Eksplorasi

Menyingkap Asal Usul Homo Floresiensis

Sabtu, 18 June 2016 07:01 WIB Penulis: Dhika Kusuma Winata

Foto: Karen Neoh/media.uow.edu.au

AGUSTUS 2003, di sebuah hotel di Kecamatan Ruteng, Flores, arkeolog Australia Mike Morwood memamerkan fosil gigi yang baru saja digali dari Gua Liang Bua kepada para koleganya.

Bentuknya serupa gigi manusia, tapi tidak seperti pada umumnya.

Para peneliti tidak yakin atas temuan mereka.

Sebulan kemudian, peneliti gabungan yang dipimpin Morwood itu menemukan tengkorak berukuran kecil di situs penggalian yang sama.

Misteri pun terpecahkan.

Tim gabungan Australia-Indonesia akhirnya berhasil memperkenalkan spesies Homo floresiensis--dijuluki Hobbit--kepada dunia pada 2004.

Namun, muncul teka-teki baru.

Dari mana asal usul manusia purba setinggi 1 meter itu?

Morwood menganggap temuan tersebut menemui jalan buntu.

Baginya, evolusi H floresiensis sulit dipastikan karena sedimen di Gua Liang Bua terlalu muda.

Tim lalu beralih ke Mata Menge, Cekungan Soa, 70 km sebelah timur dari Liang Bua.

Upaya pencarian diperbesar.

Kelompok peneliti terdiri dari paleontolog, arkeolog, serta geolog di Museum Geologi Bandung dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas).

Mereka melatih ratusan penggali dari komunitas lokal di Ngada dan Nagekeo.

"Sejak 2004, kami memulai fase ekskavasi baru. Itu menjadi penggalian paleoantropologis terbesar di Asia Tenggara," terang Gerrit van den Bergh, paleontolog di University of Wollongong, Australia, yang juga tergabung dalam tim.

Perburuan berlangsung hingga 10 tahun.

Sang pemimpin tim Mike Morwood meninggal akibat kanker.

Di saat yang sama, dari puluhan ribu elemen tulang belulang yang didapat, tak satu pun yang mampu menjadi petunjuk.

"Kami sempat kehilangan harapan," kata Van den Bergh.

"Kemudian bingo! Kami menemukan sesuatu yang tidak terduga," tambahnya.

Perburuan membuahkan hasil pada Oktober 2014. Peneliti menemukan fosil dental dari tiga manusia purba (satu dewasa, dua anak-anak) yang mirip dengan kerangka Hobbit.

Tulang belulang itu berupa bagian gigi geraham (molar), gigi kacip (incisor), gigi taring (canine) serta tulang rahang (mandible).

Menurut analisis, sedimen batu lokasi fosil sudah terdeposit 700 ribu tahun. Temuan itu dipublikasikan di jurnal Nature, pekan lalu.

Menciut

Fosil di Mata Menge diyakini milik 'Hobbit kuno' yang hidup jauh lebih tua.

Spesimen geraham milik hominid dewasa, menurut peneliti, menunjukkan ciri yang mirip dengan H erectus.

Tulang rahang yang ditemukan juga mirip dengan milik H erectus dan H floresiensis.

Sementara itu, peneliti juga mencatat fragmen rahang yang ditemukan berukuran 21% lebih kecil daripada rahang H floresiensis.

Diduga, H floresiensis bisa jadi merupakan versi besar dari leluhurnya.

Menurut peneliti, H erectus ialah kandidat yang paling mungkin sebagai nenek moyang H floresiensis.

Pasalnya, artefak lain yang terlebih dulu ditemukan menyatakan H erectus tiba di Flores dari Jawa atau Sulawesi pada 1 juta tahun silam.

Mungkin, mereka mengalami proses penciutan (dwarfism) akibat sumber daya yang terbatas.

Diduga, dwarfism bisa jadi dimulai di Flores atau daerah lainnya.

"Mamalia, kalau ada di pulau, akan kecil karena menyesuaikan dengan stok makanan yang ada," ujar Fachroel Aziz, anggota tim dari Museum Geologi Bandung.

Walhasil, temuan baru tersebut membantah teori H floresiensis ialah Homo sapiens yang mengalami penyakit genetik.

Di sisi lain, William Jungers, paleoantropolog dari Stony Brook University, New York, menyangsikan hasil itu karena hanya bersandar pada temuan spesimen dental.

Peneliti masih membutuhkan bukti-bukti tambahan.

Diduga, spesies pra-Hobbit masih tersembunyi di Cekungan Soa atau di daerah lain seperti Sulawesi.

"Hingga tulang belulang di Mata Menge lengkap, kami belum bisa memastikan identitas leluhur Hobbit. Karena itu, perburuan (justru) baru dimulai," kata Van den Bergh.

(Nature/The Guardian/The Conversation/AFP/L-1

Komentar