Cerpen

Sang Gathotkaca

Ahad, 18 September 2016 00:30 WIB Penulis: Ono Sarwono

MASIH adakah anak bangsa negeri ini yang memiliki jiwa pengorbanan? Bila pertanyaan itu dikaitkan dengan konteks ritual keagamaan, jawabannya dari dulu hingga saat ini pengurbanan jelas masih ada. Bahkan, yang tampak semakin ngrembaka (berkembang). Misalnya, pada Hari Raya Idul Adha 1437 Hijriah lalu, jutaan hewan (kambing, domba, dan sapi), yang jika ditotal nilai nominalnya mungkin mencapai triliunan rupiah, dikurbankan. Artinya, umat muslim yang mampu telah berkurban, yang diwujudkan dengan penyembelihan hewan kurban. Namun, bila pertanyaan itu disasarkan pada perilaku kita dalam praktik kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, jawabannya makin menghilang. Jiwa dan semangat berkorban sepertinya kian menguap akibat pragmatisme hidup. Jangankan itu, sekadar berbuat sumbangsih kepada sesama saja melangka. Malah, yang subur justru sepak terjang yang menimbulkan atau memakan korban.

Dalam sejarah bangsa dan berdirinya negara ini, para pahlawan merupakan contoh konkret orang-orang yang telah berkorban. Bukan hanya harta benda, jiwa raga mereka pun dientengkan. Demi apa? Demi martabat bangsa dan kemerdekaan. Itulah yang semestinya menjadi tuntutan kita kini dalam mengarungi kehidupan sebagai bangsa.

Melawan uwaknya
Dalam cerita wayang, contoh anak-anak bangsa yang memiliki jiwa dan keberanian berkorban paling monumental ditorehkan para putra Pandawa dalam Perang Bharatayuda. Mereka mengorbankan jiwa raga untuk eksistensi Pandawa, yang secara filosofis merupakan lambang keutamaan. Salah satu putra Pandawa yang gagah berani mengorbankan semua yang dimiliki, bahkan yang paling berharga, yakni jiwa raga, ialah Gathotkaca. Tokoh yang layak jadi tuladha (contoh) itu memiliki nama tenar lain, di antaranya Tetuka, Kacanegera, Purubaya, Krincing Wesi, Guritna, Bimasuta, Bimasiwi, dan Arimbiputra.

Saking hebatnya sang tokoh ini, banyak keluarga, umumnya di Jawa, yang bangga menggunakan nama itu sebagai nama sang anak. Biasanya diambil nama depannya atau nama panggilan Gathotkaca, yaitu Gathot. Bukan itu saja, segenap ajian Gathotkaca pun juga tidak jarang ditempelkan pula untuk nama orang. Di antaranya ajian Brajamusti.

Tentu, orangtua yang memberikan nama Ghatot (Gathotkaca) kepada anak mereka berharap agar putra mereka, pada dewasanya, seperti sang tokoh. Dalam kisahnya, Gathotkaca ialah senapati (panglima perang) negara yang memiliki kesaktian luar biasa. Selain itu, tentu ada impian agar sang anak berkarakter seperti Gathotkaca, kesatria yang memiliki jiwa berkorban untuk bangsa dan negara.

Dari silsilah keluarga, Gathotkaca merupakan putra Werkudara (anggota keluarga Pandawa) dari istrinya, Arimbi. Werkudara ialah putra kedua Raja Astina Pandudewanata. Arimbi ialah putri raja Pringgondani, Prabu Tremboko. Kedua raja itu pernah bersahabat dekat. Namun, di akhir riwayatnya, keduanya bermusuhan.
Dari garis ibu, Gathotkaca mewarisi kekuasaan atas Pringgondani. Negara ini awalnya berdiri sejajar dan menjalin hubungan mesra dengan Astina pada masa kepemimpinan Pandudewanata. Namun, dalam perjalanannya, kedua negara tersebut berperang akibat politik tengik Trigantalpati (Sengkuni) yang saat itu mengabdi di Astina, mengikuti sang kakak, Gendari, yang dipersuting Drestarastra, kakak kandung Pandudewanata.

