Ramadan

Tetaplah Istikamah Seusai Ramadan

Selasa, 5 July 2016 01:11 WIB Penulis: Syarief Oebaidillah

MI/Panca Syurkani

RAMADAN tiba di penghujung, Idul Fitri pun segera menjelang.

Meski bulan puasa berlalu, diharapkan umat Islam tetap mempertahankan, bahkan meningkatkan nilai-nilai ibadah Ramadan dalam kehidupan sehari-hari di bulan-bulan berikutnya.

"Ramadan bertujuan membangun sikap dan kepribadian yang lebih baik. Idul Fitri menjadi permulaan untuk membuktikan keberhasilan kita memaknai Ramadan," ujar Ustaz Ali Nurdin di Jakarta, kemarin.

Wakil Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Quran (PTIQ) Jakarta itu menjelaskan, pembuktian keberhasilan pasca-Ramadan antara lain bersikap istikamah dalam ibadah.

Yakni dengan tetap menjalankan salat lima waktu dan ibadah ritual lainnya, memiliki jiwa yang tulus, serta semakin peduli terhadap sesama.

"Siapa pun diri kita dapat berkontribusi untuk kemaslahatan dalam tingkatan dan ukuran apa pun. Bagi yang dianugerahi pengetahuan hendaklah tidak pelit berbagi, yang dianugerahi lapang rezeki juga terus menebar kebaikan," tegasnya.

Ali Nurdin menyebut sejumlah hadis yang memerintahkan umat Islam agar senantiasa menebar kebaikan pada sesama.

Di antaranya, "Selamatkan dirimu dari siksa neraka dengan bersedekah meski hanya sebiji kurma".

Hadis lain menyebut, "Tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah".

Juga hadis yang menyatakan, "Siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah menghormati tetangga."

"Banyak sekali pesan Nabi Muhammad SAW yang mengingatkan umat Islam untuk selalu berbuat baik kepada sesama manusia. Maka momentum Idul Fitri menjadi tepat untuk kita istikamah dengan terus-menerus berbuat kebaikan," papar peraih gelar doktor tafsir Quran dari Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Jakarta itu.

Ia lalu menjelaskan makna Idul Fitri secara bahasa.

Kata 'id' artinya kembali, adapun 'fitri' mempunyai tiga arti yakni asal penciptaan, kesucian, dan agama yang lurus.

Jadi, Idul Fitri berarti kembali kepada asal kejadian pertama diciptakan Tuhan dalam keadaan suci dan beragama yang lurus.

"Ucapan utama saat Idul Fitri yaitu 'Taqabalallahu minna wa minkum' yang artinya semoga Allah menerima amalku dan amal kalian. Ucapan itu bisa ditambah dengan doa apa saja yang baik-baik," imbuhnya.

Ia juga berpesan agar dalam merayakan Idul Fitri umat Islam berlaku wajar, tidak berlebihan, apalagi sampai melanggar nilai-nilai agama dan norma-norma sosial kemasyarakatan.

Zakat fitrah

Terkait zakat fitrah, Ali Nurdin yang juga pempimpin Pondok Pesantren Nurul Quran itu menjelaskan bahwa ibadah tersebut merupakan simbol dimensi sosial yang menyempurnakan puasa Ramadan.

"Prinsip dalam Islam, kebaikan harus dibangun dalam dua dimensi yakni secara vertikal kepada Allah SWT dan secara horizontal dengan sesama manusia. Nah, semua jenis ritual agama mengandung pesan tersebut termasuk puasa sebagai ibadah ritual disempurnakan dengan zakat fitrah. Jadi jika orang rajin beribadah ritual namun pelit bersedekah, tidak berzakat, tidak diterima amalan ibadah ritualnya," cetusnya.

Melalui Alquran Surat Albaqarah ayat 43, lanjut Ali Nurdin, Allah telah menegaskan perintah ibadah ritual yang dirangkai dengan ibadah sosial.

"Laksanakanlah salat, tu-naikanlah zakat, dan rukuk-lah beserta orang-orang yang rukuk," demikian arti ayat tersebut.

(H-3)

Komentar