Ramadan

Kesetiaan Ramadan di Cicendo

Ahad, 3 July 2016 06:00 WIB Penulis: Sumaryanto Bronto

MI/Sumaryanto Bronto

LEBIH dari 200 tenda berdiri berdempetan di tempat itu. Di beberapa ruang yang terbuka di antara tenda itu, ada sajadah-sajadah tergelar dan orang-orang yang berdiri membaca Alquran.

Suasana itu memang bukan di bumi perkemahan, melainkan di pela­taran Masjid Raya Habiburrahman, Cicendo, Bandung, Jawa Barat. Sementara itu, di masjid-masjid lain, para jemaah telah banyak beralih ke pusat-pusat belanja. Ada keteguhan ibadah yang sangat menyentuh di sini.

Semangat untuk beriktikaf demi mengejar kemuliaan lailatulkadar tampak benar di sosok-sosok pria ataupun perempuan yang memenuhi masjid tersebut. Mereka bukan hanya datang dari sekitar masjid ataupun Kota Bandung, melainkan juga dari Bogor, Cianjur, Ciamis, bahkan juga dari Sulawesi, Kalimantan, dan hingga orang Indonesia yang bermukim di luar negeri seperti Arab Saudi dan Malaysia.

Masjid Raya Habiburrahman memang sudah terkenal dengan tradisi iktikafnya. Bahkan iktikaf dengan membawa tenda sudah berlangsung sejak 16 tahun lalu. Tahun ini iktikaf dimulai sejak Minggu, 26 Juni.

Iktikaf diisi dengan beragam kegiatan, di antaranya qiyamul lail, membaca Alquran 3 juz per malam, kajian tazkiyatun nafs seusai salat subuh, kajian bakda asar, serta berbuka puasa dan santap sahur bersama.

Kegiatan lebih banyak difokuskan di malam hari, saat para jemaah melaksanakan salat tarawih bakda isya dengan bacaan salat 1/2 hingga 1 juz, diselingi dengan tidur 2 jam, kemudian dilanjutkan dengan ­qiyamul lail berjamaah dari pukul 00.30 WIB selama 3 jam dengan bacaan salat sampai 3 juz.

Beberapa jemaah tampak pula kelelahan hingga tidak kuasa duduk tersungkur ataupun menyingkir sejenak ke teras masjid. Namun, sebagian besar lainnya berusaha tegar berdiri demi mengharap rida ilahi. Keikhlasan itu pula yang menambah keindahan bulan Ramadan. Serasa berkah seribu bulan sudah tercurah di Cicendo. (M-3)

FOTO-FOTO MI/SUMARYANTO BRONTO

Komentar