DESAIN

Memandang Taman dari Semua Ruang

Ahad, 4 September 2016 01:15 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

MI/GALIH PRADIPTA

DAPUR itu sesungguhnya mungil saja. Namun, suasana di dalamnya nyaman dan sejuk. Pintu dan jendela dapur memang mengarahkan pandangan ke taman seluas 27 meter persegi. Dari taman dengan rumput hijau dan jalan parket kayu di tengahnya itu juga terdengar gemericik air. Sebuah kolam berisi koi memang memanjang di salah satu sisi taman, tersembunyi di balik tangga. Keindahan taman itu juga bisa dilihat dari ruang makan, ruang keluarga, ruang kerja hingga ruang hiburan. Taman itu memang sengaja diletakkan di bagian tengah rumah. Oleh sang pemilik, Eduardus Tri Aryo, kediamannya memang dibuat dalam dua bangunan terpisah dengan total luas 155 meter persegi. Bagian depan merupakan ruang keluarga yang terdiri dari ruang tamu dan ruang makan. Sementara itu, untuk bagian belakang, terdapat bangunan dua lantai yang terdiri dari ruang dapur kotor, ruang kerja, dan ruang hiburan di bagian atasnya. “Kebanyakan orang kan biasanya menempatkan taman atau ruang terbuka itu di belakang rumah. Namun, menurut saya, kalau taman adanya di belakang rumah, fungsinya tidak akan maksimal,” tutur Eduardus saat dikunjungi Media Indonesia di kediamannya di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Senin (29/8).

Penempatan taman di tengah rumah itu juga berdasar pertimbangan jalan depan rumah yang cukup banyak dilalui kendaraan. Dengan taman di tengah, keluarga itu bisa bersantai tanpa merasa privasi mereka terganggu. Tidak hanya itu, taman tersebut juga mendukung untuk menggelar acara keluarga. Maklum saja, Eduardus mengatakan acara kumpul keluarga besarnya umumnya menjamu hingga 40 orang. Di sisi lain, taman di tengah rumah memang membuat mobilitas dari ruangan depan ke ruangan belakang menjadi cukup jauh, terutama bagi sang asisten rumah tangga. Untuk menghubungkan dapur di bangunan belakang dengan ruang cuci, dibuatlah tangga di taman. Bagian dalam rumah sendiri bergaya kontemporer dengan sentuhan lukisan-lukisan pop-art cuplikan dari berbagai komik. Lukisan itu bahkan juga hadir di kamar mandi. Hasilnya pun tampak unik, gambar-gambar pahlawan super yang sedang menggosok gigi maupun menggunakan penyegar mulut berbadu dengan tegel antik bernuansa putih-biru. Nuansa vintage kontemporer juga terasa lewat furnitur-furnitur berbahan kayu. Furnitur tersebut diakui Eduardus dibuat sendiri. “Kebetulan memang saya juga bisa membuat interior rumah. Jadi kebanyakan isi rumah ini saya yang buat sendiri, seperti meja, kursi, dan lemari-lemari,” sambungnya.

Ramah lingkungan
Tidak hanya unik, rumah itu juga ramah lingkungan. Eduardus menggunakan sistem pemanfaatan kembali air hujan. Sistem itu dibuat dengan menyalurkan air dari genteng ke dua sumur resapan. “Satu sumur ada di halaman rumah bagian depan dan satu di taman, bagian tengah rumah. Nanti air hujan yang mengalir dari genteng saya buat tidak langsung jatuh ke bawah, melainkan melalui talang yang nantinya menuju ke resapan,” jelas pria sarjana ekonomi itu. Konsumsi listrik di rumah itu juga bisa ditekan dengan memaksimalkan masuknya cahaya alami. “Di rumah saya ini memang banyak jendela dan bukaan sehingga hemat listrik. Yang pasti kalau siang, saya jarang menyalakan lampu dan pendingin udara. Paling kalau sedang ada tamu saja,” pungkasnya. (M-3)

Komentar