Eksekutif

Membawa Asuransi Goes Digital

Senin, 4 July 2016 06:01 WIB Penulis: Nuriman Jayabuana

MI/Agus Mulyawan

Dewasa ini, persaingan antarperusahaan asuransi sudah bukan lagi berupa perang harga.

YOVITA Hamdani masih ingat betul krisis moneter yang menerpa Indonesia pada 1997-1998 sempat membuatnya kesulitan mencari kerja seusai lulus kuliah.

Kala itu, banyak perusahaan yang me-layoff (merumahkan) besar-besaran karyawan mereka akibat mengalami krisis keuangan.

Lulusan studi manajemen pemasaran dari Universitas Tarumanagara tersebut mengakui periode tersebut merupakan masa sulit bagi siapa saja untuk memperoleh pekerjaan di Ibu Kota.

Ia pun sempat patah arang dan akhirnya memutuskan pulang kampung ke rumah orang tuanya di Tasikmalaya.

Namun, pada 1999, ia memutuskan untuk nekat kembali merantau ke Jakarta demi mencari pekerjaan.

"Waktu itu perusahaan memang masih banyak yang layoff, tapi perusahaan asuransi justru sedang gencar mencari karyawan. Dari situ untuk pertama kalinya saya masuk ke dunia asuransi," kisah Yovita saat berbincang dengan Media Indonesia di kantornya di daerah Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Sejak saat itu ia mulai menapaki kariernya di industri asuransi sebagai agen.

Ia selalu konsisten menekuni dunia tersebut selama belasan tahun.

Seluruh suka duka perjalanan kariernya telah ia rasakan.

Mulai dari sikap orang tua yang awalnya kurang mendukung hingga dijauhi beberapa teman dekat.

"Mungkin karena waktu itu asuransi sesuatu yang masih baru dan image-nya maksa orang beli produk. Makanya, orang tua enggak mendukung. Satu satunya yang men-support sejak awal cuma suami," kenangnya.

Kini, perjuangan Yovita Hamdani tersebut hanya sebatas kenangan masa lalu sebab seluruh kerja kerasnya telah membuahkan hasil sesuai yang ia harapkan.

Sejak 2012, ia bahkan mendirikan perusahaan broker asuransi miliknya, PT JETS Indonesia. Belum lama ini, ia pun meluncurkan portal PasarAsuransi.co.id sebagai tempat bagi perusahaannya memasarkan seluruh produk asuransi dari berbagai perusahaan asuransi ternama.

"Kalau dibandingkan dulu, pada 1999, mana ada yang mau beli produk asuransi. Sekarang, banyak banget yang menyodorkan diri bilang, eh gue mau dong asuransi kesehatan, asuransi ini, asuransi itu," tuturnya.

Beda perang

Empunya prinsip bekerja dengan hati itu memandang dunia pemasaran asuransi merupakan suatu bisnis yang tidak bisa disepelekan.

Dalam menjalankan suatu bisnis, ujar dia, seseorang harus selalu all out menggelutinya.

"Banyak yang mendalami profesi agen asuransi itu sebatas freelance, tapi saya sejak awal lihat ini sebagai bisnis yang potensial. Jadi saya fokus dan seriusi."

Seiring pesatnya perkembangan teknologi, ia mengakui adanya pergeseran kecenderungan nasabah asuransi yang lebih meminati layanan digital.

Hal itulah yang akhirnya mendorong dirinya untuk menggagas portal PasarAsuransi.co.id.

Dengan portal yang mencakup produk-produk dari 40 perusahaan asuransi tersebut, calon nasabah dapat membandingkan produk mereka secara online, layaknya belanja barang di dunia maya.

"Tinggal klik mau jenis produk asuransinya apa, langsung keluar produk asuransi dari mana saja yang cocok. Semuanya masing masing ada keterangan benefit-nya apa saja dan harganya," ujar dia.

Sistem itu dapat memudahkan konsumen yang kesulitan untuk memilih produk asuransi yang akan dibeli sebab faktor harga tidak lagi jadi pembeda signifikan sejak Otoritas Jasa Keuangan sebagai regulator menetapkan batas atas dan batas bawah untuk biaya premi.

"Beda dengan zaman dulu, bisa ada yang murah banget, ada yang tinggi banget. Produk asuransi sekarang perangnya sudah bukan ke harga, tapi lebih ke benefit-nya. Walau harga mirip, tapi benefit-nya beda-beda," tuturnya.

Perkembangan asuransi digital di Indonesia dirasa Yovita bakal terus bertumbuh setiap tahunnya, terutama bila dilihat dari jumlah pengguna ponsel pintar yang bertambah secara signifikan.

