Cerpen

Obituarium Patah Hati

Ahad, 24 July 2016 00:10 WIB Penulis: Dicky Zulkarnain

Ilustrasi Rudy PA

ORANG dungu juga pasti tahu, tak ada yang kekal di dunia ini, bahkan secuil ingatan tentang cinta pertama sekalipun. Kalimat konyol itu tercetak pada sudut halaman 19 di koran minggu pagi, di salah satu kolom obituarium yang berada di antara kotak-kotak iklan penawaran rumah kontrakan dan krim antikebotakan. Di bawahnya, tertera foto hitam putih seorang wanita dengan rambut sebahu, wajah oval, mata sipit, dan bibir kaku tanpa senyuman. Rest in peace. Nyonya Maria Kornelia telah pergi meninggalkan dunia yang kejam ini, tanpa sudi menikmati kesedihan sanak keluarga serta orang-orang dalam kehidupannya. Tanpa ada suntingan dari redaktur, kata-kata itu tercetak persis seperti yang diinginkan oleh klien.

Maria akhirnya bisa berbahagia di alam sana, pikir Luisa sambil tersenyum. Ingatannya melayang kembali pada pertemuan mereka di sebuah kedai kopi yang sepi. “Ini ada permintaan aneh dari klien. Kamu layani saja. Yang penting dia mau bayar banyak,” begitu kata-kata sang redaktur ketika memberikan tugas yang tak biasa kepadanya. Sebulan ini, Luisa tengah bertugas di desk serba-serbi. Salah satu tugasnya adalah menulis kolom obituarium. Jika biasanya keluarga mendiang yang memasang kolom duka cita di surat kabar, kali ini seseorang meminta dibuatkan obituarium untuk dirinya sendiri. “Saya pasti orang pertama yang minta dibuatkan obituarium untuk dirinya sendiri,” kata Maria Kornelia sambil menyeruput secangkir cappucino hangat di hadapannya.

“Bisa dibilang begitu, Bu,” kata Luisa berusaha tersenyum untuk menutupi kegelisahannya. “Panggil saja Maria. Tak ada yang aneh toh, setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya sendiri, begitu juga bagaimana dia ingin dikenang setelah mati.” Menulis kolom obituarium memang tidak sulit. Kadang-kadang, Luisa cukup menyalin dari beberapa kolom yang pernah ada pada edisi sebelumnya. Telah berpulang anggota keluarga kami tercinta... Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan kekuatan kepada keluarga yang ditinggalkan... remembering her wonderful and gentle soul will forever remain in our hearts... May his soul rest in peace. Kata-kata yang penuh basa-basi, karena sesungguhnya itu hanya bermakna bagi keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan. “Saya tidak ingin tulisan panjang dan penuh basa-basi,” ucap Maria dengan tegas.
Meskipun data yang sudah dimiliki Luisa mengatakan wanita itu berusia kepala enam, kombinasi pupur bedak, sapuan perona pipi, dan palet lipstik merah tua cukup berhasil menyembunyikan kerutan-kerutan di sekitar wajahnya. Anting berlian dan tas kecil berlogo label terkenal yang dibawanya jelas menunjukkan strata sosial seorang Maria Kornelia.“Boleh saya bertanya kepada Anda, Maria?” “Silakan.” “Kenapa tiba-tiba ingin dibuatkan obituarium? Anda sakit atau...” Wanita di hadapan Luisa itu tidak langsung menjawab. Matanya memicing. Dan, tak lama kemudian terdengar suaranya yang bernada tinggi. “Karena umur saya mungkin tidak lama lagi.” “Bagaimana Anda tahu tentang kapan Anda akan mati?” “Bagaimana kamu tahu kalau ternyata hidupmu bisa jauh lebih baik kalau tidak bekerja sebagai penulis obituarium? Oh my god, kenapa kamu cerewet sekali. Aku membayar mahal koranmu bukan untuk diceramahi dan ditanya-tanya!”

“Maafkan saya.” Ini obituarium terakhir yang akan dikerjakan Luisa. Dia akan meminta kepada redaktur atasannya untuk segera dipindahkan ke desk lain. Sudah hampir setahun menempati desk serba-serbi, tapi masih belum ada tanda-tanda Luisa akan segera dipindahkan. Padahal dia ingin menjadi seorang jurnalis yang menulis berita-berita serius, bukan sekadar mengulas peristiwa tak penting dan menulis basa-basi tentang orang mati. Dia ingin bisa mencermati setiap permasalahan tulisan, memahami berbagai narasumber dan menghilang dalam setiap kata-kata yang dihimpunnya. Luisa bosan dengan kehidupan yang sama sekali tidak istimewa. “Mulailah dengan kalimat dia telah pergi meninggalkan dunia yang kejam. Dan jangan lupa menuliskan wanita ini sama sekali tak sudi menikmati kesedihan sanak-saudara dan orang-orang yang ada di sekitarnya...” ujar Maria sambil kemudian meneguk kembali teh hangat di hadapannya. “Apakah Anda yakin ingin menulis seperti itu? Biasanya kata-kata dalam obituarium tidak seperti itu.” “Ingatlah, saya sudah membayar mahal. Seharusnya kamu tinggal mengerjakan apa yang menjadi tugasmu.” “Sekali lagi saya minta maaf. Saya hanya ingin memberitahu bahwa kata-kata itu tidak biasa ada dalam sebuah obituarium.”

