Eksekutif

Bisnis ialah Belajar dan Beradaptasi

Senin, 5 September 2016 03:45 WIB Penulis: Retno Hemawati

MI/RETNO HEMAWATI

PADA saat ia memutuskan pindah ke Indonesia empat tahun lalu, visa kerja Amerika Serikat Jessica Lays, 28, pemilik PT Saga Machie, sebenarnya baru saja disetujui.

Padahal, mendapatkannya tidak mudah.

Perusahaan Commercial Real Estate Services (CBRE) yang berbasis di San Francisco tempat dia bekerja bahkan telah memberikan sponsor hingga US$7.000 untuk visa itu.

Karier Jessica terbilang cemerlang.

Ia sempat ditugasi menjadi perwakilan CBRE untuk memegang properti di perusahaan Google selama tiga bulan.

Namun, semua itu akhirnya ia tinggalkan demi membantu sang ibu untuk mengurusi bisnis sepatu di Tanah Air.

Jessica merupakan generasi kedua Aulia Singgih, pendiri perusahaan.

PT Saga Machie yang dipimpinnya sekarang ialah perusahaan yang berkantor di Jakarta dan memproduksi beragam merek alas kaki, seperti Elle, Studio Nine, Winston Smith, dan Andre Valentino.

Dia mengatakan, 2012 ialah tahun ketika ia merasa sangat tepat untuk kembali pada bisnis keluarga.

Saat itu usianya baru 24 tahun.

"Pada saat itu entah mengapa saya terpanggil untuk membantu ibu saya untuk pulang dan mengurus bisnis itu. Teman-teman saya justru kesal karena saya melepaskan kesempatan emas setelah mendapatkan visa kerja itu," cerita Jessica kepada Media Indonesia, beberapa waktu lalu.

Namun, keputusan itu sepertinya belum terlalu bulat.

Ia bahkan tak langsung memutuskan tinggal di Indonesia.

Jessica masih memilih tinggal di Singapura dan mesti pergi-pulang Singapura-Indonesia.

Empat pekan dibagi dua negara.

"Tapi saya perlu belajar banyak dan harus menguasai semuanya. Jadi, saya harus cepat memutuskan tinggal di negara mana," lanjut dia.

Pada akhirnya, ia pun memutuskan tinggal di Indonesia.

Tak lama setelah itu, Jessica bertandang ke Italia untuk mengasah diri.

Ia sekolah khusus desain sepatu selama enam bulan, tepatnya pada Maret-Agustus 2013.

Dia mengaku sebelumnya tidak mempunyai cukup pengetahuan tentang sepatu, kecuali saat dirinya menjadi sales promotion girl (SPG) produknya.

Ia tidak malu melakukannya.

"Kalau mau belajar bisnis, kita harus memulai dari paling bawah, harus tahu bagaimana melayani pelanggan, dan apa kemauannya. Itu pengalaman yang bagus."

Jessica menambahkan, menjadi SPG sepatu dilakoninya saat ia masih duduk di bangku sekolah menengah.

"Meskipun hanya sepekan setiap liburan, saya juga tetap diberi gaji, itu hanya untuk tambahan uang saku," kata lulusan University of California, Berkeley, itu.

Konsolidasi

Sekembalinya ke Indonesia dari Italia, ia sempat stres karena banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan, terutama untuk membenahi sistem yang sudah sangat usang.

"Ada sistem yang masih manual seperti 20 tahun lalu. Itu tidak ter-update. Jadi, saya kemudian melakukan konsolidasi ke warehouse, inventory, dan juga gudang. Saya kaget banyak barang rusak yang masih disimpan," kata perempuan yang juga pernah bekerja di Merrill Lynch itu.

Saat itu Jessica menggantikan posisi, tugas, dan fungsi General Manager PT Saga Machie lama yang dipegang Marga Singgih, pamannya.

Pergantian itu disebutnya sebagai masa transisi.

Jessica sempat beberapa saat didampingi Marga untuk coaching dan belajar cergas mengambil alih tugas, sambil tetap berguru pada kedua orangtuanya.

"Kedua orangtua sayalah yang banyak memberikan masukan kepada saya terkait kultur Indonesia yang sangat berbeda dengan saya yang cara kerjanya sangat Amerika," kata dia.

Dia mengakui pada awalnya sangat sulit beradaptasi karena gaya dan cara kerja yang sama sekali berbeda.

