Seni

Sang Primadonan?

Ahad, 24 July 2016 00:20 WIB Penulis: Ono Sarwono

DARI perspektif filsafat cerita wayang, tujuan program pengampunan pajak untuk pembangunan ekonomi nasional seperti halnya ketika Prabu Arjunasasra harus ‘membawa pulang’ Dewi Citrawati dari Magada ke Negara Maespati. Bila negeri ini kebijakannya tax amnesty, Arjunasasra mengutus Bambang Sumantri untuk memboyong Citrawati. Dalam seni pedalangan, Citrawati adalah sekar kedhaton Negara Magada. Ia putri sulung Prabu Prabu Citradarma dengan permaisuri Dewi Citraresmi. Citrawati memiliki adik laki-laki bernama Citragada yang kemudian menggantikan ayahanda sebagai Raja Magada. Sebagai titah, Citrawati ialah seorang gadis kinyis-kinyis (ranum nan segar) dan merak ati (memikat) bagi setiap laki-laki. Ia berparas jelita. Pembawaannya santun. Gaya bicaranya halus dan lembut. Para resi dan wiku sepakat menyebut Citrawati sebagai perempuan yang suci trilaksita (hati, pikiran, dan ucapannya).

Lebih dari sekadar penampilan fisik, dalam diri Citrawati menyatu ‘jiwa’ Bethari Sri Widowati, dewi kesuburan dan kemakmuran. Karena­nya, barang siapa yang bisa mempersunting Citrawati niscaya akan menjadi raja besar dan negaranya adil dan makmur. Itulah daya tarik utuh Citrawati. Maka tidak aneh bila semua raja di marcapada antre berlomba melamarnya. Bukan hanya siap memberikan seberapa pun besar harga pinangan yang diminta, mereka juga rela mesanggrah (berkemah) berbulan-bulan di alun-alun Magada berharap kabar jawaban melegakan atas lamaran mereka. Aktivitas raja-raja pelamar dikoordinasi Prabu Darmawasesa, penguasa tunggal Negara Widarba. Konsensusnya, siapa saja harus rela dan legawa, tidak iri satu sama lain, bila nantinya salah satu di antaranya mereka yang diterima.

Titisan Bathara Wisnu
Di kala para raja antre mendapatkan Citrawati, tampuk kepemimpinan Magada dikendalikan Prabu Citra­gada. Ia begitu risau dengan banyaknya raja yang berebut mendapatkan Citrawati. Amat mungkin mereka yang ditolak lamarannya akan mengamuk sehingga merusak ketenteraman Magada. Untuk menyelamatkan dari kemungkinan munculnya prahara, Citragada siang malam menjalani laku prihatin, di antaranya mahasing asemun (semedi) berharap perlindungan dewa. Magada tetap kondusif dan kalis dari segala aksi anarkistis. Dalam waktu bersamaan, jauh di sana Raja Maespati Prabu Arjunasasra juga bermimpi memiliki Citrawati. Bedanya, ia tidak ikut rama-rame bergabung dengan kelompok Darmawasesa yang mengantre di alun-alun. Baginya, Citrawati dilahirkan untuk menjadi permaisurinya. Keyakinannya itu berdasar atas kodrat jagat. Bahwa sebagai titisan Bathara Wisnu, dewa ketentaram dan keadilan, jodohnya adalah putri titisan Bethari Sri Widowati. Dengan kata lain, ada Wisnu mesti ada Sri Widowati dan begitu sebaliknya.

Di saat merancang jalan, datanglah seorang kesatria tampan dari Pertapaan Argase­kar meng­hadap. Sang pemuda itu putra pasangan Resi Suwandagni-Dewi Darini. Kesatria yang mengaku bernama Bambang Sumantri itu ingin mengabdikan jiwa raganya bagi sang raja demi kejayaan bangsa dan negara Maespati. Momentum ini dimanfaatkan Arjunasasra. Dari ketajaman mata batinnya, anak muda ini adalah sarana merealisasi impiannya. Maka, ia mengutus Sumantri ke Magada melamar Citrawati. Perintah ini sekaligus uji kesetiaan dan kesaktian kepada Sumantri sebelum menjadi nayaka praja. Sumantri sendiri merasa ini gelanggang pembuktian jati dirinya sebagai anak bangsa yang bisa diandalkan. Maka, ia bersumpah, tidak akan kembali ke Maespati bila tidak bersama-sama menggandeng Citrawati yang kemudian ia persembahkan kepada sang baginda.

Tibalah Sumantri di Magada. Ia langsung meminta izin menghadap Prabu Citragada. Di depan raja, ia ungkapkan langsung maksud kedatangannya untuk melamar Citrawati. Sebelum memberikan jawaban, Citragada meminta Sumantri untuk memulangkan terlebih para raja yang ‘nyampah’ berbulan-bulan di alun-alun. Singkat cerita, Sumantri mampu menyingkirkan raja-raja pelamar, termasuk Prabu Darmawasesa. Atas keberhasilannya itu, lamarannya kepada Citrawati diterima. Bahkan, raja-raja yang ditaklukkan sebelumnya telah menyerahkan total 800 putri sebagai putri boyongan. Di tengah perjalanan kembali ke Maespati, tiba-tiba muncul keinginan liar dalam kepala Sumantri. Ia ingin memastikan bahwa Arjunasasra benar-benar titisan Bethara Wisnu. Maka, ia mencoba kesaktian sang raja lewat perang. Saat itulah, Sumantri baru yakin ketika Arjunasasra bertiwikrama menjadi raksasa sebesar gunung dengan tangan seribu yang semuanya menghunus senjata. Dengan kesaktian yang dimiliki itulah, Arjunasasra juga bernama Arjunasasrabahu.

Tiga modal utama
Setelah ‘bersemayam’ sebagai permaisuri Arjunasasra, Citrawati secara bertahap menghadirkan kemasyuran di Maespati. Ia menjadikan Maespati jauh lebih kuncara ketimbang sebelumnya. Keberadaannya berperan besar bagi kemajuan dan kedigdayaan Maespati di segala bidang. Misalnya, dari idenya hadirlah Taman Sriwedari, persis seperti yang ada di Kahyangan Untarasegara, kampung halaman Bathara Wisnu. Ini merupakan simbolisasi akan keindahan dan kemegahan. Ibaratnya Maespati bak Kahyangan Untarasegara. Kemudian karena idenya pula, Maespati memiliki bendungan raksasa di aliran Sungai Gangga. Waduk ini memberikan berkah kesuburan dan ketersediannya bahan makanan yang melimpah bagi rakyat. Ini merupakan lambang akan kemakmuran rakyat. Arjunasasra pun akhirnya menjelma menjadi raja agung. Namanya mengharum di seluruh pelosok jagat. Demikianlah kisah Citrawati yang menjadi salah satu tiang utama kebesaran Maespati. Dalam hal ini tentu berkat peran besar Sumantri.

Dalam pemahaman Sri Mangkunegara IV yang tertuang dalam serat Tripama, Sumantri mengemban tugas karena memiliki tiga dasar kemampuan, yakni guna, kaya, dan purun. Guna, yang dimaksud memiliki kesaktian. Kaya, memiliki apa saja yang dibutuhkan sehingga selalu berhasil. Purun, selalu memiliki tekad, semangat, dan keberanian. Dalam konteks pengampunan pajak, tentu akan berhasil bilamana kebijakan ini juga memiliki ‘modal’ seperti Bambang Sumantri. Kenapa demikian, karena mendapatkan ‘sang primadona’ bagi pembangunan nasional memang tidak mudah. Banyak tantangan dan rintangan. (M-4)

Komentar