Kemenkominfo Beri Anugerah Komunikasi Indonesia

Kamis, 13 October 2016 23:58 WIB Penulis: Lina Herlina

Dok.MIcom

KEMENTERIAN Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) menggelar Anugerah Komunikasi Indonesia (AKI) 2016. Pemberian penghargaan AKI ini merupakan yang kedua kalinya.

Pada AKI 2016 ini, ada dua kategori penerima penghargaan, yaitu pegiat komunikasi publik dan lembaga komunikasi publik. Untuk pegiat diberikan kepada empat orang penerima penghargaan, sementara untuk lembaga diberikan kepada tiga penerima.

Empat pegiat itu terpilih untuk kategori penggiat komunikasi publik bidang komunikasi sosial, bidang komunikasi perdamaian, bidang komunikasi pendidikan, dan bidang komunikasi kebangsaan.

Untuk tiga lembaga penerima AKI 2016, yaitu pada kategori Lembaga Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Sosial, Bidang Literasi Media, dan Bidang Komunikasi Pemberdayaan.

Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo, Rosita Niken Widyastuti, menjelaskan, pemberian penghargaan ini sangat penting, lantaran komunikasi merupakan interaksi seseorang untuk menyampaikan pesan. Proses tersebut akan memberi manfaat, jika pesannya informatif, edukatif, dan layak, serta disampaikan secara benar.

"Saat ini, kemajuan teknologi komunikasi dan informatika, tidak serta merta membuat masyarakat menjadi pandai dalam melakukan aktivitas komunikasi. Terbukti, adanya fenomena sosial di masyarakat yang menyebar informasi untuk menghasilkan konflik. Itu terjadi karena tidak
berimbangnya informasi," jelas Rosita.

Mereka yang menerima penghargaan tersebut, lanjut Rosita, baik yang perorangan atau lembaga, merupakan orang atau lembaga terpilih yang mampu menyampaikan pesan positif, dan memberi manfaat, inspirasi, serta kegiatan komunikasi lainnya, bagi orang dan lingkungan di sekitarnya.

"Jadi, AKI ini, merupakan stimulus untuk membangkitkan semangat diseminasi informasi yang cerdas dan berkualitas melalui media di ruang publik. Tujuan utamanya juga, bisa berimplementasi agar stabilitas sosial terjaga," lanjut Rosita.

Ia juga menjelaskan, AKI 2016 ini bisa menyadarkan, meningkatkan, mengajak, meningkatkan partispasi masyarakat, akan pentingnya memproduksi informasi dan memanfaatkan media publik secara etis dan berkualitas. Serta menjadikan komunikasi media publik Indonesia beretika dan berkualitas.

Sementara itu, Ketua Tim Juri AKI 2016 Prof Sasa Djuarsa, yang merupakan seorang akademisi menambahkan, AKI kali ini mengambil tema 'Komunikasi Cerdas dan Mencerahkan', yang menganut tujuh prinsip, yaitu informatif, bermanfaat, inspiratif, inovatif, edukatif, etis, dan
partisipatif.

"Para penerima AKI 2016 ini, terbagi dari Sabang sampai Merauke. Yang mencakup seluruh lapisan masyarakat, tergantung segmen demografi, segmen geografi, dan segmen psikografi," kata Prof Sasa.

Para penerima penghargaan tersebut tidak asal langsung jadi penerima. Ada riset yang dilakukan selama enam bulan di lima kota, yaitu Bandung-Jabar, Pontianak-Kalbar, Banda Aceh-Aceh, Makassar-Sulsel, dan Denpasar-Bali.

Penjurian pun berlangsung terbuka. Dan dewan juri berasal dari tokoh media, akademisi komunikasi, pengamat media serta praktisi komunikasi.

Setelah dilakukan penjurian, maka ditentukanlah penerima penghargaan AKI 2016, dari pegiat yaitu Edi Fadhil dari Pontianak untuk kategori Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Sosial, Prof Yusny Saby dari Banda Aceh untuk kategori bidang komunikasi perdamaian, Prof Hendra Gunawan dari Bandung, untuk kategori bidang komunikasi pendidikan dan Romses Ohee dari Papua, untuk komunikasi kebangsaan.

Sedangkan untuk lembaga, tiga penerima AKI 2016 adalah Kelompok Informasi Masyarakat Mekarjaya, dari Bandung, untuk kategori komunikasi publik bidang komunikasi sosial, kemudian Ruang Antara dari Makassar untuk kategori bidang literasi media, serta yang terakhir Sloka Institute dari Denpasar dengan kategori bidang komunikasi pemberdayaan. (OL-4)

Komentar