Travelista

Senja Terindah di Candi Ijo

Kamis, 30 July 2015 00:00 WIB Penulis: Thalatie K Yani

MI/Thalatie K Yani

"SATU, dua, tiga," aba-aba Maulana kepada kedua temannya untuk melompat sambil mata dan jarinya fokus dengan kamera DSLR yang dipegangnya.

Ketiga mahasiswa di salah satu universitas di Yogyakarta itu tengah sibuk membuat foto siluet berlatar belakang pemandangan matahari terbenam di kawasan Candi Ijo, Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Pemandangan hijaunya sawah dan matahari terbenam menjadi daya tarik bagi candi paling tinggi di Yogyakarta.

"Iseng saja ke sini untuk motret sama teman-teman saja," ujar Maulana kepada Media Indonesia di Candi Ijo, Senin (15/6) sore.

Maulana tidak sendiri, pengunjung yang lain juga sibuk berpose. Baik itu tidur-tiduran di rumput di kawasan candi, di pinggir teras, maupun di candi. Namun, ada juga yang menikmati ukiran-ukiran yang ada di candi di candi utama dan tiga candi perwara yang ada di depan candi utama. Di dalam candi perwara yang tengah terdapat patung sapi.

Menepi ke arah tangga, tampak sejumlah bangunan candi yang sudah tidak berdiri lagi di bagian teras bawah. Kawasan Candi Ijo memang berbentuk seperti teras-teras yang bertingkat.

Dari pintu masuk diarahkan untuk ke atas langsung menuju candi. Namun, pengunjung bisa menuruni tangga untuk melihat teras berikutnya yang seperti taman dan turun lagi ke teras yang memiliki bangunan candi yang sudah tidak berdiri tegak, sebelum menuju ke pintu keluar.

Pemandangan matahari terbenam di ketinggian 410 di atas permukaan laut (dpl) memang memukau. Cukup menempuh sekitar 1 jam perjalanan dari ibu kota ke arah kompleks Prambanan.

Memburu langit oranye
Anda dapat melihat hijau sawah dan bukit kapur. Menghadap ke barat, tampak jelas lampu-lampu yang menghiasi Bandara Adisutjipto. Tak mengherankan bila pemandangan guratan-guratan oranye yang mengantarkan matahari ke peraduannya diramaikan dengan lalu-lalang si burung besi. Tidak tertinggal Gunung Merapi di satu sisi. Meski tidak terlihat terlalu jelas karena tertutup pepohonan, tetap menarik perhatian.


Pengunjung kian ramai menjelang sore


Jogja dalam bingkai berbeda

Untuk ke lokasi, sebaiknya anda membawa orang lokal yang mengetahui letak candi. Pasalnya, tidak ada penunjuk jalan untuk menuju Candi Ijo. Selain itu, jalan yang ditempuh beberapa titik cukup terjal. Pemandangan yang ditawarkan selama perjalanan cukup beragam. Mulai dari persawahan, perumahan rakyat, bukit kapur, dan beberapa kompleks candi lainnya.

Candi Ijo merupakan salah satu candi yang terletak di kompleks percandian bercorak Hindu. Penyebutan nama Desa Ijo berarti hijau pertama kali disebut dalam Prasasti Poh dari tahun 906 masehi. Dalam prasasti itu tertulis "...anak wanua i wuang hijo..." yang mengungkapkan adanya hadirin upacara yang berasal dari Dewa Wuang Hijo.

Tidak seperti Candi Prambanan yang menampilkan sendratari pada malam hari, Candi Ijo langsung ditutup saat matahari sudah masuk ke peraduannya. Petugas akan langsung meminta pengunjung untuk turun dari kawasan candi dan baru dibuka lagi pada esok paginya.

Candi istimewa
Situs ini berbentuk berteras-teras dengan bagian belakang yang makin tinggi, dengan pusat candi di bagian belakang. Pola ini berbeda dengan pola-pola candi lainnya di dataran Prambanan. Kebanyakan candi berpusat di tengah bak tempat tinggal para dewa, seperti halnya Candi Prambanan dan Candi Sewu. Pola seperti ini kerap ditemukan di candi-candi yang berada di kawasan Jawa Timur.

Bila mengacu pada kitab-kitab India kuno, pemilihan lokasi sebuah candi yang menjadi vastu atau tempat tinggal utama para dewa harus memenuhi sejumlah syarat, seperti tanah yang subur dan tidak jauh dari sumber mata air.


Bentang alam menjelang senja

Di kawasan Prambanan ada dua tipe lahan yang berbeda. Dataran di Prambanan dan dataran Sorogedung yang subur, sedangkan tipe kedua berada di perbukitan sisi selatan dan Batur Agung bagian dari pegunungan selatan.

Candi Ijo berada di puncak bukit kapur yang tidak subur dan tidak ada sumber mata air. Di samping itu, lokasinya paling tinggi jika dibandingkan dengan candi-candi lainnya. Hal itu yang menjadikan Candi Ijo berbeda dengan candi biasanya.

Bersatunya dewa dewi
Kompleks candi yang ditemukan secara tidak sengaja oleh administrator pabrik gula Sorogedug bernama H E Doorepaal tahun 1886 itu terdiri dari 17 gugusan bangunan. Gugusan itu dibagi menjadi bangunan beratap dan tidak.

Bangunan tidak beratap diperkirakan sebagai bangunan dengan struktur kayu karena ditemukan sisa-sisa umpak batu. Bangunan inti dari kompleks Candi Ijo ini berada di teras paling atas, yakni teras 11 yang dijumpai satu buah candi induk dengan tiga candi perwara.


Berfoto di Candi Ijo

Pintu masuk bangunan itu terdapat kala makara dengan motif kepala ganda dan beberapa atributnya. Ada pula arca yang menggambarkan perempuan dan laki-laki yang melayang dan mengarah pada sisi tertentu. Gambar itu dipercaya sebagai pengusir roh jahat dan lambang bersatunya Dewa Siwa dan Dewi Uma.

Tiga candi perwara itu diumpamakan sebagai penghormatan masyarakat kepada Trimurti Hindu, yakni Brahma, Siwa, dan Wisnu.(M-1)

Komentar