Humaniora

Niat dan Mental yang Kuat, Modal Menjadi Penulis

Rabu, 18 May 2016 20:37 WIB Penulis:

Istimewa

MODAL penulis yang paling utama ialah niat untuk menulis buku. Selain itu, penulis mesti memiliki mental yang kuat agar yakin untuk tahan ketika dicaci pembaca. Namun, ketika itu bisa dilalui, karya-karya yang dibukukan berikutnya akan memiliki pasarnya tersendiri dan mengalir dengan baik.

Hal itu diungkapkan Kirana Kejora, peneliti sosial ekonomi, penulis buku laris, naskah film televisi dan film layar lebar dalam 'Aktivasi BI Corner dan Ngobrol Asyik Bareng Kirana Kejora' yang digelar Universitas Darma Persada, Rabu (18/5).

"Kunci agar buku yang telah ditulis laku adalah judul yang menarik, sampul depan yang mencuri perhatian, tagline yang mampu melekat ke benak pembaca dan sampul belakang yang berisi sinopsis singkat," ujar penulis yang berlatar Ilmu Sosial Ekonomi dari Fakultas Kelautan Perikanan Universitas Brawijaya Malang itu.

Menurut Kirana, ide penulisan dapat lahir dari hal-hal yang telah kita alami seperti perjalanan berwisata bahkan termasuk status Facebook yang dianggap sebagai hal remeh tetapi sangat mencerminkan diri kita.

"Penulis adalah pembelajar. Siapa pun yang kita temui bahkan buku yang kita baca adalah guru kita. Penulis harus menyadari dirinya adalah selalu belajar hal baru. Banyak membaca adalah modal penulis," tuturnya menjawab serbuan pertanyaan mahasiswa.

Meski demikian, Kirana mengingatkan agar penulis pemula disiplin untuk menyusun kata dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. "Menyusun kata-kata itu harus benar. Untuk itu harus rajin membaca dan menghormati bahasa yang Anda gunakan."

Sejumlah buku telah dihasilkan Kirana, antara lain novel 'Kepak Elang Merangkai Edelweis' (pada 2006), Antologi Tunggal Cerpen dan Puisi Perempuan dan Daun (2007), novel 'Elang' (2009), dan novel 'Querido' (2011).

Karya Kirana juga telah difilmkan yaitu novel 'Air Mata Terakhir Bunda' (2012) yang menjadi Best Features Film di Balinale Internasional Film Festival 2013 dan masuk nominasi Festival Film Indonesia 2013. Tahun itu juga, Kirana merilis novel 'Ayah Menyayangi Tanpa Akhir' (2013) yang laris hingga kemudian difilmkan.

Adapun karya naskah film Kirana, 'Hasduk Berpola', terpilih sebagai Film Inspiratif Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2013, Favorit Apresiasi Film Indonesia 2013, dan terpilih masuk Program Educational Screening IFF Melbourne 2015.

Tahun ini, Kirana merilis novel 'Senja Di Langit Ceko' yang didukung Perpustakaan Nasional. Butuh waktu sekitar 10 tahun untuk Kirana dalam menulis buku berlatar perjalanan hidup siswa Indonesia yang menjadi korban tragedi G30S PKI. (RO/OL-5)

Komentar