Seni

Geliat Festival Musik di Pulau Dewata

Ahad, 4 September 2016 21:35 WIB Penulis: Dzulfikri Putra Malawi/I-1

dzulfikri

SEDERET festival bertaraf internasional bukan menjadi sesutu hal baru bagi Bali, pulau yang disebut-sebut sebagai gerbang pariwisata Indonesia. Beragam festival mulai dari yoga, karya sastra, layang-layang, dan budaya yang rata-rata melibatkan seni musik di dalamnya.

Belum lagi festival khusus musik itu sendiri, bisa dibilang koneksi antara festival musik dan pariwisata Bali sudah saling bersinggungan secara positif dan menjadi embrio kota-kota lain untuk mengembangkan industri kreatif dan potensi alam serta budaya yang bisa dinimkati sekaligus menjadi devisa tiap daerah.

“Bali juga sudah banyak festival besar tiap kampung seperti di Sanur dan Ubud. Skena musik di Bali sangat merespon kesempatan festival musik yang ada. Seharusnya saling memperlkuat dua arah, dari festival dan skena. Ini wadah dan mari kita garap bersama-sama. Tujuannya mutual benefit, band Bali bisa mendapatkan wadah karena festivalnya ada di kampung mereka dan pihak penyelenggara juga bisa merealisasikan konsepnya,” kata vokalis Navicula, Robi kepada Media Indonesia, semalam.

Bulan ini, Bali pun terpilih kembali menjadi tuan rumah helatan musik bertajuk Soundrenaline Festival 2016, Louder than Never di GWK, Uluwatu, Bali sejak kemarin (3/9) hingga hari ini (4/9). Festival musik Indonesia terbesar dengan konsep kolaborasi anta musisi dan pelaku seni lintas disiplin ini untuk ke empat belas kalinya terselenggara.

Beragam latar belakang genre mulai dari arus utama hingga arus pinggir industri musik Tanah Air unjuk kebolehan di hadapan 55 ribu penonton yang hadir dengan membayar tiket Rp200 ribu untuk dua hari. Makin malam, arena festival semakin padat sehingga sulit untuk menjangkau panggung A Stage dan panggung Louder than Ever yang menjadi dua panggung terbesar dari lima panggung yang disediakan.

“Sebagai salah satu festival musik tanah air terlama yang dimulai sejak 2002, Soundrenaline selalu menadi wadah berkarya dan tempat reuni musisi dari beragam latar belakang dan genre. Selaras dengan komitmen pemberdayaan Sampoerna A, tahun ini semua musisi sidestream dan mainstream serta komunitas kreatif akan diberikan ruang yang sama besar untuk saling berkreasi dan memberi inspirasi,” kata managing director KILAU Indonesia yang menyelenggarakan festival ini, Novrial Rustam. Dzulfikri Putra Malawi/I-1

Komentar