Eksekutif

Keterbukaan sebagai Kekuatan

Senin, 26 September 2016 06:09 WIB Penulis: Fetry Wuryasti

MI/Adam Dwi

SEJAK didapuk menjadi Country Manager PT Red Hat Indonesia, yaitu penyedia perangkat lunak bersumber terbuka (open source software) papan atas dunia, pada Juli 2015, Rully Moulany punya visi untuk meningkatkan kesadaran dan kontribusi inovasi di Indonesia dengan berbasis komunitas.

"Red Hat berpartisipasi di komunitas-komunitas, mem-packaging software yang dihasilkan komunitas tersebut dan melakukan quality assurance, testing, serta sertifikasi untuk kemudian software kami tawarkan ke enterprise, ke perusahaan-perusahaan besar," jelasnya saat berbincang dengan Media Indonesia, di kantornya di Jakarta, awal September ini.

Open source software merupakan perangkat lunak yang dibangun secara gotong royong oleh komunitas.

Kolaborasi dilakukan secara terbuka.

Konsep model bisnis yang Red Hat bawa, kata Rully, unik dan sedikit berbeda jika dibandingkan dengan para kompetitor.

Perusahaan perangkat lunak lain membuat produk di tempat mereka, dengan riset dan pengembangan sendiri, kemudian menjualnya kepada pengguna dalam bentuk lisensi.

"Di kami, open source software dikembangkan ramai-ramai. Orang dari berbagai background dan company kumpul secara virtual dalam sebuah proyek open source sehingga software yang kami tawarkan dan jual merupakan software yang dikembangkan komunitas," ujar penyandang gelar master dari University of Massachusetts itu.

Terkadang, kata Rully, orang mengira open source berarti tanpa biaya.

Padahal, jelasnya, tetap ada value proposition yang mereka miliki, yaitu menjembatani komunitas dan pengusaha.

"Kami memberikan benefit dari open source software, yang terkenal dengan inovasi, kecepatan, dan fitur canggih, sesuai dengan kebutuhan enterprise, yaitu harus lebih aman, terjamin, dan mendapat dukungan," ujarnya.

Ia menerangkan, soal perangkat lunak bersumber terbuka, sebetulnya tidak ada yang bisa menjamin keamanannya lantaran perangkat lunak dikembangkan di komunitas.

Sementara itu, perusahaan yang mapan, seperti bank, instansi pemerintah, dan perusahaan telekomunikasi, tentu menginginkan perangkat lunak yang aman dan terjamin dengan dukungan layanan 24 jam 7 hari seminggu.

"Itu yang kami lakukan," jabar Rully.

Faktor itu yang disebut Rully membedakan perangkat lunak bersumber terbuka miliki Red Hat dengan perangkat lunak sejenis milik kebanyakan komunitas.

Dengan bekal pengalaman di kancah global selama lebih dari 12 tahun, Red Hat hadir di Indonesia sejak awal 2014 dan masih menjadi satu-satunya perusahaan perangkat lunak bersumber terbuka multinasional yang eksis.

Kehadiran Red Hat sejalan dengan transformasi digital yang mulai bergulir di Tanah Air.

Tren itu menyebabkan banyak perusahaan mesti mengubah cara kerja mereka.

"Boleh diintip, start-up mana pun menggunakan open source software karena jauh lebih fleksibel. Mereka bisa mengulik sendiri apa yang mereka dapatkan di komunitas lalu memodifikasinya sesuai dengan kebutuhan. Ide tersebut berawal dari revolusioner digital oleh Google. Mereka mengubah cara semua orang bekerja, bahkan cara hidup. Google pun infrastrukturnya berjalan di open source," beber Rully.

Menurut dia, pertumbuhan Red Hat di Indonesia terbilang cukup cepat.

Hal itu ditandai dengan sederetan klien besar, mulai Ditjen Pajak sampai bank-bank kelas kakap di Tanah Air.

Namun, ia mengakui kesadaran akan perangkat lunak bersumber terbuka di Indonesia masih dalam tahap edukasi yang harus digencarkan.

Masih banyak anggapan terhadap perangkat lunak itu yang belum sepenuhnya tepat.

Selain murah, perangkat lunak bersumber terbuka kerap dianggap rawan diretas dan 'mainan' anak kampus.

"Itu memang betul, ada open source yang memang jadi tools para peretas dan sebagainya. Namun, seperti saya bilang, pasar di Indonesia perlu banyak edukasi," kata Rully.

Meningkatkan pemahaman publik terhadap teknologi sumber terbuka, disebut Rully, merupakan salah satu mandat baginya ketika diberi tanggung jawab menakhodai Red Hat Indonesia.

