PIGURA

Wong Agung

Ahad, 25 September 2016 03:00 WIB Penulis: ONO SARWONO

BANYAK yang bilang kasus dugaan suap yang melilit mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman ialah praktik trading in influence, yakni memanfaatkan jabatan dan posisi untuk memengaruhi atau memersuasi kebijakan eksekutorial. Pertanyaannya, perilaku barukah ini? Ini warisan turun-temurun tentang sisi kebusukan birokrasi kita yang hingga saat ini masih membelenggu.

Banyak argumen untuk menjawab kenapa 'kultur' itu seperti melanggeng. Namun, arus utamanya, setiap jabatan selalu dimaknai sebagai kekuasaan semata. Artinya merasa berkuasa. Dari sana ego kejemawaannya dibangunkan, yang lalu diterjemahkan sesuai dengan selera. Ya bentuk paling umum ialah memengaruhi pihak lain agar menuruti keinginannya.

Sesungguhnya, aksi memengaruhi itu tidak soal bila demi kebaikan peradaban. Malah, kalau itu yang terjadi, layak dilestarikan. Namun, ketika kekuatan memengaruhi tersebut disalahgunakan, atau diselewengkan untuk hal-hal buruk, itulah yang tidak elok, mesti dihentikan. Misalnya, jabatannya untuk memengaruhi demi mendapatkan keuntungan sepihak, dan itu merugikan banyak masyarakat.

Jadi, yang menjadi masalah di sini ialah bagaimana memanfaatkan kekuatan pengaruh atau persuasi itu. Sederhananya, itu dilakukan untuk kebaikan atau ketidakbaikan. Inilah pertanyaan besar bagi para pejabat, ke mana Anda akan melangkahkan pengaruh-pengaruhmu?

Keadilan jagat

Dalam konteks itu, bila berniat baik, kita bisa berkaca pada seorang penguasa bernama Prabu Harimurti alias Prabu Kresna dalam cerita wayang. Secara de facto dan de jure, ia raja Negara Dwarawati. Takhta tersebut ia dapatkan dengan perjuangan keras lewat cara-cara kesatria. Itu bukan tiban, warisan, atau berkat nepotisme.

Selain memiliki kekuasaan besar, Kresna juga menggenggam 'kekuasaan' eksklusif, yang tidak dipunyai siapa pun. Ia sebagai pengadil jagat berkat dalam jiwanya kasinungan (menjadi rumah) Bathara Wisnu. Ini 'jabatan gaib' yang sangat strategis sekaligus prestisius.

Seperti tidak cukup dengan jabatan-jabatan paten tersebut, Kresna mempunyai pula berbagai senjata nggegirisi (ampuh) dan ajian yang tiada tandingannya. Di antaranya, Cakra yang berwujud panah beroda pada ujungnya. Kesaktiannya bisa untuk melebur bumi. Kembang Wijayakusuma dapat menghidupkan kematian yang belum takdirnya; Aji Kawrastawan bisa membuatnya beralih rupa; Kaca Paesan dapat digunakan untuk melihat yang sedang dan yang akan terjadi; dan Aji Pameling digunakan untuk memanggil, termasuk dewa sekali pun. Kresna juga mampu bertiwikrama menjadi raksasa sebesar gunung. Masih ada sejumlah pusaka dan ajian lain yang semuanya melambangkan akan kesaktiannya yang tiada tara.

Dengan jabatan, kedudukan, posisi, serta berbekal segala kesaktiannya yang tidak tertandingi itu, Kresna bisa melakukan apa saja sesuai dengan kehendak. Membumihanguskan seluruh isi jagat pun ia mampu. Namun, sepanjang hayat, ia tiada pernah mengejawantahkan nafsu destruktifnya. Yang ia usung misi tunggal, memayu hayuning bawana, membuat dunia adil dan damai. Semua kekuasaan dan kekuatannya digunakan untuk mengeksekusi pengabdian pada tugas mulia itu.

