Humaniora

Kebudayaan Dasar Pembangunan

Jum'at, 14 October 2016 04:20 WIB Penulis: Putri Rosmalia Octaviyani

ANTARA/Wira Suryantala

PERHELATAN World Culture Forum 2016 di Bali telah berakhir dengan menghasilkan draf kesepakatan tentang komitmen menjadikan kebudayaan sebagai salah satu dasar utama pembangunan yang berkelanjutan.

Lebih dari 1.300 peserta dari 63 negara ikut menandatangani komitmen tersebut.

Selanjutanya, naskah deklarasi akan segera diserahkan ke Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) dan PBB sebagai acuan pedoman penyertaan unsur kebudayaan dalam pembangunan berkelanjutan bagi negara-negara anggota.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid mengatakan penetapan kesepakatan deklarasi bukan hal mudah.

Namun, komitmen seluruh negara sangat jelas dalam upaya penyelamatan kebudayaan.

"Dengan ini diharapkan, budaya yang selama ini sebenanarnya fundamental tetapi masih kerap terlewatkan dapat memiliki tempat signifikan dalam pembangunan berkelanjutan," ungkap Hilmar dalam pembacaan hasil simposium internasional kebudayaan WCF, di Nusa Dua, Bali, kemarin.

Pada kesempatan sama, Direktur Kantor UNESCO Jakarta Shahbaz Khan mengatakan dukungan penuh akan diberikan bagi Indonesia selaku inisiator WCF untuk membawa hasil deklarasi tersebut ke UNESCO dan PBB.

Hal itu, menurutnya, sangat penting dan berpeluang besar dapat diterima sebagai dasar pembahasan unsur-unsur kebudayaan di dunia.

"Menjaga harmoni dan keselarasan dalam kehidupan bermasyarakat merupakan salah satu masalah dan tantangan paling besar di dunia. Kita harus memastikan interkultural dapat terwujud," ujar Khan.

Draf hasil pertemuan WCF 2016 menghasilkan 10 poin utama yang mengangkat tema budaya sebagai pedoman pembangunan berkelanjutan. Salah satu poin utamanya ialah mendukung target SDGs dengan pendekatan budaya.

"Ditargetkan, akhir tahun ini draf kesepakatan dari ini sudah sampai ke PBB untuk dapat mereka pelajari dan pertimbangkan sebagai dokumen dunia," ungkap Staf Ahli Kemendikbud Ananto Kusuma Seta.

Hulu pembangunan

Sebelumnya, saat membuka WCF 2016, Megawati Soekarnoputri yang mewakili Presiden Joko Widodo menyampaikan tradisi dan budaya setiap bangsa dapat membentuk jati diri bangsa.

"Terlebih dalam arus deras modernisasi, globalisasi, dan pasar bebas. Bangkitnya kebudayaan dapat membawa pencerahan sekaligus gelombang perubahan yang berperikemanusiaan, penuh solidaritas, serta berkeadilan sosial yang berbasis penghargaan terhadap alam dan ekosistem," ujarnya.

Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova melalui video conference mengatakan selama beberapa dekade, peran kebudayaan telah ditinggalkan.

"Namun, tidak lama lagi, UNESCO akan meluncurkan laporan global mengenai budaya dan pembangunan daerah yang berkelanjutan untuk mengintegrasikan budaya ke dalam kebijakan pembangunan dearah di setiap tingkat," paparnya.

Mendikbud Muhadjir Effendy juga menyampaikan WCF dirancang untuk membahas dan menempatkan kebudayaan sebagai hulu dalam pembangunan.

"Kita akan bersama-sama mendorong pengarusutamaan kebudayaan dalam pembangunan dengan menempatkan pertimbangan kebudayaan menjadi hulu dari keseluruhan proses pembangunan," tuturnya. (Pro/H-3)

Komentar