Sosok

Eka Julianto Wahjoepramono: Ahli Bedah Saraf yang Diakui Dunia

Kamis, 3 March 2016 08:00 WIB Penulis: MI/Siti Retno Wulandari

MI/SUMARYANTO

DENGAN beralas karpet, ruangan khusus saraf dan jantung di RS Siloam Karawaci, Tangerang, Banten, tersebut tak tampak seperti ruang tunggu dan konsultasi antara pasien dan dokter. Jejeran sofa empuk serta pernik-pernik lain seperti peraga bola dunia raksasa menjadi penghias ruangan.

Semua pernik-pernik itu kepunyaan si pemilik ruangan, Eka Julianto Wahjoepramono, dokter bedah saraf di RS tersebut. Semakin didekati, di bola dunia itu banyak titik timbul beserta dengan tulisan tangan nama daerah. Ternyata tempat yang diberi titik tersebut merupakan jejak perjalanan dokter asal Klaten itu saat menjadi pembicara di berbagai benua. Ya, sebagai ahli bedah saraf, kepiawaian dokter Eka memang telah diakui di mancanegara.

"Tawaran untuk bekerja di luar negeri ada, tetapi saya pikir itu bukan tujuan saya. Justru saya ingin menciptakan regenerasi sebagai penerus dokter-dokter bedah saraf yang ada sekarang di Indonesia. Indonesia harus berkibar, berani, berjuang, dan memiliki strategi," tegas dokter yang masih mengenakan setelan pakaian berwarna cokelat mirip pakaian khusus operasi itu, saat ditemui, Selasa (16/2).

Dahulu, teknologi kedokteran Indonesia memang kerap dipandang sebelah mata. Banyak warga dengan ekonomi berkecukupan pergi ke luar negeri untuk menyembuhkan keluhan penyakit mereka. Apalagi penyakit yang berhubungan dengan bedah saraf dan otak, seperti sudah menjadi prosedur tetap untuk memercayakan pengobatan pada negara tetangga. Namun, kini dokter Eka berani sesumbar bahwa orang Indonesia pun mampu melakukan berbagai tahapan pengobatan yang berhubungan dengan saraf dan otak.

Dia sudah menemukan teknologi baru operasi bedah saraf otak, yakni melalui hidung yang disebutnya dengan trans clival.

Beberapa universitas terkenal seperti Harvard University Medical School dan University of Arkansas for Medical Sciences mengundangnya sebagai pembicara dan dosen tamu. Presiden World Federation of Neurosurgical Societies XIII (Federasi Bedah Saraf Dunia), Edward R Laws yang juga profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Harvard, menilai Eka sebagai dokter luar biasa karena mempunyai ilmu membedah batang otak. Selama ini operasi batang otak tak pernah dilakukan karena berisiko mengakibatkan kematian.

Nama Eka mulai mencuat saat pertama kali menangani operasi bedah batang otak pasien bernama Ardiansyah sekitar awal 2000-an. Di batang otak pemuda itu tumbuh tumor sebesar anggur. Operasi itu sangat riskan karena batang otak merupakan 'barang keramat' lantaran fungsinya sangat penting. Salah sentuh, kata Eka, bisa membuat implikasi kejang pada orang tersebut. Ketika mengetahui tumor yang berada di bagian keramat itu pecah, Eka tak punya pilihan lain, ia mengatakan dengan jujur belum pernah melakukan operasi pada daerah tersebut, tetapi kondisi kritis si pasien harus segera dia tangani.

"Kakaknya meminta saya melakukan hal terbaik untuk adiknya dan akan membayar dengan rumah peninggalan orangtuanya di pesisir pantai. Saya terenyuh, takut, tetapi harus bergerak karena enggak mungkin dirujuk. Ketika itu, belum pernah saya dengar di kawasan Asia melakukan bedah batang otak," ujar pemilik nama kecil Tjio Tjay Kian itu sembari menunjukkan lokasi batang otak melalui alat peraga.

Sebelum memulai operasi, ia dibantu dengan satu asisten membuka-buka literatur guna mempelajari teori bedah batang otak. Ia pun berdoa agar apa yang dimulainya bisa menjadi manfaat. Perhitungannya untuk mengiris dan mengeluarkan tumor dari dalam batang otak pun diwarnai dengan pertanyaan hidup dan mati pasien tersebut. Keesokan harinya, Eka sengaja menengok sang pasien dan mendapatkannya dalam keadaan sadar.

