Eksplorasi

Juni 2016,Rekor Suhu Terpanas Sepanjang Sejarah

Sabtu, 23 July 2016 01:00 WIB Penulis: (AFP/NASA/Hnf/L-2)

FOTO ANTARA/FB Anggoro

JUNI 2016 tercatat sebagai bulan Juni terpanas sepanjang sejarah modern. Lembaga kelautan dan atmosfer milik pemerintah Amerika Serikat (National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA) mencatat suhu rata-rata global permukaan tanah dan laut pada bulan tersebut merupakan yang tertinggi untuk Juni pada dataset suhu global yang dicatat NOAA. Suhu rata-rata global gabungan permukaan tanah dan permukaan laut pada bulan lalu tercatat 1,62 derajat fahrenheit (0,9 derajat celsius) lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata suhu abad 20 sebesar 59,9 derajat fahrenheit (15,5 derajat celsius). Suhu rata-rata permukaan laut tercatat 1,39 derajat fahrenheit lebih tinggi ketimbang suhu rata-rata bulanan abad ke-20. Selain itu, suhu rata-rata permukaan tanah pada Juni juga tercatat lebih tinggi 2,23 derajat fahrenheit ketimbang suhu rata-rata bulanan abad 20.

Hal itu menjadikan bulan lalu sebagai Juni terpanas sepanjang sejarah. Juni 2016 melengkapi catatan bulan Juni yang sudah 40 kali berturut-turut mempunyai suhu nominal di atas rata-rata suhu abad ke-20. Selain itu, laporan per bulan NOAA menyatakan rata-rata suhu global enam bulan pertama 2016 merupakan periode Januari-Juni terpanas sepanjang sejarah. Sejumlah ahli menyatakan meningkatnya suhu global merupakan akibat dari beberapa bencana lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah belakangan ini seperti pemutihan karang di Great Barrier Reef di Australia dan kebakaran hebat di Kanada. Klimatologis NASA Gavin Schmidt berpendapat peningkatan suhu global tersebut akibat pola cuaca El Nino yang berkaitan dengan peningkatan suhu air laut di Samudra Pasifik. Peningkatan suhu di Samudra Arktik juga dianggap sebagai faktor yang meme-ngaruhi hal tersebut. Setelah berakhirnya El Nino, akan dimulai fase La Nina ketika suhu air laut Samudra pasifik menurun.

Schmidt juga memprediksi 2017 tidak akan memecahkan rekor sebagaimana yang terjadi pada tahun ini. Sementara itu, tingkat lapisan es di Kutub Utara sebagai satu dari dua indikator perubahan iklim juga mulai memasuki fase yang mengkhawatirkan yang diakibatkan pemanasan suhu global. NASA telah menjalankan proyek operasi IceBridge sejak 2009, yaitu misi udara untuk pengamatan dan menjaga kelangsungan lapisan es di kutub akibat pemanasan suhu global. Kabar baik datang dari sebuah penelitian yang menyatakan lubang di lapisan ozon di atas Antartika sudah mulai menyusut. Para peneliti melaporkan lubang ozon tersebut menyusut 1,5 juta mil persegi (4 juta kilometer persegi) sejak 2000. Penyusutan tersebut terjadi setelah adanya kesepakatan internasional untuk menangani polutan tertentu sehingga tidak mencemari lapisan ozon.

Komentar