DESAIN

Rumah dengan Manipulasi Lantai

Ahad, 11 September 2016 01:45 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

DOK FERRANDO GOMULYA

SEBAGAI salah satu kawasan strategis di Ibu Kota Jakarta, tidak menghe­rankan jika harga lahan di Tebet cukup mahal. Bukan itu saja, ketersediaan lahan juga makin sempit. Maka ketika pasangan suami istri Firman dan Dissy hanya bisa memiliki lahan seluas 90 meter persegi di sana, mereka harus putar otak agar desain rumah tetap bisa memenuhi berbagai kebutuhan dan tetap terasa lapang. Keinginan mereka kemudian dijawab salah satu pendiri Delution Architect, Muhammad Egha, dengan arsitektur berkonsep split-grow house.

“Konsep rumah ini digunakan untuk mengatasi jumlah permintaan ruang yang setara tiga lantai, tetapi dimanipulasikan seolah terlihat dua lantai apabila dilihat dari sisi depan rumah, sehingga tidak terlihat terlalu mencolok jika dibandingkan dengan tinggi rumah yang lainnya,” ujar Egha kepada Media Indonesia, Senin (5/9). Memang jika memandang dari luar muka rumah, terlihat hanya seperti terdiri dari dua lantai. Namun, begitu memasuki rumah, baru terlihatlah jumlah lantai yang lebih banyak. Lantai-lantai itu dibuat dengan bentuk mezanin, yakni lantai tambahan yang berada di antara lantai dasar dengan plafon. Dengan banyaknya mezanin, memang tampilan lantai jadi seperti terbelah (split). Saat ini rumah tersebut memiliki tiga mezanin yang berselang-se­ling, tetapi seluruhnya terhubung dengan satu void. Jarak ketinggian dari lantai dasar uta­ma dengan atap tertinggi mencapai 9 meter. “Berhubung bangunan ini menggunakan konsep split, kalau dihitung keseluruhan itu 9 meter. Namun, kalau tiap lantai itu sekitar 3 meter,” sambung Egha.

Dari lantai dasar utama yang berfungsi sebagai ruang tamu itu terdapat juga tangga ke bawah menuju dapur. Area dapur yang menyerupai semibasement itu seluruhnya terbuka ke ruang tamu. Sementara itu, konsep grow disematkan karena rumah itu juga telah dipersiapkan untuk penambahan dua mezanin lagi. Soal banyaknya mezanin dalam sebuah rumah atau bangunan, termasuk juga dalam penempatannya, Egha mengatakan tidak ada aturan baku. Rumah akan tetap nyaman selama sirkulasi udara baik dan pencahayaan alami dapat dimaksimalkan. Pada rumah Firman dan Dissy, peran sirkulasi udara dan akses cahaya itu juga berjalan karena void yang menyambung dari dasar hingga atap. Pada puncak void diberikan kaca nako sehingga udara dapat mengalir lancar. Jadi void tidak hanya berfungsi menciptakan kesan lapang dan mendukung komunikasi dan interaksi antarlantai. Selain lewat void, sirkulasi udara juga tercipta dari adanya ruang terbuka selebar 1 meter yang memanjang dari depan hingga belakang rumah. Ruang itu juga berfungsi untuk tempat menyimpang barang-barang outdoor seperti sepeda.

Kayu dan nuansa putih
Meski memiliki banyak mezanin, kesan lapang di dalam rumah bisa tercipta juga berkat penggunaan cat putih. Sementara itu, kesan hangat dimunculkan lewat nuansa cokelat pada lantai dan perabot. Seluruh desain perabot bergaris minimalis. Bahkan di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga, hanya ada satu kursi yang memiliki sandaran. Selebihnya merupakan kursi kayu tanpa sandaran yang sekilas mengingatkan pada kursi gaya warung bakso.
Pada bagian bawah dinding muka ruang tamu itu tidak dibuat dari tembok batu, tetapi kaca. Penggunaan kaca itu berfungsi agar meskipun penghuni berada di dapur tetap bisa melihat ke halaman depan rumah dan mengetahui jika ada orang yang datang. Di dapur yang juga menyatu dengan ruang makan, pemilik rumah memilih meja yang bisa dilipat. Pemaksimalan fungsi juga terlihat pada tangga di ruang itu yang sekaligus berfungsi sebagai rak. Pemanfaatan ruang dan interior rumah di lahan terbatas memang tetap bisa memenuhi berbagai kebutuhan. (M-3)

Komentar