Ramadan

Menebar Manfaat sembari Berkumpul

Selasa, 5 July 2016 04:51 WIB Penulis: Tes/H-2

ANTARA/Agus Bebeng

DALAM ajaran Islam, menjaga tali silaturahim ialah hal wajib.

Seiring dengan perkembangan zaman, ragam wadah silaturahim pun bermunculan. Salah satunya ialah dengan membentuk komunitas.

Suatu komunitas biasanya terbentuk atas dasar kesamaan, entah terkait dengan latar belakang, hobi atau kegemaran, hingga kedekatan lokasi tempat tinggal.

Di Indonesia, jumlah komunitas sudah tidak bisa lagi dihitung dengan jari lantaran sudah begitu menjamur di berbagai daerah, mulai yang beranggotakan puluhan orang hingga ribuan.

Tepat di Bumi Pasundan, sebuah komunitas motor gede (moge) berdiri dengan mengusung prinsip syariah, yaitu Komunitas Motor Gede Syariah Al Jabar 86 yang telah berjalan sejak enam tahun lalu.

Komunitas yang beranggotakan 350 orang ini tidak hanya menjadi ajang penyalur hobi, tapi juga dapat memberikan manfaat bagi orang yang membutuhkan.

"Yang ikut di komunitas ini terdiri dari berbagai unsur. Intinya kumpulan orang hobi motor gede, tapi tetap ingin bermanfaat bagi sekitar," tutur Ketua Komunitas Motor Gede Syariah Al Jabar 86 Andri Wilman.

Prinsip syariah tecermin dari napas kegiatan yang digencarkan komunitas. Andri bercerita, pihaknya memiliki santri khusus untuk kaum duafa dan yatim piatu.

Jumlah binaannya terus bertambah.

Kini jumlah anak panti asuhan di bawah naungan komunitas tersebut mencapai 140 orang.

Pun rutin diadakan majelis taklim agar jiwa kian disegarkan rahmat Sang Kuasa.

Karena itu, tidak salah rasanya bila komunitas ini juga disebut sebagai organisasi religi.

"Sesuai namanya, al jabar, yang diambil dari Asmaul Husna Allah Mahaperkasa. Jadi, bagaimana kumpulan pemuda ini dapat berkarya dan karyanya bisa dinikmati masyarakat kecil, khususnya dari sisi keagamaan ya," katanya.

Selama Ramadan, komunitas ini tetap melanjutkan syiar dengan mengadakan touring.

Yang membedakan, sambung dia, dalam perjalanan, mereka sengaja berhenti salat di masjid yang kondisinya tergolong rusak.

Tujuannya, mereka ingin melakukan dakwah sekaligus membantu memperbaiki masjid dengan menyumbangkan dana yang sudah dihimpun.

"Ini yang membedakan para biker syariah. Begitu waktu salat tiba, kami pasti berhenti. Kami berusaha mencari masjid yang rusak dengan niat lakukan syiar dan dakwah dengan memakmurkan masjid-masjid rusak," imbuh Andri.

Director of Distribution and Service Bank Syariah Mandiri, Edwin Dwijajanto, mengatakan perbankan terus berupaya menggandeng para biker untuk tumbuh dengan prinsip syariah.

"Karena sebagian besar biker merupakan pengusaha. Kita coba gandeng para biker untuk tumbuh di bank dengan prinsip syariah. Bukan hanya mencari keuntungan dari menyimpan dana, tapi bagaimana dana itu menjadi amanah," tukas Edwin.

Kala itu, rombongan moge berhenti di sebuah masjid tersohor di Kota Baru Parahyangan yang bernama Masjid Al Irsyad Satya.

Di dalam masjid yang didesain Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, itu, sudah duduk rapi anak panti asuhan yang akan memperoleh santunan.

Komunitas hijabers

Masih di belahan tanah Jawa Barat, ada lagi komunitas yang tak kalah menginspirasi, yang terdiri atas muslimah yang berkeseharian menggunakan jilbab.

Komunitas itu dikenal dengan Hijabers Community Bandung.

Komunitas yang terbentuk sejak 2012 itu semula menjadi wadah berkumpul para perempuan yang menggeluti dunia bisnis syariah.

"Awalnya kumpul-kumpul biasa rutin sebulan sekali, lama kelamaan kami berpikir untuk bergabung ke komunitas hijabers di Jakarta. Sebenarnya yang di Bandung ini cabangnya," urai Rizkia, salah satu anggota.

Selain menggelar kegiatan rutin, seperti pengajian, mereka juga mengadakan kegiatan tahunan seperti garage sale.

Komunitas ini juga tidak lupa mengadakan kegiatan amal yang merangkul para anak yatim.

"Orientasi bisnis pasti berbeda, cuma di sini kita support agar lebih berkembang. Misalnya trik pemasaran. Yang penting kami ingin mempererat silaturahim dan bisa memfasilitasi muslimah di Bandung agar bebas berekspresi," ucapnya.

Komentar