Seni

Indonesia Krisis Konservator Lukisan

Senin, 26 September 2016 23:25 WIB Penulis: Richaldo Y Hariandja

ANTARA

INDONESIA kekurangan konservator lukisan. Hal itu diperparah dengan belum adanya lembaga pendidikan yang menghasilkan kader konservator.

"Kalau seni rupa ada, tapi konservator seni lukis tidak ada," ucap Kepala Museum Basoeki Abdullah, Joko Madsono, dalam konferensi pers seminar lukisan bertajuk Bagaimana Mengetahui Lukisan Palsu atau Asli di Jakarta, Senin (26/9).

Konservator lukisan, lanjut Joko, memiliki tingkat kesulitan tinggi. Tidak hanya dituntut piawai dalam merawat lukisan, konservator juga mesti memahami gaya pelukis yang dikonservasinya. Belum lagi, harus mengerti tentang pencampuran bahan kimia paduan warna dalam lukisan.

Indonesia kini memiliki 428 museum yang memamerkan lukisan. Akan tetapi, jumlah konservator hanya berkisar puluhan. Oleh karena itu, Joko meminta secara khusus agar ada penambahan dan kaderisasi konservator di masing-masing museum. Terutama museum yang memiliki banyak lukisan.

"Istana negara saja punya sekitar 300 lukisan, seharusnya ada lebih dari 10 konservator di sana," imbuh Joko.

Sementara itu, Kepala Program Studi Magister dan Doktor Hukum Universitas Pelita Harapan Henry Sulistiyo Budi menyatakan perlindungan dan pemeliharaan karya seni harus ditingkatkan untuk menghindari pemalsuan dan mutilasi karya. Apalagi, permintaan terkait hasil karya reproduksi ilegal masih tinggi di Indonesia.

"Memang ada kebanggan dari pemilik lukisan palsu itu melihat karya lukis di rumahnya masing-masing, tapi itu menodai secara ekonomi para pelukis," ucap Henry.

Oleh karena itu, ia meminta agar diadakan tim pelacak karya seni palsu. Hal itu, sesuai dengan UU No 11/2010 tentang Cagar Budaya. "Karena plagiat juga melukai moral dari pelukis," imbuh Henry. (X-12)

Komentar