Jika sejarahnya dirunut, Kresna yang demikian ini tidak terlepas dari hidupnya yang lekat dengan laku prihatin. Sejak kecil, bersama sang kakak (Kakrasana) dan adik (Lara Ireng), ia hidup sebagai rakyat kecil di Dusun Widarakandang. Ia menjadi anak angkat Demang Antagopa-Ken Sagopi. Padahal, sesungguhnya mereka putra Raja Mandura Prabu Basudewa.

Kehidupannya di dusun melatih hidup sebagai rakyat biasa dengan segala kesederhanaannya. Ia jadi paham isi dan jantung rakyat. Di sana ia juga belajar unggah-ungguh dan budi pekerti.

Bakat Kresna, yang ketika masa kecilnya bernama Narayana, ialah gentur mencari ilmu. Di mana pun ada guru atau wiku, resi atau maharesi, pertapa atau pendeta, ia suwitani

Lewat proses perjalanan dan perjuangan hidup demikian, Kresna menjadi insan berkarakter dan berkepribadian unggul serta menguasai banyak ilmu. Saking pintarnya, Kresna disebut-sebut sebagai titah yang memiliki kemampuan ngerti sakdurunge winarah, tahu segala sesuatu yang akan terjadi di depan.

Jiwanya yang berkualitas dewa digayuh karena kiprahnya di marcapada memang tidak layaknya titah lain. Hidupnya dipersembahkan untuk dunia yang adil dan damai, bukan untuk memenuhi nafsunya pribadi. Malah, untuk misinya tersebut, ia mesti tega mengorbankan keluarga.

Di antaranya, Kresna terpaksa melenyapkan anaknya, Sitija (Bomanarakasura), demi tegaknya keadilan. Putranya yang lahir dari permaisurinya, Dewi Pertiwi, itu dihilangkan dari muka bumi karena kekejamannya terhadap saudaranya sendiri lain ibu, Samba alias Dewabrata. Kisah itu terceritakan dalam lakon Gojalisuta.

Kresna juga perlu menghilangkan keponakannya, Antareja, demi lancarnya Perang Baratayuda. Jika Antareja ikut terjun dalam perang suci itu, bukan mustahil keadilan sulit ditegakkan. Ini terjadi karena Antareja mampu membunuh siapa pun hanya dengan menjilat bekas telapak orang. Padahal, ia diragukan soal kemampuannya untuk telapak kaki itu milik Pandawa atau Kurawa dan pengikut mereka.

Singkat cerita, dari peran yang dimainkannya, Kresna menjelma menjadi titah yang sangat berpengaruh di dunia, raja gung binatara (sehebat dewa), benar-benar menjadi wong agung (orang besar).

Eling dan waspada

Hikmah kisah itu ialah jabatan tinggi serta kekuasaan besar yang dimiliki semata-mata diabdikan untuk menciptakan keadilan. Kresna tidak pernah menggunakannya untuk gagah-gagahan, menggertak atau menakut-nakuti pihak lain, dan atau demi memenuhi kebutuhan perutnya sendiri.

Dalam konteks trading in influence, Kresna menggunakan pengaruhnya dan persuasinya untuk kebaikan. Laku itulah yang pada akhirnya mengukuhkannya sebagai wong agung, sebagai orang yang dihormati semua titah di marcapada, madyapada, hingga mayapada.

Pada kasus-kasus tertentu, itu paradoks dengan tabiat para pemimpin dan pejabat di negeri ini. Panggung (jabatan yang terhormat dan kekuasaan yang besar) bukan untuk menjadikannya orang agung, melainkan justru untuk mengerdilkan dirinya sendiri, bahkan menistakan diri.

Memang bukan perkara mudah ketika seseorang sedang menduduki jabatan tinggi dan menggenggam kekuasaan besar. Siapa pun yang tidak memiliki karakter dan kepribadian kuat seperti Kresna, ia akan gampang roboh, berbuat sesuatu yang mengkhianati sumpahnya sendiri.

Agar tidak tergelincir, tidak ada salahnya para pemimpin selalu mengingat petuah pujangga besar Kasunanan Surakarta, Ranggawarsita: Sabeja-bejane wong kang lali, isih beja wong kang eling lan waspada (Bagaimana pun beruntungnya orang yang lalai, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada). Poinnya, eling dan waspadalah. (M-4)

Komentar

Berita Terkait