Jejak Hijau

Jernihkan Air dengan Ampas Kopi

Sabtu, 1 October 2016 06:00 WIB Penulis: Wnd

DOK. AMERICAN CHEMICAL SOCIETY

PARA penggemar kopi kini jangan lagi membuang ampas kopi begitu saja.

Ampas kopi dapat digunakan sebagai penyaring air berbagai cemaran logam berbahaya, salah satunya merkuri.

Penelitian penggunaan ampas kopi ke dalam busa penyaring air dilakukan tim riset di Amerika Serikat.

Hasil penelitian itu telah diterbitkan di situs jurnal American Chemical Society (ACS) Sustainable Chemistry & Engineering, Rabu (21/9).

"Sejauh ini percobaan menunjukkan bubuk kopi dapat menyingkirkan air ion logam berat. Namun, diperlukan langkah tambahan untuk memisahkan bubuk dengan air murni hasil pemulihan dari merkuri," ujar salah satu peneliti, Despina Fragouli, seperti dilansir laman Sciencedaily.com.

Dalam perendaman selama 30 jam di dalam air yang terkontaminasi, busa yang mengandung ampas kopi mampu menyerap kandungan timbal dan merkuri hingga 99%.

Sementara itu, pada percobaan lain, air dibiarkan mengalir melewati busa penyaring.

Hasilnya busa hanya mampu menyerap 67% kandungan ion timah.

Inovasi ampas kopi sebagai bahan penyaring nyatanya juga sudah dilakukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember, Jawa Timur.

Penelitian mereka membuktikan limbah ampas kopi menjadi bahan yang berguna untuk menyerap kadmium (Cd).

Agar daya serap lebih efektif, para mahasiswa peneliti bersama dosen pembimbing terlebih dahulu mengubah ampas kopi menjadi bentuk arang yang kemudian diaktifkan dengan HCL dan dinetralkan kembali.

Setelah itu, arang tersebut bisa dipaparkan dengan air yang mengandung cemaran logam berat kadmium.

Pencemaran merkuri mengkhawatirkan

Masyarakat memang harus semakin waspada akan kontaminasi merkuri karena dampaknya yang berbahaya bagi kesehatan.

Sayangnya, Indonesia memang belum memiliki standar nasional ambang batas merkuri yang dapat ditoleransi, tetapi sudah mengadopsi ambang batas untuk lingkungan yang ditetapkan Canadian Standard.

Sementara itu, soal kesehatan, Indonesia menggunakan standar dari WHO pada 1980-an, yakni nilai ambang batas normal 0,5 ppm (part per million) pada ikan.

Direktur Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Yun Insiani, Jumat(23/9), mengatakan pencemaran merkuri bisa demikian luas, bahkan melintasi batas negara.

"Limbah bergerak cepat dan luas, sangat mungkin merkuri dari Indonesia ditemukan di negara lain. Begitu pun sebaliknya. Karena itu, diatur dengan berbagai konvensi agar setiap negara bisa mengelola limbah B3 dan melarang perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya," tuturnya kepada Media Indonesia.

Tidak hanya merkuri, pihaknya juga melakukan kajian akan cemaran B3 lainnya, seperti kandungan timbal pada cat tembok.

"Takutnya nanti anak kecil pegang-pegang tembok, lalu timbal tersebut menempel di telapak tangan," tambahnya.

Pemantauan KLHK menemukan limbah B3 sudah sangat tinggi, bahkan ditemui di air susu ibu.

Kondisi itu harus segera diantisipasi karena limbah B3 tidak bisa hilang atau musnah, tetapi akan terus berakumulasi dari waktu ke waktu.

Untuk kawasan perairan, Yun menyebutkan limbah industri dan rumah tangga menjadi sumber pencemar terdekat.

Hal itu menjadi berbahaya, baik bagi manusia maupun biota laut, seperti ikan, kerang, dan terumbu karang.

Tidak hanya itu, limbah B3 yang meresap ke lapisan air tanah akan menyebabkan dampak yang luas. (Wnd/M-3)

Komentar