Pada masa transisi itu, hal pertama ia lakukan ialah berupaya berbicara dengan halus.

Sebelumnya gaya bicaranya sangat 'to the point' yang terkesan kurang lembut.

"Pelan-pelan, memang awalnya saya heran karena orang Indonesia kerjanya pelan banget, lama-lama tinggal di sini saya mengerti kalau bekerja mesti demikian, kita harus bekerja dengan sistem dan tidak bisa melawannya. Penting untuk mengerti bagaimana kerja dengan orang lain," ungkap penggemar yoga itu.

Jessica juga berbagi kunci berelasi baik dengan orang lain dengan tidak memedulikan struktur, yaitu posisi di bawah atau di atas.

Apalagi, dia harus memimpin 350 orang anak buah.

"Yang penting bagaimana memperlakukan orang lain dengan hormat. Saya belajar itu dari Pak Marga, dia mempunyai hubungan yang baik dengan orang lain," kata dia.

Bahasa juga sempat menjadi kendala.

"Awal saya pulang ke Indonesia, saya bahkan tidak bisa menyelesaikan satu kalimat pun dalam bahasa Indonesia sebab saya lahir dan besar di Singapura dan kemudian ke Amerika," kata dia.

Tidak patah arang, dia kemudian belajar bahasa Indonesia melalui percakapan yang intens dengan asisten rumah tangga.

"Selain itu, pacar saya yang orang Indonesia juga mengajari saya berbicara. Selebihnya, saya belajar sendiri," kata anak sulung dari dua saudara itu.

Manfaatkan medsos

Kini, tiga tahun setelah berkecimpung di bisnis sepatu, Jessica mengaku telah melakukan beberapa perubahan.

Salah satunya ialah di area media sosial.

Dia membentuk tim khusus untuk menjual barang secara daring.

Tim khusus yang dia pilih terdiri atas fotografer, desainer grafis, videografer, dan lainnya.

"Ada tim yang lebih fokus mengurusi penjualan daring, dulu sangat kuno," kata dia.

Strategi penjualan melalui media sosial, seperti Instagram, diakuinya terlihat bagus, berkelas, dan tidak standar.

"Ini bagian dari image branding. Saya pilih branding ke level yang lebih tinggi," kata perempuan yang menyukai travelling itu.

Di sisi desain, Jessica juga melakukan perubahan signifikan.

Dulu, kata dia, sebagian besar desain sepatu yang dibuat PT Saga Machie disesuaikan dengan selera ibunya.

"Sekarang taste-nya sudah mengalami improvisasi, ada sentuhan modern tetapi tidak lekang zaman. Orang yang memakainya akan terlihat modern tanpa terlihat sok mau gaya, sok muda. Kita boleh membuat sesuatu yang lokal, tapi tetap dengan standar internasional."

Dengan prinsip itu, ia bahkan sudah mulai mengekspor sepatu ke Jepang walaupun tidak menggunakan salah satu merek dari PT Saga Machie.

Selain itu, dia mengatakan di masa depan ada peluang lebar untuk membuka kesempatan waralaba.

"Waralaba untuk toko atau butik memang ada beberapa yang berminat, misalnya di India, tapi harus ada orang di sana, partnership-nya bagus, dan kepercayaannya terjaga.

Sementara itu, di dalam negeri, Jessica menerapkan strategi efisiensi.

"Dulu kami punya 20 butik, saya hilangkan hingga tinggal 13 buah. Tapi saya baru buka di beberapa kota seperti Manado, Palembang, dan satu di Jakarta, tepatnya di Kuningan City, di situ responsnya sangat bagus," tandasnya.

(E-1)

------------------------------------

BIODATA

Nama: Jessica Lays

Tempat, tanggal lahir: Singapura, 16 Desember 1988

Pengalaman kerja:

1. Commercial Real Estate Services (CBRE) yang berbasis di San Francisco, September 2011-September 2012

2. Merrill Lynch, Juni 2011-Agustus 2011

3. Sonic Wall Inc di San Jose, Februari 2010-Agustus 2010

4. Foothill Entrepreneur Center di Los Altos Hills, Januari 2008-Juni 2009

Pendidikan:

1. Bachelor of Science, Business Administration, University of California, Berkeley, lulus pada Mei 2011

2. Associate of Arts Degrees, Accounting, Economics, Business Administration, Business International Studies, Los Altos Hills, lulus pada Juni 2009.

Hobi:

Berkuliner, main tenis, dan jalan-jalan.

Komentar