Travelista

Terpikat Borneo Hijau di Banjarbaru

Kamis, 27 August 2015 00:00 WIB Penulis: Suryani Wandari Putri Pertiwi
SETIBA di Kota Banjarbaru, sekitar 35 kilometer atau berjarak tempuh 30 menit dari Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, saya menemui pengalaman yang jauh lebih istimewa di sini. Q Grand Dafam Syariah Banjarbaru, di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, di jantung Kota Banjarbaru, tempat saya menginap dua malam, menyematkan konsep syariah bukan cuma pada nama. Gaya desain hotel, termasuk langit-langit ballroom yang menyerupai kubah masjid, menjadi penanda utama hotel ini.

Syariah total
"Masyarakat Banjarbaru yang religius menjadi latar belakang didirikannya hotel berkonsep syariah ini," kata H Norhin, pemilik Dafam Hotel Manajemen (DHM), pengelola hotel yang menyatukan hotel ini dengan Q Mall, pusat belanja yang diklaim terlengkap di Banjarbaru. Berlokasi di Jalan Ahmad Yani KM 36,8, hotel ini juga istimewa karena hanya memerlukan 15 hingga 20 menit dari bandara dan lima menit menuju Martapura,  pusat perdagangan intan dan batu mulia di Kalimantan. Selain memiliki aneka fasilitas untuk hotel sekelas bintang empat, konsep syariah juga dirasakan dengan penyediaan alat salat dan azan lima waktu yang terdengar hingga ke tiap kamar.

Konsekuensinya buat tamu, yang datang berpasangan harus menunjukkan KTP atau kartu keluarga. "Untuk memastikan mereka suami istri," kata Benny Harlan, General Manager Q Grand Dafam Syariah Banjarbaru. Grand opening Q Grand Dafam Syariah Banjarbaru dilakukan pada Kamis (13/8), bertepatan dengan ulang tahun perdananya. Sejak 7 Agustus 2014, hotel ini memang sudah beroperasi, tapi masih dalam tahap soft opening. Perayaan ulang tahun itu pun berlanjut pengajian dan salat hajat. "Kami terus memperbaiki dan mengevaluasi beroperasinya hotel ini," kata Andhy Irawan, Managing Director DHM, yang mematok tarif mulai dari Rp590.000 per malam.

Jajan di pasar terapung
Destinasi pertama di pagi ini mengunjungi pasar terapung di Sungai Barito, Kota Banjarmasin, membuat saya tak sabar menunggu pagi! Keinginan itu mesti ditebus dengan terombang-ambing di atas air selama lebih dari satu jam dari pelabuhan perahu klotok, sebutan buat jenis perahu kayu yang digunakan di sana, di depan Masjid Raya Banjarmasin. Pelabuhan ini memang kerap digunakan untuk para pelancong untuk mengunjungi pasar terapung. Di pasar ini, semua kegiatan dan transaksi jual beli dilakukan di atas perahu. Khusus untuk pelancong, harus menggunakan perahu yang dipesan sehari sebelumnya.

"Jika mau diantar ke pasar terapung, wisatawan harus memesan dulu, tak bisa mendadak," kata Udin,37, pengendara perahu klotok. Perahu yang dikendarai Udin yang disebut berjenis apal bisa menampung 15 hingga 20 orang. Namun, ada juga perahu klotok juko yang berkapasitas lima orang dengan harga dan kenyamanan berbeda. Dengan menyewa Rp500 ribu untuk perahu apal, kita tidak akan kepanasan atau kehujanan karena ada atap yang memayunginya. Namun, untuk klotok juko yang tanpa atap, kita hanya perlu merogoh kocek Rp200 ribu.
"Harga itu untuk satu perahu istilahnya borongan, tidak untuk perorangan," lanjut Udin. Dengan melalui aliran Sungai Martapura sepanjang 2,5 km, saya disuguhi permukiman penduduk Desa Kuin yang terbuat dari kayu di atas aliran sungai.

Sesekali saya melihat aktivitas penduduk seperti cuci baju atau mandi di sungai itu. Mereka tampak nyaman tinggal di pinggir aliran Sungai Martapura meskipun air sungainya sudah terlihat gelap dan banyak sampah. Sesekali Udin meninggalkan setir dan mengarah ke belakang memeriksa kerja mesinnya. "Ada banyak sampah yang tersangkut. Takutnya jika tidak dibenarkan akan mogok," kata Udin. Setelah melalui Desa Kuin, ternyata masih harus melalui 2 km aliran Sungai Barito yang cukup besar.

Di sungai Barito ini pemandangannya berbeda, tak ada rumah penduduk, tetapi kita akan berpapasan dengan perahu atau kapal yang membawa batu bara maupun minyak. "Kita sekarang masuk di aliran Sungai Barito. Ini lebih besar dibandingkan aliran Sungai Martapura," kata Udin sambil serius membelokkan perahunya ke arah kanan. Tiba sekitar pukul 08.30 sampai lokasi, pasar ini sudah sepi. "Pasar ini mulai dari jam 05.30 sampai 08.00. Sebagian penjual sudah pada pulang," kata Udin.

Walaupun begitu, saya masih bertemu dengan sebagian penjual sayur ataupun jajanan. Biasanya penjual akan menawarkan barangnya dengan mendekat perahu pelancong. Tradisinya pun unik, dengan menarik dan mengikatkan tali perahu penjual ke perahu yang dinaiki kita berarti kita akan membelinya. "Ini biar berdekatan ketika sedang membeli," kata Bahtiar (45), penjual jajanan pasar. Bahtiar yang sudah 28 tahun berjualan di pasar terapung ini mempunyai cara unik mengantarkan makanannya ke tangan pembeli.