Harapannya, perusahaan di Indonesia bisa memanfaatkan teknologi perangkat lunak yang mendukung mereka untuk bertranformasi menjadi lebih inovatif, tanpa mengorbankan sisi biaya.

Kultur terbuka

Sejalan dengan karakter produk bersumber terbuka yang dapat diulik berbagai orang, Red Hat Indonesia, disebut Rully, memiliki kultur perusahaan senada.

CEO of Red Hat James 'Jim' Whitehurst, tuturnya, telah menulis satu buku berjudul Open Organization.

Buku itu bercerita, ketika kultur ekosistem sumber terbuka diterapkan dalam suatu perusahaan, asas meritokrasi menjadi berlaku.

"Artinya siapa pun dengan ide paling bagus, dia yang didengar, bukan karena seorang senior ataupun bos. Kemudian, partisipatif. Pengambilan keputusan di Red Hat bukan top-down, melainkan bagaimana kita berkolaborasi memecahkan masalah," ujar Rully yang sempat bekerja di Microsoft Indonesia selama 4,5 tahun.

Tatkala prinsip sumber terbuka diterapkan, lanjutnya, organisasi yang amat pas dengan generasi digital, alias para milenial, yang mengedepankan fleksibilitas ruang, waktu, dan metode bekerja, akan tercipta.

Karena itu, tidak mengherankan jika dalam memimpin para anak buahnya, Rully tidak berpatokan pada kebijakan perusahaan konvensional pada umumnya, misalnya, soal kehadiran fisik di kantor.

"Saya hanya mewajibkan anak-anak (buah) ke kantor setiap Jumat pagi untuk review. Selain itu, mereka tidak wajib, kecuali memang ada kebutuhan, meeting one-on-one. Buat saya, ketika karyawan dibutuhkan dan bisa dihubungi, itu cukup," tegas pria berusia 39 tahun itu.

Ia pun mengaku menjadi penganut prinsip kalender terbuka.

"Kalender kami semua dibuka termasuk saya sehingga tim bisa melihat jadwal kegiatan saya. Hal-hal seperti itu yang kami terapkan di Red Hat."

Keterbukaan, diakuinya, menjadi kekuatan sebuah perusahaan perangkat lunak bersumber terbuka, yaitu tidak ada sekat, ruang, negara, dan wilayah.

Proyek-proyek yang mereka dukung bisa memiliki kontributor dari mana saja selama ide mereka bagus dan diterima di komunitas.

"Bahkan, dalam skala global, perangkat lunak bersumber terbuka akan membuka pintu bagi siapa pun untuk bisa berkontribusi. Karena kami teknologi provider, sekaligus melakukan sharing knowledge melalui open source," terang Rully.

Perspektif

Meski memiliki pengalaman di dunia informasi teknologi selama lebih dari 10 tahun, Rully sesungguhnya tidak berlatar belakang teknik ilmu komputer, tetapi teknik elektro.

"Dibilang tidak nyambung memang betul. Hanya menganut konsep yang sama, engineering, rekayasa, hal-hal terkait problem solving, dan ilmu fisika terapan untuk memecahkan suatu masalah. Untuk bisnisnya, saya learning by job," paparnya.

Pada awal 2002, setelah selesai menimba pendidikan di 'Negeri Paman Sam', Rully kembali ke Indonesia dan bekerja di berbagai perusahaan, seperti Oracle Indonesia, LogicaCMG, Axalto, dan NEC Indonesia.

Alasan dia terjun ke dunia pekerjaan perangkat lunak ialah dia percaya itulah yang mengubah kehidupan sekarang.

Perangkat lunak dan keras, ujarnya, memang berkomplementer.

Ia mengatakan perangkat keras punya urgensi meningkatkan kapasitas dari waktu ke waktu demi menjawab perubahan perangkat lunak yang amat cepat.

"Kalau ponsel istilahnya sekarang lemot, berarti spesifikasi kurang tinggi. Itu karena software sudah sedemikian kompleks sehingga hardware-nya tidak mengangkat. Jadi, perspektif pribadi saya, software itu yang memang menggerakkan inovasi dan banyak membuat perubahan digitalisasi."

(E-2)

-------------------------------------------

BIODATA

Nama : Rully Moulany

Jabatan: Country Manager of PT Red Hat Indonesia

Tempat, tanggal lahir: Serang, Banten, 12 Maret 1977

Pendidikan:

2002 Master of Science di Electrical Engineering, University of Massachusetts-Amherst, AS

1999 Bachelor of Science in Electrical Engineering, University of Wisconsin-Madison, AS

Komentar