Jejak Hijau

Inovasi Pakan dari Unpad

Sabtu, 7 May 2016 07:00 WIB Penulis: Wnd/M-3

DI satu sudut laboratorium lapangan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran (FPIK Unpad), Jatinangor, Sumedang, 15 bak plastik berjejer dengan cairan berwarna hijau di dalamnya.

Sepintas cairan itu mengingatkan kita pada kolam terbengkalai yang lalu ditumbuhi tanaman pengganggu.

Nyatanya memang hampir mirip.

Kepada Media Indonesia, Rabu (20/4), Dekan FPIK Unpad Dr Iskandar

Muchtar menunjukkan tumbuhan yang memenuhi emberember itu ialah Lemna Sp yang lebih sering dianggap sebagai gulma air.

Namun, di lab itu, mereka sengaja membudidayakannya.

"Ini (Lemna) kandungan proteinnya tinggi, mencapai 20%-30%, tergantung jenis dan paparan sinar matahari. Karena itu, cocok untuk pakan ikan herbivora maupun omnivora,"

tutur Iskandar yang lantas mengambil Lemna dan memasukkannya ke kolam ikan gurami.

Sejurus kemudian, puluhan ikan muncul ke permukaan.

Mereka berkecipak riuh seraya berebut memakan tumbuhan yang juga dikenal sebagai mata itik itu.

Penelitian pemanfaatan Lemna sebagai pakan ikan memang sudah muncul sejak 70-an.

Namun, pemanfaatan dalam skala luas belum benar-benar dilakukan karena kerap terkendala kelangsungan ketersediaannya.

Iskandar menjelaskan, meski merupakan gulma, Lemna juga butuh perawatan agar berkembang biak dengan baik.

Selain harus mendapat sinar matahari yang cukup,

Lemna juga butuh bahan penyubur.

Di FPIK Unpad, tingkat pertumbuhan Lemna yang tinggi dihasilkan lewat penggunaan bio-slurry, yakni lumpur organik yang berasal dari ampas biogas.

Untuk penyediaan bio slurry, Iskandar menggandeng Rumah Energi, sebuah yayasan yang mempromosikan penggunaan biogas sebagai sumber energi lokal.

Dari penelitian yang juga dilakukan mahasiswa FPIK Unpad, didapatkan penambahan bio-slurry menghasilkan dua kali lipat pertumbuhan Lemna.

Hal ini didapatkan setelah pemberian bio-slurry pada 1 kg Lemna yang kemudian dipantau selama 16 jam.

Namun, Iskandar belum bisa mendapatkan volume terbaik untuk pemberian bio-slurry cair itu.

Sejauh ini, penelitian menggunakan campuran 2,5 mililiter bio-slurry/per liter air.

Ia berharap hasil penelitian terkait dengan dosis bioslurry, jenis ikan, serta periode pemberian pakan untuk pertumbuhan ikan terbaik sudah akan diketahui dua bulan lagi.

Pembenah tanah hingga pestisida

Organic Fertilizer Off cer Rumah Energi, Yudha Hartanto, mengemukakan selain berbentuk cair, bio-slurry juga dimanfaatkan dalam bentuk padat.

Kandungan rata-rata nitrogen bio-slurry cair diketahui lebih unggul.

Tidak hanya untuk pertumbuhan tanaman, bio-slurry juga sudah dicobakan untuk pembenahan lahan (soil conditioner), sumber pakan cacing tanah, dan untuk pestisida serta fungisida organik.

Tanah yang diberi bio-slurry akan menjadi lebih gembur serta mudah mengikat nutrisi dan air.

Lumpur ini juga bisa meningkatkan populasi dan aktivitas mikroorganisme tanah.

Di sisi lain, pemanfaatan dalam waktu lama kerap sulit karena kualitas bio-slurry yang belum stabil.

Sebab itu pula, kebanyakan bio-slurry dibiarkan begitu saja.

"Hasi survey pengguna biogas, 20% di antaranya masih membuang bio-slurry. Pertama karena tidak tahu manfaatnya, kedua ya tidak ada waktu untuk mengurusnya sehingga terbuang begitu saja. Secara kualitas, yang paling baik itu bioslurry dari unggas," kata Yudha.

Dalam proses produksi biogas, bio-slurry umumnya sudah akan muncul pada hari ke-50 hingga ke-60 setelah limbah ternak dimasukkan ke reaktor.

Meskipun kerap disebut limbah, kandungan unsur hara dari bio-slurry masih sangat tinggi dan tingkat keamanannya juga baik.

Meski begitu, jika bioslurryhendak dimanfaatkan kembali, harus dilakukan segera agar proses anaerobik yang terus terjadi pada bubuk tidak semakin menghilangkan unsur hara.

Komentar