Cerpen

Kresna Palsu

Ahad, 31 July 2016 03:45 WIB Penulis: Ono Sarwono

Ilustrasi

KEGEGERAN vaksin palsu belum berlalu. Menyusul kemudian kartu Badan Program Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan palsu. Entah apa lagi macam-macam kepalsuan lain yang akan terungkap berikutnya. Inilah riak-riak kehidupan masyarakat kita yang sangat memiriskan. Bila kita sadari, kenyataannya, di negeri ini, yang palsu-palsu itu sudah terlalu banyak. Produk dan perilaku jahat seperti itu sudah lama ada dalam semua yang berkaitan dengan keperluan, kebutuhan, dan urusan hidup kita. Palsu dalam hal ini ialah seperti arti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yakni tidak tulen; tidak sah; lancung; tiruan; gadungan; curang; tidak jujur; dan sumbang.

Tengoklah penghuni gedung parlemen, misalnya, tidak sedikit politisi palsu. Lalu, dalam pemerintahan, juga banyak pejabat dan birokrat palsu. Di peradilan juga ada hakim, jaksa, panitera, dan pengacara palsu. Polisi dan tentara pun ada yang palsu. Begitu juga dalam dunia jurnalistik, ada pula wartawan gadungan (palsu).

Mencuri kesempatan
Dalam dunia wayang, ada pula lakon yang berkaitan dengan palsu-memalsu. Satu di antaranya kisah Kresna Kembar. Cerita ini unik karena yang dipalsukan bukan barang, melainkan Sri Bathara Krena, tokoh jagat sekaligus titisan Bethara Wisnu--dewa keadilan dan ketenteraman. Cerita ini diawali dengan keinginan Prabu Sasrawindu bergabung dengan Kurawa. Ia menyodorkan diri menjadi senapati Astina dalam perang Bhara­ta­yuda. Raja Astina Prabu Duryudana tidak kuasa menolaknya setelah mendapat masukan dari paranpara Durna.

Sasrawindu membeberkan rencananya. Sebelum Bharatayuda pecah, Prabu Baladewa, kakak sepupu Pandawa, mesti dihabisi terlebih dulu. Semula, Duryudana tidak sepakat dengan gagasan itu karena ia sendiri memiliki hubungan saudara dengan raja Mandura tersebut. Namun, lagi-lagi karena bisikan Durna, akhirnya Sasrawindu dipersilakan berbuat sesukanya. Karna, senapati resmi Astina, yang di­mintai pendapatnya, menyerahkan kepada kebijakan sang raja. Karna hanya usul, bila Sasrawindu gagal mencabut nyawa Baladewa, dia mesti dipenggal.

Pada hari yang ditetapkan, Sasrawindu bersama prajurit ngluruk (datang untuk perang) ke Mandura. Durna dan Sengkuni (patih Astina) menyertainya dengan antusias. Menjelang memasuki perbatasan negara Mandura, Durna mendiskusikan cara terbaik melenyapkan Baladewa dengan Sasrawindu dan Sengkuni. Disepakati, opsi yang diambil ialah dengan menipu. Durna pura-pura menjadi utusan Duryudana, yang mengundang Baladewa hadir dalam pasewakan agung Astina. Ketika dalam perjalanan menuju Astina, Baladewa dikeroyok hingga mene­mui ajalnya.

Dengan langkah-langkahnya yang kecil tapi cepat, Durna menuju Istana Mandura. Sepertinya sudah tidak sabar menuntaskan tugas. Sengkuni agak terbirit mengikuti jejak Durna yang bersemangat. Namun, mereka kaget ketika mendapati Gathotkaca sedang menghadap Baladewa di Sitihinggil. Kesatria Pringgondani itu diutus pepundennya, Pandawa, untuk menyampaikan pesan bahwa Baladewa dimohon datang ke Amarta pada hari itu juga. Pandawa berharap Baladewa berkenan menggantikan posisi adiknya, Kresna, sebagai paranpara Amarta. Pada saat itu, Kresna sedang bertapa dalam waktu yang tidak bisa dipastikan lamanya. Sejenak kemudian, ketika mendapat kesempatan bicara, Durna langsung mengatakan bahwa dirinya diutus Prabu Duryudana mengundang Prabu Baladewa untuk rawuh (datang) ke Astina pada hari itu juga. Duryudana memohon keha­diran Baladewa dalam acara pasewakan agung. Sengkuni menambahi, Duryudana sungguh-sungguh berharap kedatangan Baladewa untuk semakin merekatkan kekadangan (persaudaraan) antara Astina dan Mandura. Singkat cerita, terjadilah percecokan Durna-Sengkuni dengan Gathotkaca memperebutkan Baladewa. Karena tidak ada yang mengalah, akhirnya terjadilah peperangan. Pasukan Kurawa mengeroyok Gathotkaca. Namun, mereka kocar-kacir menghadapi krida (sepak terjang) Gathotkaca.

