Investigasi

Jangan Kambing Hitamkan Lingkungan

Senin, 10 October 2016 06:34 WIB Penulis: Sru/T-1

Reklamasi menjadi kebutuhan untuk Ibu Kota. Jembatan menuju pulau reklamasi C dan D, Jakarta, Rabu (11/5). -- MI/Galih Pradipta

REKLAMASI pantai utara Jakarta menjadi kebutuhan mendesak untuk kelangsungan Ibu Kota. Masifnya pembangunan dan aktivitas ekonomi di tanah seluas 661,5 kilometer persegi ini menciptakan ancaman yang serius seperti turunnya muka tanah dan naiknya muka air laut.

Dalam kajian yang sudah dilakukan tim ahli lingkungan, setiap tahunnya tanah di Jakarta turun 10-12 cm serta air laut naik 5-6 mm. Ancaman itulah yang menjadi dasar reklamasi untuk segera dilakukan.

Pakar lingkungan Universitas Indonesia, Firdaus Ali, menuturkan ancaman hilangnya daratan Jakarta semakin nyata bahkan bisa dipastikan dalam 30 tahun ke depan.

“Reklamasi menjadi kebutuhan untuk Ibu Kota, tapi belum tentu kebutuhan untuk kota lainnya. Kenapa, pertama terkait dengan daya tampung dan lingkungan atau ruang yang tersisa. Dengan jumlah penduduk 13,6 juta jiwa, aktivitas bebannya ada di Jakarta. Artinya dalam kondisi seperti ini, nantinya pinggir laut sudah ada di kawasan Semanggi,” paparnya, pekan lalu.

Jika dicermati lebih jauh, tidak tersedia­nya pengolahan limbah serta jumlah ruang terbuka hijau di Jakarta, yang hanya 9,99% jauh di bawah batas minimum 30%, menambah buruk pengelolaan lingkungan.

Pemanfaatan ruang laut dengan reklamasi menjadi langkah tepat untuk melakukan restorasi laut utara Jakarta yang sudah tercemar limbah cair, padat, maupun yang mengalir dari 13 sungai.

“Teluk Jakarta sudah 60 tahun menerima beban dari 13 sungai yang membawa limbah cair, padat, bahkan B3 (bahan berbahaya dan beracun) dari industri. Sampai saat ini kita tidak punya pengelolaan limbah seperti Singapura. Restorasi Teluk Jakarta dengan reklamasi ialah solusi. Tidak ada pilihan lain,” jelas Firdaus.

Reklamasi yang bertujuan memperbaiki lingkungan laut menjadi kewajiban bagi pengembang yang harus dilakukan secara berkesinambungan. Hal itu harus dilihat secara utuh sehingga tidak mengambing­hitamkan dugaan perusakan lingkungan secara permanen.

“Seperti yang dikatakan dampak lingkungan akan terjadi karena mengaduk-aduk dasar laut yang tercemar, itu hanya sementara. Karena jika itu terjadi secara permanen, tanpa memperbaiki lingkung­an, mana mungkin investasi ada di sana. Artinya, lingkungan harus secara serius diperbaiki dan dijaga dengan amanat restorasi,” tegasnya.

Firdaus juga menekankan masyarakat melihat secara seimbang reklamasi. Selain perbaikan dari rusaknya lingkungan laut Jakarta, reklamasi akan mengembalikan areal publik baru yang lebih baik.

Dalam kajian, semua sungai yang bermuara di Teluk Jakarta diperkirakan tidak bisa mengalir lagi karena muka air laut sudah tinggi pada 2040. “Jangan melihat reklamasi dari satu sisi saja. Memang reklamasi menghilangkan area pantai publik, tapi kita punya pantai publik yang baru.”

Ancaman naiknya air laut, menurut Firdaus Ali, semakin dekat dan harus dijawab segera. “Kita tidak bisa mengurangi beban tanah yang turun, tapi bisa merekayasa air laut,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia mengemukakan reklamasi dan pendirian giant sea wall (tanggul raksasa) akan memberikan pasokan kebutuhan air tawar dan ruang publik terutama untuk nelayan, serta menambah pendapatan pajak pemerintah dari mahalnya harga tanah.

Di sisi lain, meningkatnya kualitas wilayah di bagian utara berpotensi untuk meredistribusi sebaran penduduk Jakarta dari daerah-daerah resapan air. Misalnya, penduduk wilayah selatan Jakarta ke wilayah yang tingkat kepadatan penduduknya relatif lebih rendah, dalam hal ini di wilayah utara Jakarta.

Reklamasi merupakan suatu keniscayaan. “Kita dapat belajar dari keberhasilan reklamasi di Teluk Tokyo, Osaka, Shanghai, Dubai, Singapura, dan lain-lain. Reklamasi bisa menjadi solusi pengembangan ruang dengan menitikberatkan pada fungsi dan rekayasa lingkungan yang berkelanjutan,” tandas Firdaus.

Dengan melihat pembangunan DKI Jakarta yang saat ini diarahkan ke barat, timur, dan utara, akan butuh pengembangan sekaligus optimalisasi pemanfaatan ruang, dalam hal ini Teluk Jakarta.

Keseluruhan lahan yang nantinya terbentuk akan berupa pulau-pulau baru di lingkungan Teluk Jakarta yang direncanakan mencapai sekitar 5.200 hektare. Pulau tersebut akan menjadi ikon Kota Metropolitan Jakarta berbasiskan daya dukung dan daya tampung lingkungan, khususnya terhadap badan air yang merupakan amenities kota-kota maju dan modern.

Pulau-pulau baru hasil reklamasi dirancang menjadi bagian dari rencana pengelolaan lingkungan terpadu dan berkelanjutan. Kawasan Teluk Jakarta akan menjadi etalase Indonesia dalam upaya penanganan permasalahan lingkungan perkotaan pinggir pantai yang terpadu sehingga menunjukkan pembangunan metropolitan yang berkelanjutan serta mampu mengantisipasi tantangan peradab­an ke depan.

Jika direncanakan dan dilaksanakan dengan baik dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, menurut Firdaus Ali, reklamasi dapat menghasilkan ruang binaan baru dari hasil rekayasa dan juga menciptakan kawasan water front city modern yang menyatukan aspek kelautan/bahari yang ramah lingkungan. (Sru/T-1)

Komentar