DESAIN

Rumah Indekos Semewah Hotel

Ahad, 18 September 2016 01:20 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

DOK WANLIE ALIWAYANA

KEMEWAHAN bangunan itu terasa seperti hotel. Meja resepsionis bermarmer kecokelatan berpadu serasi dengan ubin hitam dan elemen kayu di dinding pagar mezzanin dan langit-langit. Saat sinar matahari masuk dari dinding kaca yang menjulang hingga langit-langit setinggi 15 meter di muka lobi, suasana ruangan itu pun makin artistik. Bayang-bayang terali menciptakan motif garis yang unik di dinding ruangan yang putih polos. Namun Suites at Seven demikian nama tempat itu bukanlah hotel, melainkan rumah indekos.

Sesuai dengan namanya, rumah indekos yang berada di kawasan Karet, Pedurenan, Jakarta Selatan, itu memang berkonsep premium. Kesan mewah itu bukan hanya tampak di lobi, melainkan seluruh sudut bangunan tiga lantai yang berdiri di atas tanah 2.200 meter persegi ini. Di sisi lain, kemewahan itu juga tetap alami karena unsur kayu dan hijaunya tanaman. Di muka bangunan yang memiliki 80 kamar itu, nuansa hijau hadir lewat tanaman merambat yang menutupi hampir seluruh pagar dan juga menjuntai dari atap bagian lobi. Bangunannya bergaya kubus dan tampil unik dengan tiga bahan berbeda pada fasad. Yakni dinding kaca, dinding batu putih Yogyakarta, dan dinding dengan kayu bekas bantalan rel.

Pada dinding batu putih, kesan tidak kaku muncul karena celah-celah (bukaan) yang tidak beraturan. Sang arsitek, Wanlie Aliwayana, menjelaskan, desain bangunan dan paduan elemen-elemennya dipilih untuk mewujudkan gaya semi minimalis-tropikal yang diinginkan pemilik. Selain untuk segi estetika, gaya itu juga dipilih demi memberikan kenyamanan dan rasa kerasan kepada para penghuni. Itu pula sebabnya lahan yang ada tidak melulu digunakan untuk kamar. "Di rumah indekos ini tidak melulu ruangan kamar karena saya juga menempatkan taman, kolam di setiap sudutnya, sehingga penghuni tidak cepat bosan ketika masuk," jelas Wanlie kepada Media Indonesia, Kamis (15/9). Taman dan kolam sudah menghampar sejak halaman depan. Ada pula kolam yang memanjang yang berhadapan dengan deretan kamar. Di malam hari, pemandangan dari kolam dangkal berdasar batuan kecil itu makin indah dengan penerangan dari lampu-lampu di pinggir dalam kolam.

Estetika dan servis
Kecermatan Wanlie dalam menciptakan desain yang berkarakter juga terlihat pada detail di bagian dalam bangunan. Ukiran batik dihadirkan di setiap dinding kamar yang menghadap ke selasar dan juga pada lift. "Nah kebetulan pemiliknya memiliki usaha di bidang batik. Jadi di setiap pintu kamar, depannya itu kita tempatkan ukiran batik pada sebuah kayu yang juga dijadikan sebagai hiasan," tuturnya. Wanlie juga memikirkan aspek estetika yang bisa bertahan dan sesuai dengan pola hidup penghuni. Salah satunya ialah soal mempertahankan estetika dan kebersihan pada lorong.

Demi kenyamanan bersama sekaligus kelancaran servis bagi penghuni, di setiap depan kamar, dibuatkan sebuah tempat untuk menaruh pakaian kotor dan pakaian bersih. Tempat itu berupa keranjang anyaman yang dimasukkan pada ruangan kecil yang ada pada dinding. "Karena lorong ini merupakan tempat utama penghuni lalu lalang. Kalau sudah terlihat berantakan, orang pasti tidak suka dan tidak akan nyaman tinggalnya," jelas Wanlie.

Coffee shop
Perhatian pada kenyamanan penghuni juga terlihat dengan dihadirkannya fasilitas tempat duduk sekaligus tempat sosialisasi. Pada halaman depan, fasilitas itu hadir dalam bentuk kedai kopi yang cantik. Desain interior dari coffee shop yang bernama Fill More Coffee ini memadukan warna gelap, seperti hitam, abu-abu, dan cokelat tua yang dihiasi dengan lampu-lampu gantung berwarna kuning. Sudut-sudut dinding pun sengaja dibiarkan dengan semen acian. Sementara itu, bagi penghuni yang ingin merokok, disediakan tempat duduk-duduk lainnya di area roof top. Di malam hari, dari area ini penghuni sekaligus bisa menikmati secuil pemandangan gemerlapnya Kota Jakarta. Dengan lahan hunian yang makin sempit, rumah indekos premium memang bisa menjadi pilihan bagi pekerja kelas atas. (M-3)

Komentar