Ia menggunakan besi kecil panjang yang dibengkokkan pada ujungnya, Bahtiar selalu menusukkan ujung besi itu pada pesanan pembelinya hingga berguna layaknya kail. Jadi, sang penjual tak perlu berpindah tempat untuk mencapai barang yang akan disampaikan kepada pembelinya dan tentunya tak akan takut jatuh di bawah sungai.

Pulau mengambang penuh monyet

Mengambil rute yang berbeda dari pemberangkatan ke pasar terapung, perjalanan pulang ini melewati Pulau Kembang yang terkenal dengan nama Pulau Monyet. Panggilan nama pulau itu diambil dari penghuni pulau tersebut. Ya, pulau ini hanya dihuni oleh hewan primata tersebut. "Tak ada rumah penduduk di pulau kecil ini, hanya ada monyet lebih dari 100 ekor," kata Udin. Di pulau ini sebenarnya tak ada daratan, hanya pohon mangrove yang tumbuh di sungai. Namun, di bagian depan akan terlihat daratan buatan manusia, tempat monyet-monyet ini berkomunikasi dengan manusia.

Kita bisa memasuki pulau tersebut dengan membayar Rp5000 per orang. Namun, kadang wisatawan hanya melihat dari perahu karena dengan begitu monyet-monyet yang kelaparan ini akan meminta makanan kepada kita. Bahkan, jika jarak perahu dengan tempat mereka berdekatan, monyet-monyet ini akan loncat memasuki perahu. "Tak perlu takut, mereka hanya minta makanan saja," kata Udin. Benar saja, monyet yang masuk untuk meminta makanan ke perahu lain di depan perahu yang saya naiki ini kembali ke tempat tinggalnya. Biasanya mereka akan meloncat ke sungai dan berenang.

Pendulangan intan
Banjarbaru sudah lama dikenal dengan penghasil intan. Saya pun tak mau ketinggalan melihat bagaimana proses mencari intan tradisional oleh para penduduk Kecamatan Cempaka. Ya, mendulang intan merupakan mata pencarian turun temurun oleh warga Desa Pumpung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru. Di pendulangan ini terlihat beberapa orang yang sedang menggali tanah. Bahkan, mengeruk tanah pada kedalaman 10 meter sampai 12 meter yang dipercaya menyimpan intan di dalamnya hingga berbentuk seperti kawah.

"Jika menemukan sedikit saja intan, maka dipercaya akan menemukan intan lainnya," kata Cahyaman, 38, koordinator pendulangan. Proses menggali ini menggunakan perkakas dan metode tradisional. Hasil galian berupa pasir, bebatuan, dan tanah merah atau kuning, lalu akan disedot oleh pipa yang akan membawanya ke sebuah alat pilahan intan. "Jika ada intan yang melewatinya, maka mesin secara otomatis akan berhenti," lanjut Cahyaman. Jika sudah terdeteksi ada intan, tanah itu akan dipisahkan untuk di-lenggang.

Melenggang merupakan tahap terakhir yang mesti dilakukan dengan cara mencampurkan tanah dan air sungai pada sebuah wadah lingkaran untuk mencari butiran intan. Terkadang pendulang menemukan pula batu akik dan pasir emas. Selanjutnya, intan yang didapat akan disetor ke pemiliknya, tapi sebenarnya bagi pendulang. "Pendapatan intan sebenarnya tidak tentu, kadang dalam sehari tidak ditemukan intan sama sekali," ungkap Cahyaman. Cahyaman pun mengaku bahwa itu disebabkan intan di sini sifatnya gaib. "Ya, sifatnya gaib. Jika pelenggang menemukan intan dan bilang "ada intan" maka intannya akan hilang," lanjut Cahyaman. Oleh karena itu, para pelenggang ini selalu menyebutnya dengan galuh yang artinya sama.

Pasar batu mulia
Tak jauh dari Hotel Q Grand Dafam Syariah Banjarbaru, Pasar Martapura bisa ditempuh sekitar 5 menit saja. Pasar ini selalu dikunjungi wisatawan sebagai tempat transaksi pembelian dan penggosokan batu mulia, termasuk intan dan batu akik terkemuka. Ya, berada di kompleks Pasar Martapura kita akan dimanjakan dengan ragam aneka batu, permata, hingga batu akik, serta batu mulia yang ditawarkan ratusan pertokoan. Bahkan, beberapa toko melayani pesanan batu mulia dengan ukuran dan desain yang disuka.

Untuk batu mulia asli Kalimantan sendiri terdapat dua jenis batu yang tak akan sulit ditemui, yaitu green borneo dan red borneo yang memiliki corak indah. Batu yang sudah dipoles mengkilap ini terhitung murah, dengan harga mulai dari Rp20 ribu yang masih bisa ditawar. Bukan hanya batu mulia, pasar ini pun menyediakan berbagai barang khas lainnya, seperti dompet dari manik-manik bernama Arguci, aneka aksesori, berbagai kali yaitu songket hingga sasirangan, dan makanan khas seperti kerupuk amplang, ikan saluang, hingga abon ikan gabus. Batu sudah diborong, oleh-oleh ditenteng, dan perut pun kenyang.

Komentar