Eksekutif

Sapi Bahagia Bisnis pun Sukses

Senin, 1 August 2016 05:51 WIB Penulis: Andhika Prasetyo

MI/Ramdani

Kesuksesan perusahaan yang telah tercapai saat ini merupakan efek dari perasaan bahagia yang dirasakan para sapi.

MEMBERIKAN nutrisi yang baik sehingga mampu menciptakan masyarakat yang sehat, itulah yang tertanam dalam benak Edgar Collins. Apa yang dilakukan pria keturunan Australia itu dengan bisnisnya saat ini bukan untuk mengumpulkan pundi-pundi uang semata.

"Kami memiliki tanggung jawab yang luar biasa. Yang kami lakukan, yang kami produksi, ialah kebutuhan yang sangat penting bagi anak-anak," ucap Collins, CEO PT Austasia Food, saat ditemui di Wisma Millenia, Jakarta, Rabu (27/7) pekan lalu.

Generasi muda yang sehat, lanjutnya, akan membawa sebuah bangsa menjadi besar di masa mendatang.

Collins merupakan sosok yang memiliki peran penting dalam pengembangan industri susu nasional. Perusahaan yang dipimpinnya saat ini merupakan salah satu kontributor besar dalam produksi susu murni di Tanah Air dengan jumlah 25 juta liter, atau sekitar 24,5 ribu ton per tahun. Angka itu terbilang cukup besar walaupun masih jauh untuk memenuhi kebutuhan nasional yang mencapai 3,5 juta ton per tahun.

Karena terlahir dari keluarga yang gemar beternak, berkecimpung dalam industri susu jelas bukan hal baru bagi Collins. Pengalaman dan pengetahuannya akan beternak dan memerah sapi yang didapat langsung dari sang ayah membuatnya paham apa yang harus ia lakukan.

Di Tanah Air, ia memulai karier dalam industri susu sejak 1997. Saat itu, Collins, bersama seorang rekannya asal Indonesia, memutuskan membangun sebuah peternakan dan pabrik susu di Malang, Jawa Timur.

"Kami membangunnya di wilayah Gunung Kawi, Malang. Tepat di sisi gunung untuk mendapatkan iklim yang bagus," tutur Collins.

Proses pembangunan pabrik itu, sambungnya, dimulai pada 1999 dan selesai pada 2000. Setelah semua rampung, Austasia pun melebarkan sayap bisnisnya dengan mencetak brand Greenfield, produk susu segar yang kini mendominasi pasar lokal.

"Kami langsung beroperasi. Mulai dari kecil. Waktu itu, kami hanya punya 100 sapi perah. Saya ingat ketika kami pertama menjual 1 liter susu hingga akhirnya menjadi pemimpin pasar susu segar di Indonesia saat ini," lanjutnya.

Enam belas tahun berselang, Austasia kini memiliki 8.000 sapi yang mampu memproduksi susu dengan kualitas terbaik.

"Kami memiliki pabrik yang terintegrasi. Artinya, susu-susu itu diproduksi, diproses, dan dikemas dalam satu wilayah yang sama. Hal itu dilakukan agar kami dapat mengontrol keamanan dan kebersihannya dan jelas itu sangat efektif dan efisien," papar Collins.

Ia juga memastikan sumber daya manusia yang terlibat dalam semua prosesnya memiliki kemampuan yang mumpuni. "Kami banyak melakukan kerja sama dengan para peternak lokal di Gunung Kawi. Kami berikan pelatihan dengan membawa para ahli di bidangnya."

Gembirakan sapi

Pria dengan empat anak itu mengakui tidak mudah membangun sebuah pabrik susu di lokasi yang memiliki ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut.

"Begitu banyak kesulitan untuk membawa segala kebutuhan ke atas bukit, tapi ini semua demi menggembirakan para sapi. Dengan kondisi sejuk ini, mereka senang," ucap Collins seraya tertawa.

Baginya, kesuksesan perusahaan yang telah tercapai saat ini merupakan efek dari perasaan bahagia yang dirasakan para sapi. "Kalau sapi sedih, mereka tidak akan bisa memproduksi dengan baik. Sesederhana itu," tandasnya.

Untuk itulah, membuat sapi senang menjadi hal wajib di dalam perusahaan. Ada beberapa hal mendasar, jelas Collins, untuk dapat membuat sapi bahagia.

"Beri mereka makan dengan sesuai, tapi jangan sekadar makan, harus yang bernutrisi," ungkapnya.

Lalu, sambungnya, harus ada persediaan air bersih yang mencukupi.

"Tempat yang baik. Mereka butuh kandang yang higienis, tempat yang bersih untuk tidur," tegasnya.

Yang terakhir ialah menjaga kondisi psikologi sapi. "Kita harus menjadikan mereka teman, bukan makhluk yang dimanfaatkan."

Collins mengatakan sapi memiliki karakter yang harus bisa dipahami pemiliknya. "Kita harus kenali masing-masing dari mereka. Mudahnya, dengan membuat kelompok."

Ia menjelaskan, berinteraksi dengan sapi tidak jauh berbeda dengan menghadapi anak-anak dalam satu ruang kelas. "Jika dikelompokkan dengan teratur, setelah sekian lama bersama, kita akan tahu karakter masing-masing. Mana sapi yang menjadi bos di sini. Mana yang jahat, mana yang baik," terangnya sambil tertawa.

Turun ke anak

Tidak mengherankan jika Collins memiliki pemahaman yang begitu luar biasa. Ia, sapi dan susu memang tiga hal yang tidak dapat dipisahkan. Sejak kecil, pria yang lahir di Papua Nugini itu sudah banyak berkecimpung dalam dunia peternakan.

"Saat saya tumbuh besar di Papua Nugini, ayah saya punya beberapa sapi. Saya memerah sendiri karena di sana tidak ada cukup persediaan susu segar," paparnya.

Pada usia 11 tahun, bersama keluarga, ia kembali ke kampung halaman, North Queensland, Australia. Di sana, sang ayah membeli pabrik susu di wilayah Malanda.

Begitu banyaknya pekerjaan di peternakan yang diberikan kepadanya, tentu saja membuat Collins jengah. Bahkan ia pernah bersumpah untuk tidak lagi dekat-dekat dengan pabrik susu. "Namun, entah mengapa saya malah kembali lagi ke industri ini," Collins mengisahkan.

Ia pun mengatakan, tampaknya, tradisi keluarga berkecimpung dalam 'dunia' sapi dan susu tidak akan berhenti di dirinya. "Saya memiliki empat anak, tiga perempuan dan seorang laki-laki. Dua di antara mereka tertarik untuk terjun dan meneruskan langkah saya di bidang ini."

Pria yang memiliki seorang istri asal Denmark itu mengaku dirinya memang sosok yang dekat dengan keluarga.

"Sulit, memang, untuk menyeimbangkan antara kehidupan keluarga dan pekerjaan. Di satu sisi Anda memiliki tanggung jawab untuk membuat perusahaan terus tumbuh, di sisi lain keluarga juga sangat penting," ungkapnya. "Namun, saya menyadari, jika bekerja terlalu keras, kita akan kehilangan waktu yang tidak bisa diulang kembali."

Komentar