Polkam dan HAM

Harga belum Stabil Impor Daging Ditambah

Jum'at, 10 June 2016 07:25 WIB Penulis: Jessica Sihite

MI/ARYA MANGGALA

BELUM turunnya harga daging sapi di pasaran membuat pemerintah menambah kuota impor daging sapi beku.

Pemerintah berencana menambah kuota impor daging beku yang tadinya dialokasikan sebanyak 15 ribu ton kepada badan usaha milik negara (BUMN) dan 23.200 ton kepada swasta.

Hal itu diungkapkan Menteri BUMN Rini Soemarno seusai rapat koordinasi tentang pangan di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, kemarin.

"Kita sudah jual terus daging sapi dengan harga Rp80 ribu per kilogram, tapi masih tinggi di pasaran. Makanya kita masih coba akan tambah terus," ucap Rini, kemarin.

Akan tetapi, Menteri Perdagangan Thomas Lembong yang ikut hadir dalam rapat tersebut enggan berkomentar terkait dengan rencana penambahan impor daging sapi beku.

"Ya kalau Bu Rini sudah komentari, saya tidak usah komentari lagi," cetusnya.

Dirut Perum Bulog Djarot Kusumayakti menandaskan hingga saat ini baru 2.050 ton daging beku impor yang sudah masuk ke Bulog, sedangkan jatah kuota impor daging untuk Bulog sebanyak 10 ribu ton guna meredam harga daging sapi di pasaran.

Dengan singkatnya waktu Ramadan yang tinggal tiga minggu lagi, Djarot menilai hanya akan mampu mengimpor daging beku tidak lebih dari 3.000 ton.

Seluruh daging beku tersebut berasal dari Australia.

"Sudah dekat kan Lebaran, tidak cukup waktunya (untuk impor 10 ribu ton daging beku). Paling 3.000 ton atau syukur-syukur lebih sedikit."

Kendati demikian, Djarot berharap masih bisa menekan harga daging di pasaran.

Karena itu, dia meminta para pedagang daging di pasaran juga mau membantu pemerintah untuk menurunkan harga daging sapi.

Ia mengaku Bulog sudah memperoleh untung menjual daging sapi dengan harga Rp80 ribu per kg.

Daging impor sebanyak 300 ton asal Australia dilaporkan tiba di Jakarta kemarin.

Kedatangan daging itu merupakan realisasi upaya pemerintah melalui Perum Bulog yang ingin terus menekan harga komoditas utama yang saat ini masih tinggi itu.

Berdampak sementara

Presiden Joko Widodo meminta harga daging sapi per kg selama Ramadan dan Idul Fitri berada di kisaran Rp80 ribu per kg.

Menurut Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati, hal itu hanya berdampak sementara.

"Itu reaktif, ad hoc, sebagai 'panadol' saja, tapi enggak memengaruhi apa pun dalam prioritas pemerintah," ungkapnya, kemarin. Harga daging sapi yang stabil akan terjadi dalam jangka pendek.

Kalau mau stabil seterusnya, Enny menyarankan antisipasi dilakukan jauh-jauh hari. Mulai awal tahun, paling lambat Februari, data sudah bisa diidentifikasi dan kemudian impor sapi bakalan.

Dengan demikian, harga daging sapi bisa stabil.

Di Palembang, Sumatra Selatan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengklaim harga tujuh komoditas pangan dari total sembilan bahan pokok sudah turun saat ini.

Hal itu sesuai dengan upaya yang dilakukan pemerintah mulai operasi pasar, koordinasi dengan produsen, hingga impor.

"Komoditas yang sudah turun harga di antaranya beras, daging ayam potong, minyak goreng, bawang merah, cabai merah, dan telur ayam ras," ucapnya.

Ia menjelaskan sebagian besar masyarakat mengambil persepsi bahwa pangan hanyalah daging sapi, padahal ada sembilan bahan pokok. (Ire/Pra/DW/X-7)

Komentar