Cerpen

Parlemen Kurawa

Ahad, 4 September 2016 00:30 WIB Penulis: (M-4)

PEKAN lalu Ketua DPR Ade Komarudin (Akom) melontarkan gagasannya membangun sekolah parlemen. Tujuannya, katanya, meningkatkan kualitas anggota dewan yang banyak dikeluhkan rakya, terutama menambah kapabilitas mereka dalam legislasi, pengawasan, dan anggaran. Akal sehat tentu menyambut baik setiap upaya meningkatkan mutu, apa pun itu. Namun, akal waras kita pun menyela, bukankah semestinya (taken for granted) setiap orang yang menjadi anggota parlemen itu sudah bermutu luar-dalam. Parlemen bukan tempat main-main (trial and error), melainkan gelanggang pengabdian sekaligus perjuangan demi rakyat. Namun, sejujurnya memang masih banyak ‘orang-orang terhormat’ di parlemen kita saat ini yang kualitasnya ‘Kw-Kw’. Karena itu, wajar-wajar saja meski usia reformasi sudah hampir dua dekade, derap dan perjalanan bangsa ini meraih kejayaan masih gonjing.

Malas bersekolah
Anggota parlemen ‘Kw-Kw’ semacam itu, dalam cerita wayang, juga pernah terjadi di Negara Astina ketika Prabu Duryudana berkuasa. Yang benar-benar berkualitas hanya beberapa gelintir. Parlemen pada masa itu tercatat yang paling suram dalam sejarah Astina. Roh parlemen merepresentasikan dogma Sengkuni yang machiavelis-pragmatis. Kuatnya pengaruh Sengkuni pada parlemen disebabkan lembaga itu didominasi Partai Kurawa. Sengkuni ialah mentor keluarga Kurawa yang tidak lain para keponakannya sendiri. Maka, korupsi, kolusi, nepotisme subur. Yang makmur nan sejahtera hanyalah golongan mereka dan kroni-kroni. Kalau ditilik jauh ke belakang, Resi Bhisma, sebagai bapak bangsa sekaligus pemilik sejati takhta Astina, telah berpikir panjang akan masa depan Tanah Airnya. Maka, ia menyekolahkan anggota keluarga Kurawa dan Pandawa sebagai generasi penerus bangsa. Di tangan para cucu mantan penguasa Astina Prabu Kresnadwipayana itulah masa depan Astina dipertaruhkan.

Kurawa dan Pandawa disekolahkan di Padepokan Sokalima yang dipimpin Begawan Durna. Dalam perjalanannya, hanya Pandawa (putra Pandudewanata-Kunti/Madrim) yang sregep belajar, sedangkan Kurawa (putra-putri Drestarastra-Gendari) malas. Kurawa lebih memilih ‘les’ pribadi ke pamannya, Sengkuni, karena pelajarannya gampang dan menyenangkan. Di balik yang serbamudah itu, kurikulum Sengkuni yang dikhotbahkan kepada para Kurawa sesungguhnya merupakan bagian dari skenario rahasia bila Astina terjadi peralihan kekuasaan. Mata pelajarannya semata-mata untuk menyongsong perebutan kekuasaan. Maka, ketika Pandudewanata gugur, Sengkuni tidak kesulitan mendudukkan sulung Kurawa, Duryudana, menjadi raja. Bahkan, Kurawa juga berhasil menyingkirkan Pandawa dari perpolitikan Astina. Padahal, Pandawa ahli waris taktha Astina sepeninggal ayah mereka. Praktis, selama Duryudana berkuasa, parlemen dikuasai ‘partai’ Kurawa. Di sana bercokol ratusan anggota yang tidak bermutu, grade rendah dan SDM lemah. Jangankan berpikir untuk rakyat, soal fungsi, tugas, dan tanggung jawab mereka sebagai anggota saja tidak paham.

