Ramadan

Jejak Wali Sanga di Masjid Ainul Yaqin

Selasa, 5 July 2016 07:01 WIB Penulis: M Yakub

MI/M Yakub

SEBUAH masjid yang berdiri di Bukit Giri, Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, menjadi bukti berkembangnya agama Islam di Tanah Jawa pada abad ke-15.

Masjid itu bernama Masjid Besar Ainul Yaqin, yang dibangun oleh Sunan Giri, salah satu tokoh Wali Sanga (penyebar agama Islam di Tanah Jawa).

Masjid tersebut terbilang unik lantaran selain letaknya yang berada di atas bukit Giri, Gresik, masjid itu juga menyimbolkan adanya perpaduan arsitektur budaya Islam dan budaya Jawa (Hindu).

Lantaran berada di atas bukit Giri, Masjid Besar Ainul Yaqin tidak mudah untuk dicapai.

Ratusan anak tangga harus dilewati jika ingin ke sana.

Pengunjung pun mesti melintasi enam blok makam dengan jalan yang menanjak.

Setelah menapak ratusan anak tangga, barulah pengunjung memasuki pintu gerbang masjid istimewa tersebut.

Seperti lazimnya bangunan peninggalan Wali Sanga, pintu gerbang Masjid Besar Ainul Yaqin juga dilengkapi dengan gapura paduraksa.

Gapura pertama terletak di pintu depan sebelah selatan dan gapura kedua ada di sisi halaman depan bagian timur yang menghubungkannya dengan permukiman warga setempat.

Masjid yang didirikan Raden Paku, nama lain Sunan Giri, pada 1399 Saka (1476 Masehi), itu memang saat ini bukan lagi berupa bangunan asli.

Bangunan asli masjid yang dibangun Sunan Giri terbuat dari kayu. Itu berbeda dengan bangunan masjid saat ini yang terbuat dari tembok beton permanen.

Namun, secara arsitektur, masih mendekati bentuk asli masjid lama, seperti yang terdapat pada bentuk di sebelah selatan bangunan besar masjid.

Hal itu wajar karena bangunan masjid telah mengalami sedikitnya lima kali renovasi.

Mulanya, masjid ini didirikan Sunan Giri di atas Bukit Kedaton Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kebomas.

Setelah Sunan Giri wafat, masjid kemudian dipindahkan ke Bukit Giri, di Jalan Sunan Giri Gang XVIII No 2 Kelurahan Giri, Kecamatan Kebomas, atau sekitar 500 meter dari Bukit Kedaton.

Humas Yayasan Masjid Besar Ainul Yaqin, M Maarif, mengungkapkan, meski sudah berusia lebih dari lima abad, bangunan masjid tetap terpelihara dengan baik.

Menurut dia, meski sudah mengalami sedikitnya lima kali renovasi, masjid itu tidak meninggalkan arsitektur kebanggaan masyarakat Gresik yang sangat unik.

Betapa tidak, bangunan masjid itu memasukkan unsur Islam dan Hindu yang cukup indah dan artistik.

Jejak perpaduan dua agama misalnya terlihat dari fondasi masjid awal yang berada di bukit Kedaton. Bekas-bekas fondamennya yang terbuat dari batu-batu nisan yang terukir tetap utuh di atas bukit Kedaton.

Begitu pula menara masjid yang tidak berupa kubah pada umumya seperti masjid-masjid di seluruh Nusantara.

Kubah masjid ini memiliki bentuk kubah khas, yaitu kubah atap limas dengan tiga undakan.

Bentuk kubah seperti itu persis kubah Masjid Agung Demak (masjid pertama yang dibangun para wali di Tanah Jawa) dan Masjid Kadilanggu (peninggalan Sunan Kalijaga di Demak).

Ramai dikunjungi

Maarif menyatakan kehadiran masjid itu pun tidak dapat dipisahkan dari sejarah penyebaran agama Islam di Kabupaten Gresik dan sekitarnya, terutama yang dilakukan Raden Ainul Yaqin alias Raden Paku.

Ia kemudian mendapatkan gelar Sunan Giri karena menempatkan lokasi masjid dan pesantren di daerah perbukitan yang cukup tinggi, dalam bahasa Jawa disebut giri.

Hingga saat ini, lanjut Maarif, masjid tersebut ramai dikunjungi peziarah dari berbagai kawasan di Tanah Air. Seperti dari beberapa daerah di Pulau Jawa, Sumatra, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, dan Kalimantan.

Umumnya pengunjung datang berziarah di makam Sunan Giri yang lokasinya di sebelah masjid.

Mereka lalu menyempatkan diri salat dan mengunjungi masjid bersejarah tersebut.

Hingga saat ini masjid masih dipergunakan warga sekitar untuk berbagai kegiatan, di antaranya pengajian majelis taklim, pertemuan muslim lintas usia, termasuk pula kegiatan selama Ramadan ini.

(S-4)

Komentar