Eksekutif

Menggarap Peluang di Bisnis Permainan

Senin, 8 August 2016 05:10 WIB Penulis: Anastasia Arvirianty

MI/ ROMMY PUJIANTO

GEORGE Bernard Shaw, penulis terkenal dari Irlandia, pernah berkata seseorang tidak berhenti bermain karena sudah tua, tetapi mereka menjadi tua karena mereka berhenti bermain.

Kutipan terkenal itu tidak pernah lekang karena sejatinya manusia di semua tingkatan usia umumnya menyukai permainan (gim).

Di era digital, seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan semakin terjangkaunya biaya koneksi internet, permainan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kepemilikan peranti komunikasi, seperti ponsel pintar ataupun gadget khusus untuk menyalurkan hobi bermain gim.

Hal itu pula yang membuat seorang Iwan Tjam, yang bertumbuh kembang di era gim digital, termotivasi untuk memulai bisnisnya.

Seusai menuntaskan kuliah di Nanyang Technology University (NTU) Singapura, pada 1998 Iwan bergabung dengan perusahaan teknologi bernama Micron Semiconductor Asia Pte Ltd.

Selama satu dekade berkarier di perusahaan yang berpusat di 'Negeri Singa' dan sempat ditugasi di Amerika Serikat belum membuat Iwan berpuas diri.

Bermula dari keinginannya bersama teman-temannya untuk memulai usaha, ia pun mulai memikirkan usaha apa yang cocok dan menyenangkan untuk dijalani.

"Lalu kami sadar sesuatu, kami semua ini kan suka main gim. Bahkan, ada beberapa teman-teman saya yang merupakan pengembang gim dan membawa gim yang dikembangkan itu masuk ke Indonesia," tutur Chief Executive Officer (CEO) of PT Indomog itu kepada Media Indonesia di kantornya, di Kawasan SCBD, Jakarta, akhir Juli 2016.

Awalnya, ia bersama dengan teman-temannya ingin mendirikan sebuah perusahaan pembuat gim atau game publisher.

Namun, ketika itu, internet belum begitu berkembang seperti saat ini sehingga dinilai tidak begitu atraktif. Selain itu, harga internet yang masih mahal di kala itu juga menjadi pertimbangan perusahaan.

Karena itu, ia bersama tim harus kembali memutar otak dan mencari solusi.

"Kami beralih menjadi penyedia jasa pembayaran (payment) game daring," tambah pria berkacamata itu.

Ia menjelaskan, sampai saat ini, apabila ingin memainkan gim daring, pemain harus membeli gim itu, apalagi jika ingin memainkannya sepuas mungkin.

Namun, harga sebuah gim daring tidak murah dan dirasa kurang efisien.

Dengan demikian, ia mempunyai ide dan menawarkan solusi pembayaran gim daring yang berbentuk voucer fisik.

Ia pun mendirikan PT Indomog pada 2008 yang merupakan perusahaan yang bergerak dalam sistem solusi pembayaran daring (online payment solution) untuk seluruh lapisan masyarakat.

"Indomog menyediakan beragam konten digital, seperti voucer gim, pulsa seluler, musik, dan komik."

Di samping itu, tambahnya, perusahaan penyedia jasa pembayaran gim daring dirasa masih langka, tapi kehadirannya dibutuhkan.

"Apalagi e-commerce pada 2008 juga masih jarang sehingga di kala itu hanya gim yang bisa dibeli secara daring."

Mulanya, Indomog hanya berperan sebagai reseller voucer gim daring.

Namun, lambat laun, perusahaan mulai menerbitkan sendiri voucer mereka dan sampai saat ini menjadi penyedia jasa pembayaran gim daring yang terkenal se-Indonesia.

Iwan membeberkan, distribusi yang andal menjadi kunci kesuksesan Indomog.

Menurutnya, pemilihan jalur distribusi yang efektif dan efisien mesti jadi pertimbangan utama sehingga toko ritel menjadi pilihannya.

Penjual dibuat menjadi sehemat mungkin dalam pengeluaran dan praktis.

Dengan voucer, mereka bisa membeli semua gim daripada hanya membelinya satu-satu.

"Kami distribusikan voucer-voucer kami sebagian besar di warung internet (warnet), toko Seven Eleven, Alfamart, Indomaret, dan sebagainya. Sekarang, lebih mudah lagi. Dengan era digital ini, voucer pun bisa dibeli lewat situs kami," ungkap sarjana teknologi ini.