“Tapi saya hanya berusaha jujur. Memang begitulah keadaannya. Apa saya harus menutup-nutupinya? Apakah kamu ingin menulis kebohongan?” Sebelumnya Luisa tak pernah menganggap obituarium sebagai berita yang bersumber dari fakta-fakta. Bagaimana mungkin dia bisa menulis dengan obyektif jika narasumber utamanya saja sudah mati. Baginya, obituarium di surat kabar hanya sebatas basa-basi bagi orang-orang yang ingin dianggap terpuji dengan memberikan sesuatu berskala nasional kepada seseorang yang sudah tiada. Luisa baru belajar memahami itu ketika ayahnya meminta tolong untuk menulis obituarium setelah ibunya meninggal. “Kamu kan sudah biasa menulis itu, nduk. Kamu buatkanlah untuk ibumu, nanti ayah yang bayar ke koranmu itu,” ucap ayahnya kira-kira enam bulan lalu. Telah tiada istri dan ibunda tercinta. Semoga kebahagiaan terus menyertainya di alam sana dan keluarga yang ditinggalkan bisa diberikan ketabahan. Tiga hari setelah obituarium itu diterbitkan, sang ayah pergi meninggalkan rumah lamanya untuk menetap di rumah istri muda yang sudah dinikahinya selama tujuh tahun. “Aku ingin kamu juga memasukkan kata-kata tentang cinta pertama. Aku tak tahu apa persisnya... Kamu karang-karanglah sesukamu,” ucap Maria dengan tatapan tajam.

“Kenapa harus ada tentang cinta pertama?” “Karena aku ingin dia tahu kalau aku masih mencintainya. Dia sahabatku sejak masih kuliah dulu, yang lainnya aku tidak peduli, aku hanya ingin memberi salam kepada cinta pertamaku.” Maria kemudian bercerita tentang pernikahannya dengan seorang laki-laki dari keluarga kaya yang tak pernah dicintainya. Kelahiran putri pertama membuatnya berhenti dari pekerjaan sebagai sekretaris di kantor seorang pengacara ternama. Kelahiran putri keduanya, dua tahun kemudian, membuat Maria melupakan ukuran celana dan baju yang dulu bertahun-tahun dimilikinya. Kelahiran putri ketiga, satu tahun dari kelahiran putri kedua, membuat Maria kehilangan kesabaran dan gairahnya untuk berinteraksi dengan kehidupan. “Hanya cinta pertamaku itulah yang terus membuatku bersemangat untuk menjalani hidup. Tapi tiga bulan lalu, penyakit kanker telah mengalahkannya. Sejak itu, aku tak lagi punya kekuatan,” Maria berhenti sejenak untuk kembali menyeruput teh yang pasti sudah tak lagi hangat. “Maaf, bukan usil ingin tahu, tapi jika kalian memang benar-benar saling mencintai, kenapa Anda tidak bercerai dan kemudian hidup bersama cinta pertama Anda itu?” “Aku bisa saja meninggalkan suami yang sebenarnya juga tak pernah mencintaiku. Tapi dia tidak mau meninggalkan suami dan anak-anaknya,” ucap Maria sambil memandang kosong ke arah jendela. Dia tak lagi berbicara dengan nada tinggi dan mata memicing.

“Apakah kamu percaya dengan cinta pertama, Luisa?” Untuk pertama kalinya Maria menyebut nama lawan bicaranya. Luisa heran dan merasa tak terbiasa, sehingga hanya bisa terdiam tak dapat menjawab apa-apa. Pertanyaan yang diajukan Maria juga membuatnya gelisah. Dia sesungguhnya ingin bercerita, tadinya dia percaya dengan kekuatan cinta pertama. Bahkan dia menikah dengan pria yang menjadi cinta pertamanya. Luisa ingin bercerita, bahwa waktu ternyata bisa mengubah segalanya. Bahkan sang cinta pertamanya bisa berselingkuh dengan wanita lain, yang setelah dia selidiki, ternyata rekan kerja suaminya di kantor. Tapi Luisa hanya terdiam. Hampir sebulan setelah pertemuannya dengan Maria, tak terdengar lagi kabar tentang wanita aneh kliennya itu. Hingga kemudian pada suatu sore, ponsel Luisa berbunyi, mengabarkan sebuah panggilan. “Orang dungu juga pasti tahu, tak ada yang kekal di dunia ini, bahkan secuil ingatan tentang cinta pertama sekalipun.” Nada suara yang meninggi, terdengar hampir sedikit berteriak, terdengar dari seseorang di ujung sana. Luisa mengenali suara itu. “Halo...Ini Maria, ya? Apa maksud kata-kata barusan?” “Aku ingin kamu memasukkan kalimat itu di obituariumku. Jangan lupa ya, Luisa!” Panggilan kemudian terputus. Seminggu setelah perbincangan singkat dengan Maria, redaktur atasan Luisa mengabarkan bahwa obituarium tentang wanita itu akan naik cetak. Asisten Maria mengabarkan bahwa sang nyonya ditemukan sudah tidak bernapas lagi di ranjangnya kemarin pagi. Mohon dimaafkan jika ada kesalahan yang dilakukan mendiang semasa hidupnya, dan semoga Anda berkenan untuk selalu mendoakannya. Begitu penggalan kalimat penutup dari obituarium terakhir yang ditulisnya. Maria Kornelia memang seorang klien yang aneh, tapi Luisa tak akan pernah bisa melupakannya. Luisa kini tak lagi bertugas di desk serba-serbi. Dia sekarang menulis untuk rubrik keluarga. Di edisi yang berisi obituarium karya terakhirnya itu, terdapat pula tulisan pertama untuk rubrik yang baru dipegangnya, Apakah Bercerai adalah Solusi dari Perselingkuhan Pasanga

Komentar