Sosok

Berharap Obrolan Seks tidak lagi Tabu

Senin, 29 February 2016 00:00 WIB Penulis: Jessica Sihite

Ilustrasi

OBROLAN tentang seks masih dianggap tabu untuk sebagian kalangan di Indonesia.

Seks sering kali dianggap hal pribadi yang kurang sopan untuk diperbincangkan dengan kerabat atau keluarga.

Pandangan tersebut menjadi tantangan bagi Ratanjit Das saat mengemban tugas menjadi Presiden Direktur Reckitt Benckiser Indonesia (RB Indonesia).

RB Indonesia merupakan perusahaan consumer goods untuk produk kesehatan dan kebersihan.

Kondom merek Durex barangkali salah satu produk RB yang paling populer di Tanah Air.

Namun, perusahaan tersebut juga memayungi produk-produk lain, seperti Dettol, Strepsils, Scholl, Veet, dan Vanish.

Media Indonesia pun sedikit berdikusi dengan Ratan, panggilan akrabnya, tentang seks yang aman dan pandangannya tentang kesadaran masyarakat.

Dalam balutan jas abu-abu tua, ia mengemukakan masyarakat Indonesia masih seolah tabu ngobrol soal seks, termasuk tentang seks yang aman, gejala penyakit menular seksual, dan hal lain yang terkait.

Padahal, seks merupakan kebutuhan dasar manusia, layaknya makan dan minum.

"Berbicara soal seks yang aman belum jadi percakapan biasa di sini," komentarnya dalam perbincangan di Gedung Artha Graha, Jakarta, medio Februari ini.

Padahal, lanjutnya, semakin sering masyarakat berdiskusi tentang seks, pemahaman atau kesadaran akan bahaya dari hubungan intim yang tidak aman, alias tanpa kondom, akan meningkat.

Perilaku seks tidak aman dianggapnya jadi salah satu faktor yang bakal menambah jumlah korban pengidap virus HIV/AIDS di Indonesia.

Karena itu, menjadi bos produk kondom nomor satu di dunia merupakan tanggung jawab besar bagi Ratan.

Dia mengatakan ia ingin masyarakat Indonesia hidup sesuai slogan perusahaannya, yakni health, hygiene, dan home.

"Saya merasa punya tanggung jawab yang besar dan kami bekerja agar masyarakat hidup bisa lebih sehat dan mendapatkan kehidupan di rumah yang lebih bahagia," tutur Ratan yang telah memimpin RB Indonesia selama 7 tahun.

Dalam dua tahun terakhir, ungkapnya, Durex memperlihatkan kinerja postif.

Hal itu ia nilai salah satunya sebagai cerminan dari kesadaran masyarakat Indonesia yang semakin baik.

Namun, ia mengakui hal tersebut bukan berarti proses edukasi selesai begitu saja.

Penyuka nasi goreng ini sadar mendidik masyarakat tidak bisa sekadar dengan berjualan kondom.

Ratan mengatakan pihaknya telah berkolaborasi dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk mengedukasi pasangan suami istri soal program keluarga berencana.

Tahun lalu, Durex menggelar kampanye global #Condomemoji yang menyerukan emoji seks aman dan emoji kondom.

Bukan tanpa sebab Indonesia masuk bagian dari kampanye global itu.

Ratan menyebut jumlah pengidap HIV di Indonesia meningkat 52% selama 5 tahun terakhir.

Oleh karena itu, kampanye untuk memacu kesadaran atas seks yang aman sudah sepatutnya digencarkan.

Ia mengklaim kampanye #Condomemoji bukan untuk mendongkrak penjualan Durex, melainkan untuk menciptakan kesadaran publik yang lebih baik.

"Tanggung jawab brand kami ialah menciptakan kesadaran dan mengedukasi masyarakat. Di situ kami juga berharap semakin banyak tercipta diskusi soal safe sex," papar Ratan.

Ia mencatat pada 1 Desember 2015, video kampanye yang diadakan di 140 negara itu telah ditonton sebanyak 16 juta kali di seluruh dunia.

