Kesehatan

Sayatan Kecil Atasi Kanker Usus Besar

Rabu, 13 April 2016 06:12 WIB Penulis: Eni Kartinah

Grafis/Caksono

MICHAEL, 64, sangat bersyukur dalam sebulan ini ia bisa tidur nyenyak. Sebelumnya, berbulan-bulan ia hampir tak pernah bisa tidur lelap.

“Dulu, baru mau lelap sudah terbangun lagi karena nyeri di bagian, maaf, anus. Nyerinya tajam, benar-benar enggak enak. Kalau sudah begitu saya terpaksa bangun, jalan-jalan sebentar lalu mencoba tidur lagi. Dalam semalam bisa berulang kali begitu,” tuturnya saat hadir dalam diskusi kesehatan yang diselenggarakan Rumah Sakit Pondok Indah di Jakarta, pekan lalu.

Rasa nyeri mengganggu itulah yang akhirnya mendorong Michael untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Setelah berganti-ganti dokter dan sempat dikira ambeien, dirinya dipastikan menderita kanker kolorektal. Ada tumor ganas di dekat anusnya. Menurut dokter, kankernya termasuk stadium dua.

“Akhirnya, saya dioperasi. Setelah seminggu di rumah sakit dan seminggu istirahat di rumah, saya bisa kerja lagi,” ungkapnya.

Meski kini dirinya harus buang air besar melalui stoma (lubang buatan di dinding perut), ia bersyukur bisa lepas dari deraan nyeri yang menurutnya sangat mengganggu itu. “Repotnya di awal-awal saja karena belum terbiasa, lama-lama bisa nyaman juga kok,” kata dia.

Kini, setelah pulih, Michael lebih menjaga gaya hidupnya, seperti meminimalkan konsumsi daging merah yang dulu menjadi kegemarannya, rutin berolahraga, dan meninggalkan kebiasaan merokok.

“Dulu saya termasuk perokok berat. Sehari bisa habis dua bungkus. Sekarang saya sadar, itu kebiasaan buruk yang harus ditinggalkan,” imbuhnya.

Dokter yang menangani Michael, Eko Priatno, menjelaskan gaya hidup tidak sehat memang menjadi salah satu faktor risiko kanker kolorektal. Di Indonesia, kanker itu tergolong kerap terjadi. “Nomor tiga setelah kanker serviks (leher rahim) dan kanker payudara,” ujar dokter konsultan bedah digestif itu.

Operasi, lanjut Eko, menjadi salah satu langkah utama penanganannya. Operasi dilakukan untuk membuang jaringan kanker. Berbeda dengan dulu, saat ini operasi untuk kanker kolorektal bisa dilakukan dengan teknik sayatan kecil (minimally invasive).

“Dulu pasien harus dibedah lebar, kini dengan teknik laparoskopi pembedahan dilakukan dengan peralatan yang dimasukkan ke perut melalui sayatan kecil-kecil sebesar 0,5 cm-1 cm di perut,” terang Eko.

Dengan peralatan bedah yang mencakup kamera khusus itu, dokter memotong dan membuang jaringan kanker, serta menyambung kembali usus yang terpotong. Gambar live di layar monitor memandu dokter melakukan seluruh prosedur tersebut.

“Jika dibandingkan dengan teknik pembedahan konvensional, teknik baru ini lebih menguntungkan. Selain pemulihan pasien lebih cepat, secara kosmetis juga lebih baik karena bekas operasinya kecil-kecil, jadi lebih samar,” jelas Eko.

Hasil akhirnya, kata Eko, juga sebanding. Menurutnya, dulu memang sempat ada kekhawatiran jika dengan bedah minimally invasive dokter tidak bisa melihat keseluruhan jaringan kanker dan ada jaringan yang tidak terpotong sehingga memperbesar risiko kekambuhan.

“Namun, berdasarkan penelitian, risiko pada teknik bedah konvensional dan bedah minimally invasive sama saja,” imbuh Eko.

Stoma
Pada kesempatan itu, dokter yang mendalami bedah kolorektal di Korea University Anam Hospital tersebut juga menjelaskan perihal stoma alias lubang pembuangan kotoran yang dibuat di dinding perut. Ia menuturkan banyak pasien kanker kolorektal yang ketakut­an dioperasi karena sesudahnya bakal hidup dengan stoma.

“Padahal, tidak semua pasien kanker kolorektal harus dibuat stoma. Stoma hanya untuk kasus kanker kolorektal yang lokasinya dekat anus dan untuk pasien yang sebelum operasi harus menjalani prosedur radioterapi dulu untuk mengecilkan ukuran tumornya.”

Bagi pasien yang harus dibuatkan stoma pun, tidak semuanya bersifat permanen. Stoma temporer itu akan ditutup kembali jika sambungan usus yang dipotong sudah pulih. Umumnya tiga bulan sesudah operasi.

“Stoma permanen itu hanya untuk pasien yang lokasi kankernya sangat dekat anus. Itu pun seharusnya tidak menjadi beban bagi pasien. Seperti Pak Michael, dia bisa tetap aktif meski ada stoma di perutnya,” pungkas Eko. (H-1)

Komentar