Surat Dari Seberang

Jangan Tanyakan Nasionalisme Kami

Senin, 22 August 2016 11:03 WIB Penulis: Iwan J Kurniawan, koresponden Media Indonesia dari Rusia

MI/Iwan J Kurniawan

EMPAT petugas polisi Rusia sigap berjaga-jaga di Jalan Novokuznetskaya 12, Moskow, Federasi Rusia. Di bawah bayangan pepohonan rindang, mereka melirik ke berbagai arah guna memastikan semuanya baik-baik saja.

Orang-orang pun silih berganti masuk ke kawasan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), itu. Semua datang untuk satu tujuan. Yaitu, menghadiri upacara pengibaran dan penurunan sang saka Merah Putih, Rabu (17/8).

Jarum jam tepat di angka 09.00 waktu setempat. Matahari sudah bersinar. Udara pun masih di ambang normal antara 20-27 derajad Celcius. Itu pagi tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Semua warga Indonesia, pekerja, dan pelajar yang berada di Moskow dan kota lainnya, berbondong-bondong hadir. Tak lain tuk merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-71, itu.

Pada pukul 10.00, Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarusia, M Wahid Supriyadi, muncul dari samping bangunan utama. Ia nampak berpakaian resmi hitam plus peci. Ia melangkah perlahan menuju ke sebuah lapangan tenis di kompleks KBRI. Tak lain tuk memimpin upacara pengibaran sang saka Merah Putih.

Peserta terdiri dari tiga kelompok. Mereka adalah pejabat/staf KBRI, murid-murid SIM (Sekolah Indonesia Moskow), dan mahasiswa/masyarakat Indonesia yang tinggal di Rusia. Perayaan upacara memang perlu dan harus. Itu sebagai sebuah loyalitas terhadap republik.

Sebagaimana sebuah seremonial kenegaraan, kurang lebih 3 ratus orang hadiri upacara pengibaran bendera ini. Acara berlangsung secara khidmat. Kesigapan para petugas Paskibraka juga apik dan rapih.

Setelah upacara, acara dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada staf KBRI dan tamu kehormatan. Lalu, ada ramah tamah, seminar, bazar sembako, dan makan siang bersama.

Suguhan kuliner khas Nusantara, seperti ayam kecap, bakso, mie, sambal, dan sebagainya pun terhidang terbuka. Itu memang menjadi tradisi perayaan Hari Kemerdekaan yang diadakan setiap tahun di Moskow.

Setelah makan siang, acara pun berpangkal dengan suguhan pertunjukan. Ada tarian, nyanyian, dan dangdutan. Semuanya berlangsung meriah. Apalagi, para penampil tidak hanya orang Indonesia, namun juga orang Rusia.

Nasionalisme mahasiswa korban 65
Di balik perayaan penuh kekeluargaan itu, ada hal menarik yang saya jumpai. Terutama, para eks Mahasiswa Indonesia Ikatan Dinas (eks Mahid) era 50/60-an yang sudah memutuskan untuk menetap di Moskow. Itu tidak lepas dari peristiwa 65.

Sartoyo (kursi roda), Eks Mahasiswa Indonesia Ikatan Dinas (eks Mahid) era 50/60-an korban 65 mengikuti upacara Hari Ulang Tahun RI ke-71 di KBRI Moskow

Memang, sejarah masa silam terkait peristiwa itu membuat mereka terpaksa. Harus memilih untuk menetap di Negeri Beruang Merah. Padahal, sebagian besar eks mahasiswa yang saat itu sedang belajar, tidak terkait dengan aktivitas Partai Komunis Indonesia. Peralihan kepemimpinan dari Soekarno ke Soeharto berdampak buruk bagi sebagian besar mahasiswa di zaman tersebut.

Para eks mahasiswa era 50/60 itu kini memang sudah mendapat pemulihan nama baik. Itu terjadi setelah Reformasi. Kendari demikian, stigma negatif terhadap mereka seakan tetap saja melekat erat.

"Jangan pernah tanyakan tentang rasa nasionalisme. Saya ini pengikut Merah Putih sampai kapan pun. Saya hanya korban di masa 65 saja," ujar Sumanto Saman, 75, di sela-sela acara HUT RI itu.

Sumanto datang sendiri dengan menumpangi transportasi umum. Ia nampak menggunakan jas. Rambutnya terlihat rapih. Ia adalah seorang pakar Mikro Biologi yang sudah 40 tahun lebih bekerja bagi pemerintah Rusia (sebelumnya Uni Soviet). Meski rekan-rekannya sudah mendapatkan paspor Indonesia, namun ia belum.

"Dahulu saya meminta-minta ke republik agar paspor saya dipulihkan. Setelah era Reformasi memang sudah bisa didapatkan kembali. Namun, sangat lama saya mengharap dan menunggu. Sekarang, saya nggak mau saja (mengurus paspor) karena sudah tua," ujar lelaki yang mengaku belum pernah pulang ke Tanah Air, itu.