Kampanye tersebut disebarkan atau diunggah di media sosial lebih dari 700 ribu kali.

Artinya, imbuh Ratan, setiap 3 detik sejak kampanye dirilis pada 18 November 2015, seseorang menunjukkan dukungannya.

"Di Indonesia, animo yang didapat mencapai 1,5 juta kali, yang berarti 10% dari keterlibatan kampanye itu berasal dari sini," ungkapnya.

Sang ayah

Tidak sedikit orang-orang yang mengidolakan orangtua mereka sebagai panutan dalam hidup.

Ratan ialah salah satunya. Pria berkacamata ini mengaku sangat mengagumi ayahnya.

Banyak guru yang menjadi inspirasi dalam hidupnya, kata Ratan.

Namun, sang ayah lah yang berperan paling besar dalam membentuk karakternya saat ini.

"Ayah saya seorang yang mandiri dan kuat menghadapi segala kesulitan. Banyak pelajaran dan nilai yang diajarkan dia sepanjang hidup saya, sehingga itu membentuk pribadi saya dan menjadikan saya seperti saat ini," ucap Ratan dengan manis.

Umpama, ayahnya mengajari Ratan bahwa untuk menjadi sukses, seseorang harus punya mental juara, pun tidak pernah mengatakan tidak.

Kemudian, bukan saja seorang pekerja keras, sang ayah disebutnya memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaan dan amat berjiwa sosial. Hal-hal itu yang dicoba ditiru Ratan.

"Saya jadi ingin bisa berkontribusi kepada masyarakat, membantu dan mendorong mereka hidup dengan nyaman," tuturnya.

Karena sang ayah pula, ia mengaku menjadi sosok family man.

Di waktu luangnya, Ratan lebih senang berkumpul dengan keluarga kecilnya.

Bersama istri dan dua anak lelakinya, Ratan acap plesiran keliling Indonesia atau mancanegara.

Namun, sekadar berkumpul untuk mendengarkan musik bersama pun tidak jarang mereka lakoni.

"Saya lebih senang menghabiskan waktu dengan keluarga saya. Kalau tidak bisa, baru saya bermain golf dengan teman-teman saya," ujarnya dengan senyum merekah.

Bahagia

Selama berbincang dengan Media Indonesia, tidak sedikit kata 'bahagia' terlontar dari Ratan.

Selidik punya selidik, ia mengamini punya falsafah soal kebahagiaan.

Menurutnya, kebahagiaan harus selalu ada dalam menjalani roda kehidupan, apa pun keadaan yang dialami.

Ratan meyakini, dengan hidup secara bahagia, manusia bisa meraih kesuksesan.

Begitupun sebaliknya.

Kesuksesan dan kebahagiaan akan berjalan beriringan dalam hidup seseorang.

"Sukses adalah mendapatkan apa yang Anda inginkan dan kebahagiaan adalah menginginkan apa yang Anda dapatkan. Saya terus mengejar keduanya," tutur pria yang senang mendengarkan musik ini.

Boleh jadi nilai kebahagiaan itu yang membuatnya betah bekerja dengan Reckitt Banckiser hingga 14 tahun, sebab perusahaannya itu punya visi menciptakan kehidupan yang lebih sehat dan rumah yang lebih bahagia.

Tentu saja Ratan pun ingin orang-orang yang bekerja denganya merasa hal serupa.

Orang-orang Indonesia, nilai dia, sangat bersemangat dalam bekerja, ramah, saling menolong, dan sangat berdedikasi.

Ia berharap ia bisa terus menciptakan kegembiraan dengan seluruh kolega dan rekan kerjanya, sehingga perusahaannya akan terus berkembang di masa depan.

"Saya percaya hanya dengan ketika Anda bahagia, Anda bisa berkontribusi, berkreasi, berinovasi, dan menjadi sukses. Itu semua akan kembali membawa semakin banyak kebahagiaan," tutup Ratan. (E-2)

Komentar