Ramadan

Open House

Selasa, 5 July 2016 00:21 WIB Penulis: Ronal Surapradja

MI/Permana

SELAIN berfoto dengan artis, salah satu yang bisa dibanggakan ialah jika kita bisa berfoto dengan pejabat, mulai wali kota, menteri, ketua partai, sampai presiden.

Salah satu ajang untuk berfoto dengan pejabat yaitu saat mereka melakukan open house Lebaran nanti.

Itu pun dengan syarat kita diundang dan diperbolehkan berfoto oleh ajudan atau protokoler.

Habis itu langsung posting di social media atau dijadikan profile picture, keren! Ha ha.

Saya tidak tahu persis kapan istilah open house ini mulai dipakai terlebih oleh para pejabat publik.

Harusnya silaturahim tidak dikaitkan dengan agenda birokrasi, pemerintahan, atau kenegaraan.

Sayangnya kebiasaan itu justru mengaburkan makna silaturahim Idul Fitri.

Open house sering kali hanya dijadikan acara pesta makan dan bersalam-salaman tanpa makna spiritual sama sekali.

Biasanya malah dijadikan ajang untuk mengukur kesetiaan bawahan, teman satu partai, atau satu koalisi.

Akibatnya, orang datang ke open house bukan karena ketulusan hati untuk meminta atau memberi maaf, melainkan karena takut dipandang tidak loyal.

Open house menjadi agenda komunikasi politik.

Siapa yang mengundang, diundang, siapa tidak datang, cara bersalaman dan berbincang, termasuk urutan bersalaman jadi semacam 'pesan' politik.

Sebetulnya open house seperti ini bisa dipahami sebagai bentuk kedewasaan berpolitik, artinya konflik dalam berpolitik tidak kemudian membuat hubungan personal antarpelaku politik menjadi berjarak.

Adanya maksud lain membuat silaturahim tidak murni lagi.

Kalau mau lebih 'niat' lagi, sebetulnya para pejabat itu tidak melakukan open house di saat mereka diam di kediaman mereka dan mempersilakan masyarakat yang mau silaturahim untuk datang.

Kalau mau hitung-hitungan sebetulnya yang punya lebih banyak salah itu masyarakat ke pejabat, atau sebaliknya?

Bukannya banyak kelakuan dari para pejabat yang telah menyakiti rakyat? Apalagi sampai beberapa kali berurusan dengan hukum.

Kemudian kita harus datang dan minta maaf sama mereka?

Saya sih enggak mau, ya.

Harusnya merekalah yang datang dan minta maaf sama kita, bukan sebaliknya.

Harus disadari, pemimpin itu pelayan rakyat.

Jadi jelas kan siapa atasan dan bawahannya? He he.

Jadi wajar dong kalau yang minta maaf itu bawahan mendatangi atasan.

Biarkanlah open house jadi agenda komunikasi politik dari para elite negeri ini.

Semoga kita sebagai masyarakat biasa bisa bersilaturahim di saat Lebaran nanti hanya dengan satu agenda, setulusnya memohon maaf lahir dan batin.

(H-5)

Komentar