Solusi pembayaran daring

Meski Indomog besar melalui gim daring, Iwan tidak ingin perusahaannya hanya menjadi pembiaya gim daring di bidang voucer permainan dan pulsa telepon.

Indomog kini mulai merancang ekspansi untuk menjadi solusi pembiayaan daring di bidang lainnya, seperti asuransi, listrik, dan kredit.

Lebih lanjut, Iwan menuturkan rencana itu merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk lebih dikenal secara lebih luas oleh masyarakat.

Ia tidak ingin perusahaannya hanya dikenal sebagai penyedia payment voucer gim daring dan pulsa telepon, tetapi juga di bidang lain.

"Kami sudah mulai dengan masuk di sektor e-commerce beberapa waktu lalu. Memang saat ini kliennya lebih banyak di luar negeri, tapi kami sekarang sedang jajaki kerja sama dengan e-commerce terkenal di Indonesia, seperti Lazada, dan Bukalapak," papar Iwan.

Selain itu, ia mengungkapkan, perusahaannya juga ingin menjangkau masyarakat yang belum bankable sehingga mereka mampu berbelanja daring.

Iwan menjelaskan, pembayaran belanja daring biasanya menggunakan jasa transfer dari perbankan.

Masyarakat atau pelanggan yang belum mempunyai rekening bank diharapkan mampu berbelanja produk dan memenuhi kebutuhan.

Nantinya, mereka bisa menggunakan jasa pembiayaan melalui voucer dari Indomog.

Ia menambahkan, tidak hanya untuk berbelanja, voucer dari Indomog juga bisa digunakan untuk pembayaran listrik, asuransi mikro, dan melakukan kredit.

Iwan pun mengakui, untuk mewujudkan rencana ekspansi itu, saat ini pihaknya tengah memetakan jalinan kerja sama dengan beberapa pihak ketiga.

"Sudah terpikir beberapa pihak, tapi belum bisa disclose sekarang ya."

Iwan juga menegaskan ini merupakan saat bagi perusahaannya untuk bereksplorasi dan mengembangkan produk baru yang bisa ditawarkan dari sebuah kartu voucer, di luar voucer permainan daring dan pulsa telepon.

"Sebab, kami ingin menjadi perusahaan layanan finansial nomor satu bagi masyarakat Indonesia."

Butuh SDM andal

Di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Iwan mengatakan, kehadiran tenaga IT yang andal menjadi kebutuhan, apalagi pesaing-pesaing datang dari negara lain.

Menurutnya, kekurangan ilmu IT di Indonesia ada pada proses pembelajaran.

Ia membandingkannya ketika dulu belajar IT di Singapura.

Kala itu, meski murid-murid mengambil penjurusan, mereka tetap diwajibkan memahami mata kuliah lain meski hanya dasar-dasarnya.

Indonesia, lanjutnya, terlalu menjurus dari awal. Orang IT belum tentu bisa melakukan database, atau orang yang bisa database belum tentu bisa programing.

Iwan melihat hal itu seperti orang yang ingin membangun rumah, tapi hanya bisa bikin kursi, tidak ada gambaran rumah seperti apa, tidak tahu keseluruhannya, dan tidak punya cetak birunya.

Hal itu yang membuatnya cukup kesulitan mencari karyawan.

Ketika ia mewawancarai pelamar kerja, tidak sedikit dari mereka yang mengaku hanya bisa programing, hanya bisa database.

"Jadi susahnya di situ, kebanyakan sistem edukasi kita kurang menyeluruh atau encourage masyarakat untuk menjadi entrepreneur," aku Iwan.

Infrastruktur IT pun, menurutnya, juga perlu ditingkatkan dan mesti merata, tidak hanya di satu daerah atau kota-kota besar.

Sebagai seorang pemimpin, ia mengaku tentunya tidak mudah membawahkan kurang lebih 100 karyawan di Indomog.

Namun, bagi Iwan, hal tersebut bisa menjadi mudah asal kerja sama dan rasa saling percaya diterapkan di dalam tim.

"Saya orangnya fleksibel. Dalam memimpin, saya mesti tahu situasi, kapan saya harus keras, tegas, serius, dan santai. Yang penting menyesuaikan saja," tandasnya.

(E-4)

----------------------------------------------

Biodata

Nama: Iwan Tjam

Pendidikan: Nanyang Technology University (NTU), Singapura

Karier:

2008-sekarang: CEO of Indomog

1998-2008: Micron Semiconductor, Singapura, dan Micron Semiconductor, Amerika Serikat

Komentar