Keberhasilan itu terekam dalam sebuah video yang kemudian ia paparkan pada konferensi kedokteran dunia di Bali. Para peserta yang merupakan tenaga medis dari berbagai negara pun takjub, tidak menyangka dokter Indonesia mampu mengatasi penyakit yang hinggap pada daerah keramat organ manusia tersebut.

Sejak saat itulah, Eka kerap diundang sebagai pembicara dan dosen tamu untuk jurusan kedokteran. Hampir setiap bulan dia tak pernah absen berbicara di luar negeri, itu pun undangan yang diterima sudah melalui proses seleksi.

"Kalau enggak diseleksi, ya habis waktuku he he he. Sekarang kami punya tim berjumlah 19 orang khusus dokter bedah ya, sering melakukan diskusi dan konsultasi melalui grup instant messaging. Harus ada standar memperlakukan pasien, dan terutama pembentukan tim untuk berbagi rasa. Beban moril melakukan pembedahan itu sangat berat, lo," ungkap bapak tiga anak itu.

Secara berkelakar, Eka berobsesi untuk membalas perlakuan Belanda yang menjajah Indonesia. Maksudnya dia ingin menjadi pemateri atau mengajari tenaga medis 'Negeri Kincir Angin'. Impiannya terwujud, beberapa kali Eka diundang ke negara tersebut untuk menjadi pembicara di berbagai kesempatan. Bulan ini, Eka mengatakan akan menjadi pembicara di Israel yang banyak dihuni orang-orang pintar dengan standardisasi tinggi dalam memilih pemateri.

Belajar dari profesor
Menurut cerita Eka, dia tertarik dengan profesi dokter saat melihat tetangga depan rumahnya yang tampak apik, bersahaja, serta dibutuhkan banyak masyarakat. Tak hanya sang dokter yang terlihat apik, tetapi juga keluarganya secara keseluruhan. Ia pun lantas memantapkan niatnya untuk menjadi seorang dokter.

Dalam perjalanannya kemudian, Eka ingin meneruskan sekolah spesialisasi dan pilihannya jatuh pada bedah saraf. "Tegas dan tindakannya jelas," begitu Eka mendeskripsikan seorang dokter bedah saraf. Dia, misalnya, harus berani memutuskan tindakan seperti memotong atau menyambung bagian yang dinyatakan terinfeksi.

Ada satu hal lagi yang harus terlatih dan dimiliki seorang ahli bedah saraf, yaitu mental baja. Mengapa? Beban moral yang besar atas keselamatan pasien ditanggung sang dokter dan menyangkut fungsi organ vital, yaitu otak. "Saya belajar berani itu dari dosen saya, Prof Iskarno (almarhum), ingin melakukan by pass otak, ya langsung dikerjakan. Keberanian itu menjadi penting karena juga menyangkut keselamatan pasien," ujarnya.

Jika keberanian ditularkan dosennya semasa kuliah di Universitas Padjadjaran, kegiatan berbagi ilmu pada masyarakat umum dan dokter di bidang serupa merupakan amanat dari seorang profesor bedah saraf di Jepang.

Saat mengambil spesialisasi, Eka sempat dikirim untuk belajar di Jepang selama tiga bulan dan delapan bulan di Jerman. Profesor Kano, ucap Eka, kerap menghubungi dirinya untuk bekerja sama dalam melakukan suatu operasi bedah saraf. Tiga tahun, Kano selalu menyambangi Eka dan selalu meninggalkan oleh-oleh berupa peralatan dokter bedah yang hingga kini masih digunakan Eka.

Kano tak pernah meminta Eka untuk membiayai ongkos transportasi dan penginapan. Ia dengan sukarela datang, mengunjungi Eka dan menularkan banyak pengetahuan terkait dengan bedah saraf. Hingga di akhir kesempatan, Kano meminta kepada Eka agar membantu calon dokter lainnya dan tidak boleh pelit berbagi ilmu.

"Eka, sudah ya, kamu jangan minta apa-apa lagi. Sekarang waktunya kamu membantu yang lain, jangan egois," tukas Eka menirukan pernyataan sang profesor yang hingga hari ini belum mau memenuhi permintaan Eka untuk sekadar berkunjung ke Indonesia. (M-4)

Komentar