Jejak Hijau

Embung Penyelamat Gambut

Sabtu, 30 April 2016 06:55 WIB Penulis: AR/M-3

MI/ARIES MUNANDAR

SEPOTONG ranting dicelupkan Damianus Dwi Puspo hingga menjejak ke dasar embung.

Dia ingin mengukur ketinggian air di penampungan buatannya tersebut.

Dengan melihat batas air yang membasahi ranting, Damianus memperkirakan ketinggian air pada embung saat itu ialah 2,5 meter.

Air tersebut dianggap cukup untuk cadangan saat kemarau.

Embung berukuran 4x6 meter dengan kedalaman 3 meter itu berada di lahan milik Yustinus Tugiran, orangtua Damianus.

Lokasinya di Desa Rasau Jaya II, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Damianus dibantu beberapa warga desa merampungkan pembuatan embung sekitar sebulan lalu.

"Dikerjakan bergotong royong selama 15 hari karena banyak sisa akar dan tunggul kayu sewaktu digali," ujar lelaki berusia 27 tahun itu saat ditemui di lokasi pembuatan embung, Rabu (20/4).

Sekitar 10 meter dari embung terdapat sebuah sumur bor berdiameter 3 inci.

Sumur berkedalaman sekitar 30 meter itu juga baru dibangun di lahan gambut seluas 0,5 hektare.

Air dari sumur bor juga disiapkan sebagai cadangan manakala embung mengering saat kemarau panjang.

Lahan milik Tugiran juga dikelilingi kanal alami ataupun hasil normalisasi. Kanal-kanal tersebut berisi penuh air lantaran di beberapa alurnya disekat dengan urukan gambut berturap kayu.

Sekat dirancang sedemikian rupa sehingga laju aliran air terhambat, tapi masih bisa mengalir melalui celah-celahnya.

Kanal memang sengaja disekat untuk menjaga sirkulasi air sehingga kondisi gambut tetap basah.

Debit air pada kanal setelah disekat meningkat, tapi tidak sampai meluap ke daratan di sekitarnya. Genangan di kanal tertahan sehingga aliran air terlihat seperti tidak bergerak.

"Parit (kanal) ini dahulu malah kering sama sekali, tapi setelah dibuat aliran baru dan disekat, kini menjadi berair," kata Damianus sembari menunjukkan kanal di sisi timur lahan.

Kebakaran lahan

Sekat kanal beserta embung dan sumur bor dibangun di lahan Tugiran untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kondisi gambut yang selalu basah karena kandungan airnya terjaga setelah kanal disekat diharapkan bisa melindungi lahan dari ancaman kebakaran.

Kalaupun terbakar, api bisa cepat dikendalikan karena akan tersekat oleh kanal sehingga tidak meluas ke lahan lain.

Sumber air untuk memadamkan kebakaran juga akan mudah diperoleh karena ada embung, sumur bor, dan kanal.

Desa Rasau Jaya II memang termasuk daerah rawan karhutla.

Pada tahun lalu ada sekitar 2 hektare lahan di dekat areal milik Tugiran yang terbakar.

Kebun nanas dan kelapa sawit yang baru ditanami warga pun hangus terpanggang.

Sebagian besar kebakaran lahan di wilayah itu diduga berasal dari aktivitas pembukaan dan pembersihan lahan pertanian dan perkebunan.

Lapisan gambut yang mengering saat kemarau menyebabkan api mudah membesar bahkan menjalar ke bawah permukaan lahan sehingga sulit dipadamkan.

Sumber air yang ikut mengering semakin menyulitkan upaya warga dalam memadamkan api.

Regu pemadam pun bahkan tidak bisa berbuat banyak lantaran lokasi kebakaran sulit dijangkau oleh armada mereka.

Warga Rasau Jaya II, Rustamaji, bercerita kebakaran lahan terparah di desanya terjadi pada 2006.

Ada sekitar 30 hektare lahan warga terbakar, termasuk 11 hektare kebun nanas dan kelapa sawit miliknya.

"Pada tahun lalu ada sekitar 23 hektare lahan di sini yang terbakar, terparah setelah 2006," ungkap Rustamaji yang juga mantan pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Rasau Jaya II.

Sumber penghasilan

Penyiapan berbagai fasilitas untuk mengatasi karhutla di Rasau Jaya II difasilitasi Yayasan Riak Bumi.

Ada satu embung, 6 sumur bor, dan 12 sekat kanal yang mereka fasilitasi pembangunannya di Rasau Jaya II.

Organisasi lingkungan hidup itu juga memfasilitasi kegiatan serupa di Desa Rasau Jaya III dan Desa Rasau Jaya Umum di Kecamatan Rasau Jaya, serta Desa Ambawang di Kecamatan Kubu.

"Keseluruhan ada empat embung, 15 sumor bor, dan 30 sekat kanal yang dibangun di empat desa," kata Direktur Yayasan Riak Bumi Valentinus Heri.

Seluruh fasilitas yang mulai dikerjakan pada Maret dan ditargetkan rampung pada Juni mendatang itu sebagian besar telah selesai dibangun.

Sumur bor dan sekat kanal terbanyak berlokasi di Desa Rasau Jaya II karena dianggap lebih rawan karhutla ketimbang desa lain.

Program Reduksi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+) UNDP menyokong kegiatan itu sebagai proyek percontohan penanggulangan karhutla di Indonesia.

Proyek serupa juga dilaksanakan di Riau, Jambi, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Tengah.

Pembangunan sekat kanal beserta sumber air itu diharapkan diadopsi oleh warga lain guna menanggulangi karhutla di lahan masing-masing.

"Kami juga melatih warga dan memberikan peralatan penanggulangan karhutla," kata staf Bidang Media dan Komunikasi UNDP REDD+ Indonesia Khairullah.

Program selama enam bulan itu juga memfasilitasi penghijauan dengan tanaman bernilai ekonomi.

Selain untuk mencegah kebakaran, pemanfaatan lahan tidur tersebut juga bisa menjadi sumber penghasilan warga.

Komoditas yang ditanam, di antaranya sengon, jabon, dan kopi.

"Embung ini pun akan saya manfaatkan untuk memelihara ikan," ujar Damianus.

Komentar