DESAIN

Indonesia untuk Kemewahan Hotel

Ahad, 25 September 2016 08:15 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

Bambu yang dicat dengan warna hitam menjadi dekorasi dinding yang mewah, sedangkan tempat tidur menjadi bernilai seni dengan tumpang sari sebagai atapnya.

POTONGAN bambu berwarna hijau menghiasi bagian tengah meja-meja makan pada instalasi pameran bertajuk Serumpun Bambu Restaurant. Instalasi yang berupa ruangan restoran mewah itu merupakan karya desainer interior Agam Riadi.

Namun, sesungguhnya inti karyanya bukan pada bambu di tengah meja, melainkan pada dinding restoran. Dengan warna dasar kuning, dinding itu memiliki dekorasi tiang-tiang berwarna hitam dengan lekuk-lekuk lingkaran dalam jarak tertentu.

Tiang-tiang itu nyatanya ialah bambu berwarna hitam. "Bambu itu ciri khas orang Asia dan kita adalah orang Asia. Jadi, saya ingin menonjolkan itu kepada para tamu. Namun, tentunya dengan desain yang elegan dan inspiratif," tutur Agam kepada Media Indonesia, Jumat (16/9). Karya Agam itu tampil bersama karya dari 11 desainer interior lainnya yang tergabung dalam kelompok ID12.

Kelompok desainer itu memang rutin menggelar pameran kolaboratif. Tahun ini mereka memilih tajuk Hotel No 12 yang sekaligus menunjukkan benang merah desain interior untuk bangunan hotel. Pameran yang mereka gelar itu berada di bawah payung besar acara The Colours of Indonesia 2016 di atrium Senayan City, Jakarta.

Adam menjelaskan bahwa ia menggunakan proses pewarnaan untuk menghasilkan bambu yang legam namun mengkilap. Di sisi lain, ia juga tetap menampilkan bambu yang asli sebagai bagian dari instalasi agar karakter bambu terlihat jelas.

"Bambu itu unik, eksotik, dan sangat Asia. Saya menggabungkan bambu berwarna hitam dengan yang alami sehingga bisa menciptakan kesan glamor dan eksplosif," jelasnya. Kesan glamor pada ruangan juga makin kuat dengan pilihan kursi dan meja berwarna gelap.

Sentuhan seni di ruang santai

Kesan glamor juga terlihat di ruang tidur karya Anita Boentarman dan ruang relaksasi karya Joke Roos. Anita memberikan kesan etnik pada ruang tidur lewat penggunaan ranjang bertiang dengan tumpang sari sebagai atapnya.

Anita yang menamakan karyanya Sokoguru Bedroom Suite mengaku sangat menyukai konsep rumah Joglo. Sebab itu pula, ia membawa konsep itu ke dalam bentuk kamar tidur hotel.

"Awalnya memang terlintas ingin membuat kamar dengan konsep rumah joglo yang ada di dalam sebuah hotel mewah. Jadi ibarat seperti bagaimana bisa menciptakan sesuatu yang elegan, tapi tetap membawa unsur tradisionalnya," ungkap Anita.

Kecantikan Nusantara dalam karya itu juga diperkuat dengan ukiran motif batik pada tiang tempat tidur. Selain itu, Anita juga tak ragu menggabungkan konsep tradisional Indonesia dengan budaya Jepang. Salah satunya diterapkan dengan motif sakura dengan pakem batik pada partisi belakang tempat tidur.

"Partisi itu menggunakan desain sakura, tapi tetap menerapkan pakem desain batik yang tidak semua modelnya sama bentuk. Saya juga tidak menyangka perpaduan batik dengan sakura bisa menciptakan sesuatu yang menarik," sambung Anita.

Sementara itu, pada karya Bodhi Relaxation Room dari Joke Roos, nuansa Indonesia muncul lewat motif batik mega mendung yang dipadukan dengan motif bunga. Motif tersebut muncul dalam dekorasi dinding dan hadir dalam nuansa hitam-putih.

Joke menjelaskan motif Mega Mendung asal Cirebon dipilih karena merepresentasikan bentuk awan yang memberikan kesan damai. Sebab itu pula, motif itu dipadukan dengan bunga agar makin menguatkan kesan tenteram.

"Awan dan bunga merupakan aksen yang damai dan tentram. Tentunya sepadan dengan konsep ruangan yang difungsikan sebagai tempat relaksasi," ujarnya.

Desainer lain yang mengeluarkan desain untuk ruang tidur ialaj Prasetio Budhi. Ia menonjolkan material rotan yang hadir dalam anyaman pada dinding dan furnitur. Lenturnya serat-serat rotan juga direpresntasikan pada backdrop tempat tidur.

Sementara itu, desainer Fifi Fimandjaja menghadirkan konsep ruang dandan yang mewah dengan batuan marbel. Ruangan ini dibuat dalam dua sisi yang feminin dan maskulin. (Fario Untung Tanu/M-3)

Komentar