Sasrawindu lalu maju ke pelagan. Gathot­kaca dapat diringkus. Bahkan, Baladewa pun dapat dipaksa takluk dan pasrah. Ketika Sasrawindu akan mengeksekusi Baladewa, Durna mencegahnya karena waktunya belum tepat. Baladewa lalu digelandang ke Astina sebagai tawanan. Sasrawindu, didampingi Durna, kemudian mendatangi puncak Gunung Wukir yang menjadi tempat Kresna bertapa. Sebelum sampai ke tempat tujuan, mereka dihadang Setyaki dan Anoman. Maka, terjadilah perkelahian. Setyaki dapat dibekuk, sedangkan Anoman kalah dan memilih menyingkir.

Setelah penghalang dapat diatasi, Sasra­windu melenggang ke tempat Kresna bersemedi. Ia menemukan Kresna hanya mengenakan kain serbaputih dengan posisi yoga bersila. Ia menanggalkan seluruh pakaian kebesarannya yang diletakkan di samping kanan. Durna mengingatkan Sasrawindu agar berhati-hati. Kresna sedang dalam keadaan ‘kosong’ dan sia-sia belaka bila berbuat apa pun terhadap Raja Dwarawati tersebut. Ia meng­usulkan kepada Sasrawindu untuk mengambil pakaian kebesaran Kresna dan mengenakannya. Setelahnya, sesuai dengan arahan Durna, Kresna palsu (Sasrawindu) lalu ke Amarta menemui Pandawa untuk menyampaikan hasil bertapanya. Inti pesannya, menurut wangsit yang diterima, dewa memerin­tahkan Pandawa mesti merelakan kekuasaan Astina kepada Kurawa (Duryudana).

Pada bagian lain, seusai menghadap Sanghyang Jagatgirinata di Kahyangan Jonggring Saloka, roh Kresna (asli) kembali ke wadaknya. Namun, ia tidak menemukan pakaiannya. Karena itu, ia kemudian menyamar sebagai Begawan Sukmalelana. Ia lalu bertamu ke istana Astina. Kepada Prabu Duryudana, Sukmalelana meminta agar segera mengembalikan takhta Astina kepada Pandawa. Hal itu membuat murka sang raja. Pasukan Kurawa kemudian berusaha menangkap tamu yang tidak diundang itu. Namun, mereka tidak ada yang mampu mengatasi kesaktian Sukmalelana. Mendengar kegegeran di Astina itu, Kresna (palsu) tiba-tiba datang membantu Kurawa. Maka terjadilah peperangan se­ngit hingga akhirnya Sukmalelana berubah ke ujud aslinya sebagai Kresna. Peperangan berlanjut. Kresna asli melepaskan pusaka sakti cakra sehingga Kresna gadungan badhar (berubah kembali ke ujud aslinya) menjadi Sasrawindu dalam keadaan mati. `

Ancaman kebangsaan
Poin kisah itu ialah pemalsuan terjadi pada ‘duta dewa’. Ia titah yang memiliki pengaruh besar di marcapada, yang setiap ucapan dan perilakunya menjadi hukum jagat. Jadi, sangat berbahaya ketika ia dipalsukan pihak yang tidak bertanggung jawab. Inilah yang juga telah terjadi di negeri ini. Orang-orang palsu bertebaran di berbagai posisi-posisi strategis negara. Dari perspektif kebangsaan, kita sedang menghadapi musuh palsu-palsu itu. Bila ini menjadi-jadi, bangsa dan negara ini terancam jadi ‘palsu’ pula. Pertanyaannya, kenapa di negeri ini banyak yang palsu atau kepalsuan? Banyak faktor yang melatarbelakangi­nya. Paling tidak karena didorong untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan juga kelompoknya. Namun, bila diselisik, itu semua akibat rusaknya moral pelaku. Di sinilah pentingnya revolusi (pembangunan) karakter bangsa. (M-4)

Komentar