Ramadan

Tafsir Al-Mishbah: Kisah Bangsa Romawi

Ahad, 3 July 2016 06:40 WIB Penulis: Quraish Shihab

TAFSIR Al Mishbah kali ini membahas Surah Ar-Rum ayat 1-8. Kata ‘rum’ pada surah ini diambali dari kata Roma atau Romawi. Dahulu bangsa Romawi terbagi menjadi dua bagian, yakni barat dan timur. Namun, setelah sekian lama, Roma Barat mengalami keruntuhan, sedangkan Roma Timur mengalami kemajuan yang cukup pesat, meski kemudian runtuh.

Rum yang dimaksudkan dalam surat ini ialah Roma Timur. Ayat pertama dimulai dengan bacaan alif laam mim. Di ayat kedua, dikatakan bahwa Romawi telah terkalahkan. Saat itu memang terjadi peperangan antara Persia dan Romawi Timur pada 615 Masehi. Namun, setelah terkalahkan, mereka meraih kemenangan.

Di ayat keempat disebutkan bahwa kemenangan Romawi akan diperoleh dalam waktu yang tidak kurang dari 3 tahun dan tidak lebih dari 9 tahun. Pada ayat itu ada istilah adhnal ard, kata adhna itu bisa diartikan dekat, rendah, atau pun mudah.

Istilah adhnal ard pada ayat tersebut merujuk pada makna bahwa kekalahan Romawi itu terjadi di suatu tempat yang dekat, yakni di Yordania.
Yordania memiliki Danau Laut Mati yang merupakan tempat paling rendah, yakni 409 meter di bawah permukaan laut. Nabi Muhammad SAW pun baru mengetahui bahwa tempat itu ialah yang paling rendah ketika Allah SWT memberitahunya karena pada saat itu belum ada alat ukur untuk mengetahuinya.

Selanjutnya, tentang pernyataan bahwa Romawi akan meraih kemenangan pada 3-9 tahun, sejarah mencatat kemenangan itu diraih tujuh tahun setelah kekalahan mereka. Allah tidak menyebutkan secara spesifik angka tujuh tahun itu dengan alasan bahwa ukuran kemenangan dan kekalahan itu berbeda-beda. Karena perbedaan dalam penilaian itulah, Alquran menggunakan kata-kata yang begitu teliti.

Menariknya, dikatakan pada ayat empat bahwa segala persoalan baik sebelum menang maupun sesudahnya ialah milik Allah. Dalam ayat selanjutnya, Allah menyatakan Ia memberikan kemenangan bagi siapa pun yang Ia kehendaki melalui hukum-hukum kemasyarakatan.
Di ayat ketujuh dikatakan bahwa banyak manusia mengukur sesuatu hanya secara lahiriah dari apa yang terlihat. Padahal terdapat hal-hal di luar itu atas kehendak Allah.

Pada ayat kedelapan Allah menjelaskan bahwa alam semesta dan manusia diciptakan dengan suatu tujuan, yakni untuk menyembah-Nya agar mencapai kebahagiaan kelak di akhirat. Namun, banyak manusia yang mengingkarinya dan menganggap tidak akan ada lagi kehidupan setelah manusia meninggal dunia. Padahal, tidak demikian. (Mlt/H-3)

Komentar