Eksekutif

Melecut Diri, Menolak Kemiskinan

Senin, 3 October 2016 06:13 WIB Penulis: Hera Khaerani

DOK. THE SURAKARTA HERITAGE HOTEL

BAJU pengantin ialah barang berharga bagi sebagian besar perempuan.

Di hari pernikahan, baju itulah yang menyempurnakan penampilan sehingga sang pengantin tampil laksana ratu sehari.

Saking istimewanya, tak jarang perempuan memilih terus menyimpan baju momen istimewa itu meski tahu itu tak kan pernah digunakan kembali.

Namun, Imelda Sundoro atau yang lebih dikenal sebagai Imelda Sundoro berbeda.

Gaun dengan petticoat sepanjang 4 meter yang dibelikan maminya untuk hari pernikahan justru dipotong-potong tangannya sendiri.

"Saat saya nikah, mami cuma bisa beri saya baju dengan petticoat panjang itu, saya potong-potong dan dijual," kisah perempuan yang masih tampak bugar dan lincah di usianya yang kini sudah menginjak 73 tahun itu.

Kesuksesannya sekarang sebagai empunya Sun Motor Group jelas tidak terjadi dalam semalam.

Imelda yang menikah dengan Sundoro Hosea ketika berusia 21 tahun memulai segala sesuatunya dari nol.

Usaha konveksi ialah bisnis pertamanya setelah ia menikah.

Kebanyakan produk baby set.

Ia berbeda dengan konveksi lain yang bermodal kain-kain yang dibeli dari pusat tekstil atau pasar.

Ia justru hanya bermodal potongan gaun pengantinnya. Dari situlah, segalanya dimulai.

Media Indonesia secara khusus mewawancarainya di The Royal Heritage Surakarta pada 26 Agustus silam.

Hotel bintang lima yang pernah mendapatkan rekor Muri sebagai hotel dengan dekorasi batik terbanyak itu merupakan salah satu dari sederetan hotel miliknya yang tersebar di berbagai kota.

Imelda sempat berkuliah untuk mendalami ilmu ekonomi di Universitas Gadjah Mada, tetapi tidak ia tuntaskan lantaran ia memilih menikah sebelum tamat.

Padahal, dia masuk ke perguruan tinggi tersebut tanpa tes berkat prestasinya sebagai bintang pelajar di Jawa Tengah.

Kelihaian berbisnis dipelajarinya secara autodidak dengan bekal kegigihan.

"Saya sepertinya menurunkan sifat papi yang dulu juga segala usaha dikerjakan. Dia lahir di Tiongkok dan ke Indonesia pas umur belasan tahun," tuturnya.

Toko kelontong, jasa pengiriman uang ke Tiongkok, toko emas, jualan teh, dan kertas hanya segelintir dari jenis usaha yang digeluti papinya.

Saking berjuangnya, tutur Imelda, ada kalanya beliau harus menginap di Stasiun Balapan untuk menunggu kiriman barang.

Sementara itu, maminya sebelum menikah ialah seorang guru bahasa Mandarin.

Ketika usia Imelda 9 tahun, sang papi wafat. Kehilangan tulang punggung keluarga sontak membuat kondisi mereka berbeda.

Memang masih ada toko kelontong yang bisa dijaga ibunya untuk memastikan mereka sekeluarga bisa makan, tetapi kondisinya tetap berat.

"Adikku waktu itu ada yang baru empat bulan umurnya," terang sulung dari tujuh bersaudara itu soal betapa berat tanggungan ibunya dulu.

Mereka bertujuh terpaksa disebar dan dititipkan ke saudara-saudara di berbagai daerah.

Ada yang tinggal di kota, ada yang di kampung.

Imelda yang dititipkan ke saudara di Malang merasa cukup beruntung karena pengalaman itu.

"Di Malang saya bisa kenal banyak orang. Jadi, wawasan saya terbuka," simpulnya soal salah satu pengalaman yang menunjang kariernya kini.

Jujur ialah yang utama

Meski tak memiliki banyak mesin jahit, Imelda mampu menjalankan bisnis konveksi, bahkan hingga lintas kota.

Caranya, ia memberikan pekerjaan ke ibu-ibu di kampung. Saking pesatnya usaha itu, banyak ibu rumah tangga mengantre untuk mendapat pekerjaan darinya.

