi di Negara Astina dalam cerita wayang. Semula, Astina yang diberkahi kerukunan dan kedamaian akhirnya berantakan akibat ada 'tangan-tangan siluman' yang menjamah. Bahkan ujungnya terjadi peperangan antaranak bangsa hingga ludes.

Sosok invisible hands yang merusak Astina itu bernama Suman alias Sengkuni. Di tangannya, Kurawa dan Pandawa, bersaudara sepupu, dimainkan hingga akhirnya mereka bermusuhan. Lalu, di padang kurusetra mereka baku bunuh dalam pertempuran selama 18 hari.

Sengkuni sesungguhnya bukan warga pribumi Astina. Kisah awal ia hinggap di negara besar dan kuncara itu karena mengintili kakaknya, Dewi Gendari, yang dipersunting Drestarastra, putra sulung Raja Astina Prabu Kresnadwipayana. Sengkuni dan Gendari ialah putra dan putri Prabu Suwala, raja Negara Plasajenar.

Bibit licik Sengkuni bersemai tatkala Kresnadwipayana lengser keprabon (turun dari singgasana raja) dan menyerahkan kekuasaan kepada Pandudewanata, adik Drestarastra. Sesuai dengan paugeran (aturan negara), mestinya Drestarastra yang menggantikan ayahnya. Namun, ia menolak karena merasa tidak mampu melaksanakan tugas negara karena pancaindranya tidak sempurna. Ia meminta Pandu yang meneruskan estafet kepemimpinan di Astina.
Ketika Kresnadwipayana melantik Pandu menjadi penguasa baru, tidak ada yang menolak, apalagi menentang. Semua sentana dalem (kerabat raja) dan nayaka praja menyambut dengan sukacita.

Rakyat Astina juga saiyeg saika kapti (kompak) mendukung kepemimpinan Pandu. Raja-raja negara jajahan pun mengelu dan mangayubagja (menyambut dengan senang) atas terpilihnya Pandu sebagai pemimpin.

Namun, tanpa diduga, Sengkuni yang berada di ring satu kekuasaan diam-diam memainkan aksinya. Atas kehendak Gendari, Sengkuni mengobrak-abrik norma dan tatanan dengan tujuan kekuasaan Astina dalam genggaman keponakannya, Kurawa. Keluarga Kurawa, yang terdiri dari seratus orang, merupakan anak Drestarastra-Gendari.
Taktik awal Sengkuni ialah melenyapkan Pandu. Caranya dengan mengadu domba Pandu dengan muridnya, Raja Pringgondani Prabu Tremboko. Padahal, bangunan silaturahim mereka sangat erat. Akan tetapi, dengan kelihaian Sengkuni, keduanya terjebak dalam peperangan sengit hingga akhirnya mereka sama-sama gugur.

Setelah Pandu meninggal, aturannya takhta Astina jatuh ke tangan anak-anaknya (Pandawa) sebagai ahli waris. Namun, karena keturunan Pandu-Kunti/Madrim (Puntadewa, Bratasena, Permadi, Tangsen, dan Pinten) pada saat itu belum dewasa, untuk sementara kendali pemerintahan negara dipegang Drestarastra.

Pada momen inilah Sengkuni kembali mencacah-cacah ketenteraman. Siang malam ia meracuni Kurawa agar membenci Pandawa. Nasihat rucah yang ia tanamkan pada hati dan otak semua keponakannya ialah, jika Pandawa masih ada di dunia, Kurawa tidak akan makan kenyang alias sengsara.

Padahal, persaudaraan Pandawa dengan Kurawa ketika itu baik sekali, rukun. Mereka lahir dan menikmati masa kecil bersama-sama di istana. Pandu pun sayang kepada Kurawa. Begitu juga Drestrarastra kepada Pandawa.

Ketika tiba waktunya Drestarastra mengembalikan kekuasaan Astina kepada Pandawa, Sengkuni merancang skenario keji. Malam hari sebelum upacara penyerahan, Pandawa yang diinapkan di rumah gala-gala (mudah terbakar) dibakar durjana suruhan Sengkuni. Targetnya, Pandawa dan ibunya, Kunti, lebur jadi abu. Namun, kodratnya Kunti dan Pandawa lolos dari maut, mereka sehat segar bugar.

Upaya lain untuk menistakan Pandawa ialah ajakan main dadu yang penuh tipu muslihat. Dari permainan itu, Sengkuni berhasil melucuti kekayaan Pandawa hingga istana Indraprastha pun lepas. Yang tersisa tinggal sehelai pakaian yang mereka kenakan masing-masing.

Bukan itu saja, karena kalah dalam permainan itu dan sesuai dengan kesepakatan, Pandawa harus menjalani hidup di Hutan Kamiyaka selama 12 tahun. Setelah tuntas, Pandawa masih harus melakoni penyamaran selama 1 tahun. Bila gagal, Pandawa mesti menjalani hukuman dari awal. Itu semua taktik Sengkuni dengan target Pandawa sirna. Akan tetapi, lagi-lagi, dewa masih melindungi Pandawa sehingga mereka kalis dari bencana.

Masih banyak cara Sengkuni dengan tujuan melenyapkan Pandawa. Namun, semua upayanya selalu gagal. Kezaliman Kurawa akhirnya dipuncaki dengan perang Bharatayuda. Pungkasannya, Pandawa unggul, sedangkan Kurawa tumpas.

Pemimpin bermutu

Hikmah mendasar kisah tersebut ialah bangsa Astina teledor terhadap adanya invisible hands yang mencabik-cabik kerukunan dan persatuan bangsa. Tidak bisa dimungkiri, itu muncul dilatarbelakangi kekuasaan. Pada akhirnya, komitmen sentana dalem, nayaka praja, dan rakyat untuk menjaga kerukunan buyar akibat gerakan 'infiltran' yang disimbolkan pada diri Sengkuni.
Belajar dari sana, para pendukung calon gubernur/wakil gubernur dalam pilkada Ibu Kota tidak lalu berhenti setelah pasang janji untuk tidak berkampanye hitam dan tidak neka-neka dengan isu SARA. Mereka, dan bangsa ini, harus terus eling dan waspada. Jangan sampai bangsa diacak-acak oleh 'orang luar' yang sesunggguhnya 'orang dalam'.

Kita sungguh berharap kompetisi di Ibu Kota dan 100 pilkada lainnya di seluruh Indonesia, secara serentak pada 15 Februari 2017, dapat berlangsung dalam kerukunan dan kedamaian. Pilkada bukan segala-galanya, jadikanlah itu sarana memilih pemimpin bermutu, pemimpin yang mampu mengantarkan rakyat mengenyam kesejahteraan dan ketenteraman. (M-4)

Komentar