DESAIN

Tropical meski Minim Penghijauan

Ahad, 21 August 2016 11:28 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

DOK WANLIE ALIWIYANA

KOKOH, tapi tidak dingin. Begitulah kesan yang tertangkap dari muka rumah di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, tersebut. Fasad depan rumah didominasi batu marmer dalam tiga bidang besar.

Batu marmer travertine kecokelatan yang merupakan batu curibdan yang sengaja didatangkan dari Yogyakarta itu berpadu pas dengan bilah-bilah kayu bangkirai di sebagian sisi lain muka rumah. Di antara banyaknya nuansa cokelat itu, semburat hijau seperti mengintip malu-malu lewat tanaman di balkon dan pucuk-pucuk muda daun kamboja.

Meski semburat hijau hanya minimal, sang desainer rumah itu, Wanlie Aliwayana, menyebut konsepnya sebagai tropical. "Arti tropical disini bukan ada pohon kelapa, melainkan memang ada sedikit penghijauan di dalam rumah yang dipadukan dengan material rumah berwarna cokelat. Jadi perpaduan di dalam rumah itu cocok dengan konsep tropical," tutur Wanlie kepada Media Indonesia di Jakarta, Kamis (11/8).

Ruang terbuka dengan penghijauan baru menjadi pemandangan utama di dalam rumah. Tak tanggung-tanggung, di rumah yang berdiri di atas tanah 220 meter persegi itu, porsi ruang terbuka sama dengan ruang utama yang luasnya mencapai 35 meter persegi.

Di ruang terbuka itu, pemilik rumah menanam tiga pohon pulai dengan ketinggian mencapai 6 meter. Dedaunan hijau cukup lebat menjulang tinggi semakin membuat segar udara yang mengalir di seisi bagian rumah.

"Sebelah ruang terbuka juga sengaja ditempatkan di ruang makan dan ruang keluarga yang dipisahkan dengan pintu kaca geser agar menghemat tempat. Dengan begitu, jika sedang tidak ingin pasang pendingin ruangan, penghuni rumah tinggal buka pintu kaca saja dan udara sudah terasa mengalir," sambung Wanlie.

Uniknya lagi, untuk menghilangkan kesan kaku dan monoton pada bagian plafon rumah, pemilik rumah meminta supaya ada penggabungan antara plafon putih dan desain kayu di dalamnya. Akibatnya, banyak bagian plafon di rumah yang di tengahnya menggunakan desain kayu.

Dengan tinggi setiap lantai bagian rumah mencapai 3 meter, kesan rumah modern memang begitu terasa. Ditambah ada banyak variasi pada penggunaan plafon rumah yang tidak melulu berwarna putih sehingga menghasilkan perpaduan warna yang begitu kalem.
"Sebenarnya kalau untuk desain plafon supaya tidak bosan saja. Kalau pakai plafon biasa kan semuanya hanya putih. Nah, pemilik rumah ingin sesuatu yang berbeda, supaya tidak cepat bosan. Karena kebetulan suka kayu, jadi saya gabungkan dengan kayu," tutur Wanlie.

Kesan hangat

Untuk memaksimalkan konsep rumah tropical, Wanlie bersama pemilik rumah sepakat untuk banyak menggunakan bahan bangunan dari material alam, di antaranya menggunakan kayu jati, batu granit, dan ada pula batu curibdan asal Yogyakarta yang digunakan di dinding taman.

Kayu jati juga digunakan di beberapa furnitur rumah, termasuk meja makan. Di tiga kamar tidur, unsur jati hadir lewat lantai parquet. Dengan pantulan lampu sorot berwarna kuning cerah yang ditempatkan pada bagian-bagian tertentu, bagian-bagian rumah termasuki kamar tampak hangat dan menenangkan.

"Peran lampu harus dimaksimalkan. Karena jika hanya menggunakan lampu biasa, tentu hasilnya akan beda, sehingga memang harus menggunakan spotlight," jelas Wanlie. (M-3)

Komentar