Di antara mereka yang paling populer ialah Dursasana, Durmagati, Citraksi, Citraksa, Kartamarma, Tirtanata, dan Aswatama. Mereka dikenal bukan karena dedikasi dan integritasnya, melainkan mereka sering diomongin rakyat akibat ‘kelucuan’ masing-masing. Misalnya, Dursasana, anggota parlemen dari daerah pemilihan (dapil) Banjarjunut. Rakyat mengingatnya sebagai elite yang gemar cengengesan (berkelakar). Tidak jelas sikapnya. Antara serius dan guyon bias. Semua urusan dikelola gampangan dan serampangan, yang penting untuk mengenakkan dirinya sendiri. Perilakunya pun hedonis. Ia suka pamer kekayaan, penampilannya sehari-hari perlente. Kemudian, Durmagati dari dapil Sobrahblambangan. Sebenarnya, anggota parlemen itu cukup vokal. Ia terkesan peka akan aspirasi rakyat. Sayangnya, suaranya bindeng (sengau) sehingga sering pesan-pesan yang diutarakan terdengar rancu. Lagi pula, dalam menyuarakan nurani rakyat, ia tidak konsisten. Karakternya lemah. Ia gampang menyerah ketika suaranya dipatahkan anggota lainnya.

Senada dengan Durmagati, anggota parlemen dari dapil Carangmanis, yakni Citraksi. Figur yang satu ini sebenarnya cukup lantang berteriak. Semangatnya menggebu-gebu, tapi gagasan dan perjuangannya tidak runut, sering tumpang-tindih. Kelemahan lain yang mencolok, ia pada akhirnya lebih suka menjadi follower suara terbanyak ketika terjadi perdebatan seru tentang suatu persoalan. Anggota parlemen lain yang kondang ialah Citraksa dari dapil Caranggaglah. Ia populer bukan karena kecerdasannya, melainkan pembawaannya yang grusa-grusu, serbaterburu-buru. Sebenarnya, ia cukup tanggap dengan suara rakyat, tetapi karena kepribadiannya yang tidak bisa tenang, perjuangannya malah keliru. Yang digelorakan malah tidak nyambung dengan aspirasi rakyat yang sebenarnya. Selanjutnya Kartamarma. Anggota parlemen dari dapil Tirtatinalang ini dikenal anteng, tidak suka bersuara. Ia tidak pernah menyuarakan dan memperjuangkan aspirasi dari dapilnya. Prestasi Kartamarma sekadar rajin mengantor. Sesekali ia tertidur di ruang rapat. Anggota parlemen yang juga tidak pernah terdengar pemikirannya ialah Tirtanata dari dapil Sindu. Barangkali, itu akibat latar belakang pribadinya yang bukan keluarga inti Kurawa. Ia masuk parlemen berkat status dirinya sebagai suami Dursilawati, satu-satunya perempuan dalam keluarga Kurawa. Tandatangannya selalu jelas tertulis dalam buku hadir, tetapi tak jarang fisiknya absen di ruang rapat. Hal yang nyaris sama dengan Tirtanata yaitu Aswatama dari dapil Sokalima. Keberadaannya di parlemen semata karena peran sang ayah, Durna, yang menjadi anggota dewan pertimbangan raja. Karena itu, Aswatama memilih tahu diri. Namun, sikapnya disiplin. Ia hampir selalu hadir dalam rapat-rapat penting, terutama bila membahas anggaran.

Tanggung jawab parpol
Bisa dibayangkan eksistensi Astina dengan lembaga parlemennya yang SDM-nya lemah seperti itu. Maka, masuk nalar bila selama rezim Kurawa berkuasa, Astina mengalami stagnansi, bahkan kemunduran. Astina yang adi daya dan kuncara njara langit (terkenal di seluruh dunia) lalu menyuram dan terpinggirkan dari percaturan dunia internasional. Dalam konteks ide Akom mendirikan sekolah parlemen, sesungguhnya baik-baik saja karena itu dilatarbelakangi atas kesadarannya akan rendahnya kompetensi anggota DPR. Namun, memang jadi terdengar menggelikan ketika anggota parlemen masih harus disekolahkan. Padahal, standarnya, mereka sudah harus langsung tune-in dengan semua pekerjaan. Kualitas anggota dewan sesungguhnya merupakan tanggung jawab parpol. Merekalah yang harus menggembleng para kader mulai dari hal-hal yang bersifat mendasar hingga yang tinggi sehingga mumpuni. Jangan hanya karena nafsu mendapatkan suara banyak dalam pemilu, parpol lantas serampangan mengader sehingga akhirnya ‘nyampah’ di parlemen. (M-4)

Komentar