Ramadan

Menu Wajib yang Kehilangan Ruh

Selasa, 5 July 2016 06:11 WIB Penulis: Nicky Aulia Widadio

MI/Ramdani

PENGANAN yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan janur daun kelapa berbentuk segi empat ini merupakan hidangan wajib saat Lebaran.

Namanya ketupat.

Sebenarnya ada yang serupa, hanya dibungkus dengan daun pisang, namanya lontong.

Namun, serasa beda jika di hari Lebaran tidak ada ketupat.

Lantaran itu ketupat menjadi bisnis yang menggiurkan.

Kini bisa dijumpai ketupat instan di supermarket yang ada di Jakarta.

Ketupat instan itu terbuat dari plastik transparan.

Bentuknya persegi empat, serupa dengan ketupat daun kelapa.

Cara memasukkan butiran beras ke ketupat instan pun sama dengan ketupat alami.

Tinggal membuat celah di sudut bagian atas untuk memasukkan butiran beras.

Dimasak sekitar 2 jam, ketupat instan siap dihidangkan.

Linda Pratiwi, 32, pembeli ketupat instan yang ditemui Media Indonesia, kemarin, mengaku sudah dua kali Lebaran ia membeli ketupat instan.

Linda yang berasal dari Pekanbaru, Riau, harus berlebaran seorang diri lantaran tak bisa mudik.

"Lebaran tetap pengin makan ketupat. Makanya saya beli yang instan saja biar enggak ribet dan buat dimakan sendiri kok," cetusnya.

Menurut Linda, rasa ketupat instan memang tak senikmat ketupat alami.

Ia memilih ketupat instan lantaran lebih praktis.

"Kalau bikin ketupat biasa saya enggak bisa. Beli ketupat jadi pun saya bingung di mana. Kebetulan dulu nemu ketupat instan di sini (supermarket), makanya sekarang saya beli lagi. Jadi enggak usah susah-susah cari," ujar karyawan swasta yang tinggal di Apartemen Kalibata itu.

Asal usul ketupat

Budaya makan ketupat di kala Lebaran telah ada sejak peralihan abad ke-15 menuju abad ke-16 Masehi.

Ketupat ternyata memiliki peranan penting saat Sunan Kalijaga menyiarkan agama Islam di Pulau Jawa.

Sejarawan Universitas Padjadjaran Fadly Rahman mengatakan ketupat memiliki filosofi yang sama dengan Lebaran.

Kata ketupat berasal dari kata 'ngaku lepat' yang dalam bahasa Jawa berarti mengakui kesalahan.

Selain itu, ia bisa diartikan sebagai 'laku papat' yang berarti empat perilaku.

Empat perilaku yang dimaksud yakni lebar yang berarti membuka pintu maaf, liberan yang berarti melimpahkan sedekah kepada fakir miskin, leburan yang berarti melebur kesalahan dengan cara saling memaafkan, dan laburan yang berarti putih, menyucikan lahir batin.

"Di Arab, asal muasal Islam tidak ada istilah saling memaafkan saat Idul Fitri. Itu budaya yang muncul di Indonesia dan ketupat ialah simbolnya," ujar Fadly.

Bentuk ketupat yang segiempat, kata Fadly, juga melambangkan empat perilaku itu.

Sementara itu, bahan bakunya yang berasal dari beras dan daun kelapa ialah bahan-bahan yang saat itu potensial ditemukan di Indonesia.

Sayangnya, rata-rata masyarakat Indonesia tak lagi memahami filosofi dari ketupat Lebaran.

"Telah terjadi pergeseran makna, ketupat memang masih menjadi simbol Lebaran, tapi tidak lagi dipahami makna laku papat-nya itu," jelas Fadly.

Munculnya ketupat instan menjadi salah satu penandanya.

Dulu, lanjut Fadly, sebuah kebanggaan jika seorang wanita bisa membuat sendiri ketupat Lebaran dengan kepadatan dan kekenyalan yang bagus.

Budaya instan telah merasuki masyarakat Indonesia pada umumnya hingga ketupat pun telah tersedia versi instannya.

(J-3)

Komentar