Ramadan

CELOTEH: Malam 1.000 Bulan

Ahad, 3 July 2016 06:25 WIB Penulis: Ronal Surapradja

MI/Permana

WAKTU itu sekitar dua bulan sebelum Ramadan tiba, saya syuting untuk sebuah acara di Metro TV. Sebelum syuting, saya diajak ngobrol oleh Mbak Retno dari Media Indonesia. Beliau menawari saya untuk menulis kolom sebulan penuh. Saya memang suka menulis, tetapi rasanya sudah lama saya tinggalkan kegiatan itu. Ada rasa pesimistis bisa menyelesaikan tugas ini. Akan tetapi, setelah diyakinkan, saya menyanggupinya dan tidak terasa tugas saya hampir selesai, hehe.

Karenanya saya jadi punya jadwal kegiatan baru, yaitu ketika malam hari penghuni rumah sudah tidur, saya mulai menulis. Supaya tidak terlalu sepi, biasanya saya memutar musik dan menyalakan TV. Kebetulan ada Euro 2016, jadinya nonton semua deh, hehe. Namun, beberapa hari terakhir ini ada yang saya rasakan beda dari malam-malam sebelumnya. Rasanya begitu tenang dan damai.

Kemudian saya tersadar kalau ini sudah masuk 10 hari terakhir Ramadan. Berarti ada satu malam di antara 10 hari terakhir ini yang merupakan malam Lailatulkadar, malam yang lebih mulia dari 1.000 bulan. Masya Allah!

Malam itu saking tenangnya, saya matikan musik dan TV. Saya tajamkan semua indra saya untuk merasakannya.

Saya ingat ada beberapa ciri malam Lailatulkadar. Saya keluar rumah dan melihat langit tidak ada awan. Jadi saya bisa melihat bintang lebih banyak daripada biasanya. Begitu pun suhu tidak panas, tidak dingin, tidak ada hujan, dan angin. Waduh, jangan jangan ini malam Lailatulkadar, pikir saya.

Memang Rasulullah SAW tidak menyebutkan secara khusus kapan Lailatulkadar tiba. Namun, beliau memberikan panduan agar umat Islam mencari malam tersebut pada 10 hari terakhir bulan Ramadan. Jika karena satu dan lain hal kita tidak bisa mengoptimalkan ‘pencarian’ itu sejak awal 10 hari terakhir, pastikan 7 hari lainnya tidak luput.

Berdasarkan itu banyak diyakini Lailatulkadar akan terjadi pada malam ganjil 10 hari terakhir Ramadan, yaitu pada malam 21, 23, 25, 27, dan 29. Nah jika kita lolos dua malam pertama, kita masih dapat mencarinya pada malam 25, 27, dan 29. Kepastian kapan Lailatulkadar tiba adalah rahasia Allah.

Jadi teringat masa kecil saya, sebuah tradisi menyambut malam Lailatulkadar yang namanya lilikuran. Malam 21 Ramadan disebut salikur, malam 23 Ramadan disebut dua likur, dan seterusnya.

Dulu saat kecil, ini adalah momen paling membahagiakan untuk berlama-lama di masjid. Mengapa? Karena banyak makanan sumbangan dari warga, haha. Selain itu, masjid terang sepanjang malam karena banyak orang di masjid yang beriktikaf. Waktu itu saya ingat bisa main sampai malam tanpa disuruh pulang orangtua atau ikutan mengaji ketika ustaz sudah memarahi kami, hehe.

Biasanya saya dan teman melakukan hal itu sampai tertidur di masjid, dan baru pulang menjelang sahur.

Kalau mengingat cerita itu, saya memang tersenyum. Namun, setelah itu merenung lama dan bersedih. Berpikir kalau waktu kecil saya bisa melakukan hal tersebut, kenapa sekarang ketika dewasa saya malah tidak pernah melakukannya?

Kenapa waktu saya kecil di malam itu saya bisa berdiam di masjid, salat sunah, memperbanyak doa, baca Alquran, dan berzikir. Terlepas dari saya mungkin belum terlalu paham maksudnya buat apa, tapi setidaknya saya melakukannya.

Padahal saya tahu betapa hebatnya malam Lailatulkadar ini, yang amalan ibadahnya lebih baik daripada beribadah 1.000 bulan atau 83 tahun 4 bulan!

Adapun yang saya lakukan saat ini hanya berdiam di rumah, setelah menulis selesai lalu menonton sepak bola menunggu sahur.

Pukul 05.30 saya berangkat kerja. Saya perhatikan matahari bersinar lemah kemerahan, terang tapi tidak menyengat sampai siangnya. Ini adalah salah satu ciri jika malam sebelumnya ialah (mungkin) malam Lailatulkadar, dan saya melewatkannya begitu saja. Saya berdoa semoga Allah SWT masih memberi saya usia sampai Ramadan tahun depan untuk mendapatkan kemuliaan malam Lailatulkadar. (H-2)

Komentar