Dampak politik memang berbuah apes bagi Sumanto. Ia mengaku dirinya bukanlah seorang komunis. Pasalnya, ia datang ke Moskow dulu sebagai Duta Ampera dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung.

"Ketua kami Mayor Jenderal TNI Moestopo saat saya kuliah di Unpad dahulu. Tapi, saat peralihan kekuasaan, semua mahasiswa yang sekolah di Rusia dianggap sebagai pengikut komunis. Padahal, tidak semua mahasiswa. Gerakan Ampera itu kan nasionalis," cetusnya dengan mata berkaca-kaca.

Sumanto pun mengaku setahun sekali datang ke KBRI Moskow. Itu pun hanya untuk menghadiri undangan perayaan 17 Agustusan. Kesibukakan dia mengabdi sebagai tenaga ahli di sebuah universitas ternama di Moskow, cukup menyita waktunya. "Sibuk untuk bekerja sehingga tak sempat punya waktu luang," cetusnya.

Siang itu, Sumanto berbaur santai bersama orang-orang. Ada tiga rekan Sumanto yang juga hadir. Mereka adalah Sudaryanto, Sumanto (seorang insinyur), dan Sartoyo. Sebagian dari mereka datang bersama anak dan cucu yang berkulit putih dan berambut pirang.

"Selama ini saya belum pernah pulang," cetus Sumanto saat berbicara dengan Sudaryanto. "Kenapa?" jawab Sudaryanto sedikit heran. "Paspor saya belum diurus. Sudah tua pula untuk ngurus," jawab Sumanto, singkat. "Saya sendiri sudah tiga kali pulang ke Indonesia, lo. Nanti saya nemanin Anda untuk ngurus. Gampang kok," rayu Sudaryanto.

Sejenak, Sudaryanto melangkah ke arah lapangan tenis. Daun-daun yang kuning mulai luruh perlahan. Ia nampak berjabat tangan dengan beberapa mahasiswa dan pejabat. Sedangkan, Sumanto sejurus mengambil segelas kopi plus kue lemper ayam dan bolu. "Lemper ini enak, lo. Saya suka karena lembut dan gurih," ucapnya, sumringah.

Tarian topeng
Di sela-sela santap siang, semua tamu yang hadir pun ternganga. Mereka antusias menyaksikan pentas Tari Topeng Cirebonan suguhan seorang penari Rusia, Ekaterina Makanina. Ia tampil hanya selama 5 menit. Itu pun cukup membuat suasana pun lebih meriah. Maklum, Ekaterina adalah salah satu penari yang pernah belajar di Indonesia.

Ekaterina masuk dari sisi kanan. Ia nampak tenang beraksi. Jemarinya cukup lentik bergerak sambil menggunakan topeng berwarna merah. Ia lincah menari di hadapan penonton. Para tetua dan pemuda pun memberikan tepuk tangan meriah.

Perayaan HUT RI di Rusia menunjukkan bukti autentik tentang rasa nasionalisme. Semua berkumpul demi persatuan dan kesatuan. Di saat jauh dari Tanah Air, sebagian perantau saling berkerumun. Tuk mengingat kembali perjuangan para pahlawan. Terutama, dalam merebut kemerdekaan.

Tepat pukul 16.00, pelajar, masyarakat, dan petinggi KBRI kembali mengikuti upacara penurunan bendera. Sesi itu, Kepala Kanselerai Lasro Simbolon mengambil peran sebagai pemimpin upacara.

Di kelompok masyarakat, Sartoyo, yang kini sudah duduk di kursi roda, nampak hadir. Ia senang karena bisa mengikuti upacara tersebut. Meski sudah puluhan tahun hidup sebagai warga negara Rusia, ia tetap rindu Tanah Air.

Persoalan politik di masa 65 membuat Sartoyo dan beberapa temannya hidup di dalam pengasingan hingga mendapatkan kewarganegaraan asing tersebut. Meski demikian, kecintaan pada Indonesia tetap ia pupuk lewat kehadirannya di perayaan 17 Agustusan setiap tahunnya.

"Indonesia di era Soekarno masih membekas di ingatan saya. Sebagai orang Indonesia, saya merasa senang. Saya bisa ikut upacara tahun ini. Padahal, saya sudah sakit-sakitan," cetusnya seraya mengepal tangan sebagai lambang kebebasan.

Sore sudah beranjak pergi. Satu per satu orang pun mulai melangkah meninggalkan Jalan Novokuznetskaya 12. Semuanya pulang dengan satu harapan. Tetap menjaga kebersamaan dan kekeluargaan di negeri perantauan. Sekali merdeka, tetaplah merdeka, Bung! (...)

Komentar