Investigasi

Revitalisasi Bernilai Tinggi

Senin, 10 October 2016 06:43 WIB Penulis: Ami/Mhk/T-1

MI/Galih Pradipta

REKLAMASI di sejumlah wilayah, termasuk pantai utara Jakarta, akan banyak manfaatnya. Berbagai isu yang menjadi perhatian publik terkait dengan reklamasi sesungguhnya bisa diselesaikan dengan rekayasa teknik yang baik.

“Reklamasi tidak keliru. Justru ini akan dapat memberikan banyak manfaat dan bisa dikelola dengan baik,” papar Prof Dr Emil Salim, mantan menteri lingkungan hidup, seusai diskusi publik di Komisi Pemberantasan Korupsi pada 4 Oktober lalu.

Menurut Emil, pengembangan kawasan Jakarta Utara sangat dibutuhkan untuk menyongsong visi Indonesia 2045 yang telah digagas pemerintah sejak era Presiden Soeharto pada 1995. Langkah itu penting untuk dilaksanakan mulai sekarang karena pengembangan kawasan baru memerlukan waktu panjang.

Reklamasi juga diperlukan lantaran harga tanah di Jakarta terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika disi­nergikan dengan proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD), pengembangan pantai utara Jakarta akan menyelesaikan berbagai persoalan ekonomi dan sosial. Itu termasuk persoalan penyediaan air bersih dan penanggulangan banjir rob yang akan menjadi ancaman Jakarta dalam beberapa tahun ke depan.

“Rencana reklamasi bukanlah barang baru. Saat saya menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Presiden 2013, rek­lamasi juga sudah dikaji secara mendalam. Akhir bulan lalu saya juga sudah bertemu Presiden Joko Widodo terkait dengan kajian reklamasi tersebut dan saat ini masih menunggu respons beliau,” kata dia.
Proyek reklamasi laut utara Jakarta merupakan bagian dari revitalisasi yang diarahkan untuk memberikan nilai tambah dari berbagai aspek terutama lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya.

Hal itu ditegaskan pakar kelautan Institut Pertanian Bogor Dietriech G Bengen. “Nilai tambahnya dari aspek sosial dan ekonomi seperti kebutuhan lahan untuk aktivitas ekonomi, tetapi juga reklamasi untuk memperbaiki lingkungan dari kerusakan,” bebernya.

Menurut Bengen, reklamasi sudah dilakukan pemerintah di berbagai daerah. Dia mencontohkan Pulau Nipah di Batam yang merupakan pulau terluar. Pulau itu mengalami kerusakan sehingga dilakukan reklamasi meski tidak terjadi kerusakan lingkungan di sekitarnya.

“Jika tidak dibenahi (reklamasi), pulau tersebut bisa hilang. Jadi, untuk menghindari kerusakan dari dasar teritorium perlu diperbaiki melalui reklamasi. Jadi, reklamasi sebenarnya bagian dari revitalisasi lingkungan. Selain itu, juga bisa dilakukan perbaikan infrastruktur terkait dengan dampak sosial ekonominya,” terangnya.
Bengen yang juga pernah masuk tim rencana reklamasi pulau beberapa tahun lalu menuturkan reklamasi harus dilakukan secara terpadu sehingga berdampak positif bagi lingkungan sosial dan ekonomi.

“Nelayan tidak boleh dihilangkan. Mereka harus mendapat akses. Kalau tadinya tidak bagus mendapatkan akses melaut dan ikannya, melalui reklamasi, (kemudahan akses dan hasil melaut) justru menjadi nilai tambah,” imbuhnya.

Bengen mengingatkan reklamasi pernah dilakukan di Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan. Karena laut tercemar oleh sampah dan terabaikan, pemerintah setempat melakukan reklamasi yang berdampak pada tingginya investasi serta pertambahan 70% ruang publik.

“Dari reklamasi itu, untuk ruang publiknya 70% dan tidak ada masalah. Setelah ada reklamasi, investasi menjadi besar. Tidak ada pembangunan yang tidak ada dampaknya. Hanya saja dampak positifnya harus lebih besar dari dampak negatifnya. Reklamasi bagian dari pengelolaan karena ada pemanfaatan. Jika tidak ada pemanfaatan, tentu tidak perlu ada pengelolaan,” tandas Bengen.

Di pihak lain, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pu­djiastuti mengutip arahan Presiden menyatakan reklamasi harus sesuai dengan aturan, tidak merugikan stakeholder, dan tidak merusak lingkungan.

Namun, ia sepakat bahwa Jakarta sebagai ibu kota negara punya fungsi sangat strategis. “Reklamasi di Teluk Jakarta bisa dilakukan dengan tidak menimbulkan kerugian bagi ekosistem, stakeholder lain, dan nelayan,” tandasnya. (Ami/Mhk/T-1)

Komentar