Dari keuntungan konveksi itu, Imelda merambah ke berbagai jenis usaha, termasuk jual beli mobil bekas.

"Segala hal kami coba, dagang beras, penyewaan truk, jual kedelai, jual arang, wis komplet lah," sebutnya.

Pengalamannya pernah hidup susah, diakui Imelda, membakar semangatnya untuk berwirausaha.

"Aku tidak mau miskin, jadi akunya lebih aktif," ujarnya sembari tertawa.

Dari jual beli mobil bekas, usahanya berkembang bertahap menjadi subdiler, diler, dan seterusnya.

Kini perusahaan Sun Motor Group yang didirikan sejak 1974 itu menjadi perusahaan otomotif dan properti besar di Indonesia.

Ketika kerusuhan 1998 pecah, Imelda sekeluarga sempat terimbas. Bukan hanya karena keturunan Tionghoa, dia dituding sebagai antek pengusaha tertentu.

Banyak diler mobil dan rumahnya dibakar massa. Di tengah krisis seperti itu, dia tidak lepas tanggung jawab atas utang-utang yang perlu dilunasi.

Karena itulah, ketika krisis berlalu, bisnis otomotifnya terus dipercaya.

"Aku sudah teruji, bahkan di saat masa susah kehilangan banyak karena semua dibakar, aku tetap jujur lunasi utang," ungkapnya soal pentingnya kejujuran dalam berbisnis.

Terus berekspansi

Banting setir dari bisnis otomotif ke properti ialah strategi diversifikasi usaha berikutnya.

Keuntungan dari bisnis otomotif disalurkan ke investasi properti, mulai pembelian tanah, pembangunan hotel, hingga mal.

"Aku mau menambah diversifikasi pekerjaan asal tidak mengganggu yang lama," timbangnya.

Karena itu, dalam usaha properti, Imelda menggandeng perusahaan pengembang.

Untuk hotelnya, selain dengan Accor Hotels, dia memercayakan pengelolaannya ke sejumlah perusahaan lain.

Di sisi lain, Imelda yang mengajari anak-anaknya untuk meneruskan usaha keluarga itu menyiapkan keragaman bisnis demi mereka juga.

"Anak kan sifatnya beda-beda, tidak semua cocok di otomotif," sebutnya.

Saat ini empat putra dan putri keluarga Sundoro semua terjun mengelola berbagi lini bisnis di Sun Motor Group.

Pada 2010, saat suaminya tutup usia, Imelda tidak terpuruk.

Perempuan yang memang senang bekerja itu malah makin getol mengembangkan usaha.

"Setelah suami tidak ada, bisa fokus di bisnis. Dulu suami lima tahun sakit dan sering harus ditemani bergantian di rumah sakit," jelas penerima Special Award for Entrepreneurship Spirit dari Ernst & Young pada 2008 tersebut.

Usianya memang tidak lagi muda. Namun, bagi Imelda, tiada ada kata pensiun dalam berusaha.

Jika tidak sedang sibuk mengurusi berbagai bisnisnya, Imelda yang tergolong perfeksionis dan memiliki selera seni itu kerap melancong.

Tak hanya pelesir, perjalanan semacam itu biasa ia manfaatkan untuk berburu elemen dekoratif atau ide baru untuk menghias hotel-hotelnya.

Tidak mengherankan kebanyakan hotel Imelda memiliki sentuhan yang amat khas dan personal.

Saking teliti dan mengurusi segalanya sendiri, Imelda bahkan bisa menyadari bila ada furnitur yang berpindah posisi di hotel-hotelnya.

Lantas, apa yang kini paling membuat Imelda, sang pengusaha sukses, bahagia?

"Ketika bisa menolong orang yang betul-betul membutuhkan pertolongan, itu aku paling bahagia," jawabnya.

(E-1)

-------------------------------

BIODATA

Nama: Imelda Tio alias Imelda Sundoro

Tempat, tanggal lahir: Surakarta, 2 Mei 1943

Suami: Alm Sundoro Hosea

Orangtua: Koo Tjang dan Tio Fee Swie

Jabatan: Pemilik dan Presiden Direktur Sun Motor Group

Komentar