Berdasarkan fakta itu, ia yakin pemasaran produk asuransi di masa mendatang juga berangsur beralih ke dunia digital.

"Perusahaan asuransi sekarang juga lagi mempersiapkan diri untuk menyongsong era digital. Infrastrukturnya pun sudah bertahap ke digital, jadi ke depannya memang akan beralih digital semua," ucapnya optimistis.

Ia mengakui, pada masa transisi ini, bukan tidak mungkin ada sebagian konsumen kebingungan.

Misalnya, nasabah yang biasa memegang dokumen polis dalam bentuk hard copy, mungkin akan ragu dengan kesahihan polisnya kalau sekadar dalam bentuk soft copy yang dikirim via surat elektronik.

"Makanya kita lakukan bertahap, di PasarAsuransi.co.id itu polisnya juga masih kita kirim hard copy, tapi untuk travel insurance kita kirim by e-mail," paparnya.

Bukan sekadar etalase

Adapun portal digitalnya sekarang mampu menjadi kanal distribusi bagi empat kategori produk asuransi, yaitu asuransi kesehatan, asuransi kendaraan, asuransi perjalanan, dan asuransi properti.

Dalam waktu dekat, ia berencana memasukkan produk asuransi jiwa berjangka (term life).

Yovita mengamini terdapat sejumlah kompetitor yang turut memasarkan produk asuransi secara digital.

Hanya, portalnya memiliki perbedaan dengan portal lainnya.

"Selama ini memang kita punya kompetitor, tapi kebanyakan hanya sebatas marketplace, sebatas pajang produk dan nanti mereka lempar lagi ke agen. Kalau kita memang berlisensi broker," ujar dia.

Jadi, apa bedanya agen dan broker? Menurut Yovita, agen pada umumnya terikat dengan satu perusahaan tertentu.

Sebaliknya, broker memiliki fleksibilitas untuk memadankan produk dari berbagai perusahaan asuransi dengan kebutuhan si calon nasabah.

"Jadi, nasabah butuh apa, bisa dicarikan asuransi yang paling murah tapi servisnya bagus. Broker yang carikan. Kalau klaim pun nanti broker yang urus. Untuk ketentuan fee-nya juga sudah diatur OJK," papar perempuan berambut ikal itu.

Portofolio produksi asuransi yang tersalurkan perusahaannya kebanyakan berada di segmen asuransi kesehatan, baik untuk penyaluran secara retail maupun korporat.

"Di kita itu, portofolio asuransi kesehatan sampai 50%. Sisanya itu baru di asuransi kendaraan, asuransi properti, sama asuransi marine yang kebagi dua, ada yang asuransi marine cargo untuk penumpukan barang sama asuransi untuk kapalnya," kata dia.

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya memegang jaminan kesehatan.

"Masyarakat semakin aware butuh asuransi kesehatan, dan banyak juga perusahaan internasional yang banyak mempekerjakan ekspatriat mengasuransikan pekerjanya semua."

Dengan portal digital, ia menargetkan mampu meraup pasar yang belum tersentuh dengan portal digital.

Yovita mengatakan, selama ini JETS broker lebih terkenal di Jakarta, dan punya kantor perwakilan di Ambon sama Bali.

"Tapi market asuransi itu kan luas banget. Kita ingin menjangkau kita sampai ke daerah daerah yang selama ini belum pernah kita sentuh."

Kontribusi

Di luar kesibukannya, Yovita memiliki juga menyimpan sejumlah agenda kegiatan rutin sebagai pelepas stres yang terpisahkan dengan pekerjaannya.

"Bagaimanapun kan kalau kerja, tetap prioritas kan harus keluarga. Ya harus bisa menyeimbangkan. Rutinitas ada, tapi Sabtu dan Minggu saya mengkhususkan diri untuk keluarga, baik itu olahraga bareng atau refreshing belanja ke pasar," akunya.

Di hari biasa, ibu dua anak itu bahkan selalu mengupayakan pulang ke rumah sebelum pukul 18.00 agar bisa membantu putranya mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah.

Yovita pun gemar menuturkan berbagi pengalaman pribadinya dengan menulis.

Selain membuat jurnal blog, ia juga telah memublikasikan dua buku. tiap-tiap buku berjudul Revolusi Asuransi Digital dan Anda Terlahir Kaya.

"Saya juga mau kontribusi ke dunia asuransi, apa sih yang selama ini saya pelajari dari mulai life insurance, general insurance bisa didedikasikan. Selain bawa insurance goes digital, saya juga bikin buku," pungkasnya.

(E-2)

Komentar