Internasional

Gencatan Senjata Diberlakukan

Senin, 16 February 2015 00:00 WIB Penulis: AFP

PRESIDEN Ukraina Petro Poroshenko memerintahkan tentara untuk mematuhi gencatan senjata dari Minggu (15/2) pukul 00.00 waktu setempat, sejalan dengan kesepakatan yang telah dicapai di Minsk, Belarus, Kamis (12/2), dengan para pemimpin Rusia, Jerman, dan Prancis. Jerman dan Prancis bertindak sebagai penengah dalam perundingan tersebut. Poroshenko juga menyatakan dia bakal memberlakukan hukum darurat perang jika masa gencatan senjata terganggu.

Dua warga sipil, yakni sepasang laki-laki dan perempuan lansia, tewas akibat serangan roket pemberontak di Kota Popasna, Luhansk, hanya 20 menit setelah dimulainya gencatan senjata di timur Ukraina pada Minggu (15/2) itu. Namun, pejabat pro-Kiev, Gennadiy Moskal, mengatakan pertempuran dilapor kan mereda di sebagian besar zona konflik.

Dalam komentar yang disiarkan langsung di televisi, Presiden Poros henko menambahkan proses perdamaian itu sudah `terancam' oleh ulah separatis pro-Rusia yang mengepung pasukan Ukraina di medan pertempuran di Kota Debaltseve, Donetsk.

Pada jam-jam menjelang waktu dimulainya gencatan senjata, loyalis Kiev dan kepala polisi regional Vyacheslav Abroskin mengatakan pengeboman artileri yang konstan telah meratakan Debaltseve, yakni pusat rute kereta api strategis dan menjadi andalan pertahanan pasukan Ukraina.

''Ada pengeboman artileri nonsetop dari daerah permukiman dan bangunan-bangunan. Kota itu terbakar,'' kata Abroskin. Deputi kepala polisi regional Ilya Kiva juga menyebut penembakan di Debaltseve dan desa di dekatnya, Chornuhine, telah mereda tapi belum berhenti sepenuhnya. ''Kami harap ini hanya butuh waktu sebelum gencatan senjata terlaksana sepenuhnya. Proses ini bukan proses instan,'' kata Kiva.

Kesepakatan perdamaian terakhir yang melibatkan pemimpin Ukraina, Rusia, Jerman, dan Prancis, dipandang sebagai harapan baru guna menyetop pertempuran di Ukraina yang telah memakan korban hingga 5.480 jiwa sejak April tahun lalu.

Sayangnya, kesepakatan gencatan senjata itu diselingi rasa saling tidak percaya dan skeptisisme di berbagai pihak karena masa-masa gencatan senjata sebelumnya selalu terputus.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry berbicara melalui telepon dengan rekan sejabatnya dari Rusia, Sergei Lavrov, dengan menggarisbawahi pentingnya implementasi penuh perjanjian perdamaian, termasuk gencatan senjata.

Selama ini AS ialah pihak yang sangat keras merespons Rusia terkait dengan konflik Ukraina. Kerry juga menyatakan keprihatinan tentang pertempuran sengit di sekitar Debaltseve. (AFP/AP/Hym/I-1)

Komentar