Ramadan

Dakwah Beda Wajah

Ahad, 3 July 2016 07:20 WIB Penulis: Her/M-1

MI/ATET DWI PRAMADIA

IKHTIAR membasuh noda, juga merintis dan merawat kultur positif terus didenyutkan di kawasan Saritem, Bandung, Jawa Barat. Jumat (1/7), bekas lokalisasi itu memamerkan mural-mural beraneka warna dengan kaligrafi di atasnya.

Kegiatan pameran yang menjadi rangkaian festival kesenian di Saritem itu, kata Camat Andir, Novidi H Ekaputera, menjadi bagian dari usaha membuat Saritem menjadi lebih baik. Di kawasan yang dikenal sebagai lokalisasi sejak zaman kolonial itu, upaya mengubah kultur memang masih berhadapan dengan pelaku yang mencuri-curi berpraktik prostitusi.

Kisah tentang Pesantren Darut Taubah, yang berdiri di sana sejak 1999 bersamaan dengan penu­tupan lokalisasi, memang telah lazim dikabarkan. Namun, sejatinya kehadiran pesantren itu mestinya tak sebatas simbol pembeda.

Kegiatan pengajian, yang melibatkan santri ataupun warga lokal, nyatanya memang menghadirkan opsi, dengan kemudahan untuk ­mengaksesnya. “Ada yang datang berkonsultasi, yang masuk ke lembah itu karena terpaksa. Salah satunya perempuan yang be-kerja di sini karena berkonflik dengan suami­nya,” kata Pemimpin Pesatren Darut Taubah Ahmad Haedar.

Anak-anak yang orangtua mereka dulu germo, calo, atau PSK tumbuh dengan mengeja huruf hijaiah dan menghapalkan bacaan salat di Daarut Taubah, kini mereka mulai keluar dari dunia yang semula diwariskan antargenerasi.

Pengajian yang tak hanya mengabarkan tentang benar dan salah atau pahala dan dosa, tapi dengan pendekatan pada masalah kehidupan warga juga dilakukan di Pondok Pesantren Al Karimiyah, Subang, Jawa Barat, yang menggarap mantan pelaku kriminalitas. Juga ada Bang Olih di Gang Subur, Lenteng Agung, Jakarta, yang konsisten mengajar ngaji sembari bekerja serabutan sebagai tukang pijat hingga melatih silat.

Bagi mereka, berdakwah berarti kerja terus-menerus melaksanakan nilai-nilai kebaikan, yang sering kali tanpa uang jasa. (Her/M-1)

Komentar