DESAIN

Buaian Gamelan di Rumah Anto

Ahad, 14 August 2016 12:00 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

MI/GALIH PRADIPTA

SEPERANGKAT gamelan tertata rapi di pendopo hijau itu. Kelengkapan instrumen gamelan itu, mulai set gong, bonang, kenong, hingga kendang, mengisyaratkan seringnya permainan tembang Jawa di sana. "Saya bisa main, keluarga saya juga suka... sebulan atau dua bulan sekali kita undang pemain gamelan dan undang tetangga-tetangga juga," kata Anto Sukardjo di kediamannya di Jatiwarna, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (3/8).

Kediaman pria berusia 66 tahun itu memang ibarat rumah pementasan Jawa. Area sekitar pendopo pun sangat mendukung untuk kumpul dan bersantai dengan taman hijau dan kolam renang. Bagian-bagian lain rumah seluas 750 meter persegi itu juga penuh dengan dengan barang antik. Sebagian besar dari tanah Surakarta, Yogyakarta, dan Semarang. Namun, ada pula barang-barang antik dari Kalimantan, Flores, dan Lombok.

Barang dan kerajinan tradisional itu se ngaja ditata menjadi daya tarik utama rumah, seperti di ruang keluarga dengan dinding berhias wayang dan gunungan. Ada pula diagram jenis-jenis wayang hingga bagian-bagian ornamennya. Berlimpahnya barang antik sampai terlihat pada pegangan tangga yang dihiasi dengan lonceng kuno.

"Memang saya sangat menyukai dan menghargai keberadan barang antik. Terlebih banyak juga peninggalan orangtua saya seperti seperangkat alat musik gamelan ini. Untuk barang antik lainnya memang saya banyak dapat dan beli dari berbagai tempat," tutur pria yang akrab disapa Anto itu.

Anto juga terlihat memikirkan hingga ke tampilan dan suasana total di rumah itu. Untuk menguatkan kesan klasik dan romantisme tempo dulu, di hampir seluruh ruangan ditempatkan lampu duduk dan berdiri yang memancarkan sinar kuning. Kecintaannya terhadap barang antik juga didukung sang istri, Dyah Sintowati. Itu malah berpadu serasi dengan hobi melukis mereka. Hasil goresan sang istri dan Anto berpadu serasi dengan barang-barang antik.

Namun, ada pula sudut-sudut rumah yang lebih menonjolkan nuansa natural. Salah satunya ialah dinding tangga yang berdetail batu-batu menonjol. Batu-batu itu dicat sama dengan dinding, putih gading, sehingga tampilannya tetap rapi.

Kursi

Ayah lima anak itu mengaku baru menempati rumah tersebut dua tahun yang lalu. Meski sudah memiliki tanah tersebut sejak 1980, pada kurun periode itu Anto hanya menjadikan tanah seluas sekitar 800 meter persegi itu sebagai gudang barang antik dan workshop tempatnya bekerja. Barulah setelah menempati rumah itu pada 2014, Anto mengeluarkan segala barang antik yang sudah dimiliki dan dikumpulkan selama ini. Salah satu barang favoritnya ialah kursi. Karena itu, jangan kaget jika di seluruh bagian rumah akan ditemui kursi.

"Mungkin memang kebetulan karena barang antik itu kebanyakan kursi. Jadi saya ketika mengumpulkan tidak terasa, ternyata sudah ada banyak," kata Anto. Jika dihitung, mungkin koleksi kursi yang juga digunakan sebagai tempat duduk oleh Anto mencapai angka 30 yang terdiri dari kursi santai, kursi makan, hingga kursi goyang. Semua dimiliki Anto. Menurutnya, ia banyak mendapatkan kursi berbagai model dari kolektor hingga penjual barang antik di sejumlah daerah. Banyaknya kursi itu pun kerap membuat saudara dan keluarganya bingung ketika mengunjungi rumahnya. Sampai-sampai banyak sanak saudara yang kebingungan memilih tempat duduk di rumahnya itu.

"Waktu itu keluarga istri saya datang dan sedang main di rumah. Dia bingung dan bilang di mana-mana ada kursi. Kalau banyak kursi gini kan enak, apalagi bagi orangtua seperti saya, kalau lelah, tinggal langsung duduk. Enggak perlu jauh-jauh cari kursi," candanya. (M-3)

Komentar