Di bawah kepemimpinan Gathotkaca, Pringgondani menjadi negara 'bawahan' Amarta, negara yang didirikan Pandawa. Itu disebabkan posisi Gathotkaca sendiri sebagai senapati Amarta. Dengan demikian, segenap kekuatan yang ada di Pringgondani menjadi 'senjata' bagi Amarta.

Itulah pengorbanan pertama Gatotkaca kepada pepundennya, Pandawa. Kebijakan Gathotkaca itu semula juga mendapat tentangan dari sejumlah pamannya. Bahkan, perlawanan dari internal keluarga itu sudah terjadi saat Gathotkaca dilantik sebagai raja Pringgondani. Pamannya yang mbalela (melawan) itu bernama Brajadenta dan Brajamusti. Keduanya akhirnya sirna di tangan Gathotkaca dan sukmanya menyatu ke dalam kedua tangannya dan berubah menjadi ajian yang menggiriskan. Brajamusti ada di tangan kanannya. Apa pun yang terkena pukulan Gathotkaca akan lebur jadi abu.

Pengorbanan Gathotkaca yang terakhir dan dramatis ketika ia terjun ke kurusetra dalam Perang Bharatayuda. Ia berhadapan dengan senapati Astina (rezim Duryudana), Karna Basusena. Dari hubungan darah, Karna merupakan uwaknya. Karna ialah putra pertama eyang putrinya, Kunti Talibrata, dari 'benih' Bhatara Surya dari Kahyangan Ekacakra. Ayah Gathotkaca, Werkudara, ialah putra Kunti-Pandudewanata.

Ketika maju ke palagan menghadapi Karna, atas perintah botoh Pandawa, Kresna, Gathotkaca paham inilah akhir pengabdiannya untuk bangsa dan negara. Kenapa demikian? Ia sadar bahwa dalam dirinya bersemayam warangka panah senjata andalan Karna, yakni kuntawijayadanu. Kodratnya, dalam Bharatayuda, pusaka Kahyangan itu akan kembali menyatu dengan warangkanya.

Namun, Gathotkaca tidak miris menghadapi kematiannya. Ia ikhlas jiwa raganya untuk tegaknya kebenaran, keadilan, dan keutamaan. Ia bangga gugur sebagai kusuma bangsa. Itulah cita-citanya sebagai kesatria. Lebih dari itu, dengan pengorbanannya, Pandawa dipastikan selamat. Ketika kuntawijayadanu masuk warangkanya, saat itu pula akan musnah, kembali ke kahyangan. Dengan demikian, Karna sudah tidak memiliki lagi pusaka sakti untuk mengalahkan Pandawa. Keluarga Pandawa (Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) jadi tetap utuh. Tibalah waktunya, pada malam hari ke-14 Perang Bharatayuda, Gathotkaca roboh dan jatuh terempas dari langit setelah pusarnya tertembus oleh kuntawijayadanu yang dilepaskan Karna.

Kualitas manusia
Hikmah sekelumit kisah Gathotkaca itu ialah pengorbanan untuk bangsa dan negara. Galibnya, tidak ada negara yang tegak berdiri (berjaya) tanpa pengorbanan para anak bangsanya. Itulah yang dilakukan Gathotkaca sebagai putra Pandawa (Amarta). Dalam konteks kekinian, tentu gelanggang pengorbanan itu sangat luas. Itu bisa dilakukan semua lapisan masyarakat, mulai rakyat biasa hingga para pemimpin dan elitenya. Janganlah jabatan yang diemban dan kekuasaan yang digenggam malah digunakan untuk melampiaskan syahwat pribadi (korupsi). Pengorbanan itu bukanlah 'berkorban' (rela masuk penjara) untuk memakmurkan keluarga sendiri. Secara kepribadian, berkorban, sekecil apa pun yang dilakukan, merupakan bukti kemuliaan jiwa. Sesungguhnya, kerelaan berkorban juga merupakan ukuran akan kualitas manusia.

Kita berandai, bila semangat dan nilai berkorban dalam perayaan Idul Kurban itu menjadi 'roh' dalam praktik kehidupan kita sehari-hari, peradaban luhur bersemai di negeri ini. Pada gilirannya, bangsa ini akan menuai ketenteraman, tahapan kenikmatan hidup paling hakiki. (M-4)

Komentar